Oct 05, 2026
Bisnis

Dua Sisi Ekspansi UMKM ke Pasar Global

Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per Desember 2024, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi salah satu pilar terpenting bagi perekonomian Indonesia. Berdasarkan catatan BPS...

Dua Sisi Ekspansi UMKM ke Pasar Global

Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per Desember 2024, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi salah satu pilar terpenting bagi perekonomian Indonesia. Berdasarkan catatan BPS, UMKM berkontribusi terhadap 61,07% dari Produk Domestik Bruto (PDB, nilai seluruh barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara) Indonesia pada tahun 2023, serta mampu menyerap 97,02% dari total tenaga kerja nasional. Angka ini menunjukkan bahwa fundamental (kekuatan dasar perekonomian, seperti produksi, konsumsi dan lapangan kerja) dari sektor riil masih bertumpu pada usaha berskala kecil. Meskipun demikian, kontribusi UMKM terhadap total ekspor (barang yang dijual ke luar negeri) Indonesia masih terbilang terbatas, yaitu hanya 14,37% pada tahun 2023. Kesenjangan ini menjadi salah satu alasan mengapa upaya untuk mendorong ekspansi UMKM ke pasar internasional kian mendapatkan perhatian, khususnya melalui peningkatan akses terhadap pembiayaan formal.

Peran Pembiayaan Terhadap Daya Saing UMKM

Di satu sisi, akses terhadap pembiayaan formal dapat menjadi katalis bagi UMKM untuk meningkatkan daya saingnya di kancah global. Berdasarkan data Bank Indonesia per November 2024, kredit UMKM (pinjaman yang diberikan bank kepada UMKM) mengalami kenaikan year-on-year (dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya) sebesar 11,85%, dengan nilai outstanding (jumlah pinjaman yang masih beredar) mencapai Rp1.375,8 triliun. Peningkatan ini turut disertai dengan perbaikan rasio (perbandingan antara dua angka untuk menilai kinerja) Non-Performing Loan (NPL, rasio kredit bermasalah terhadap total kredit) UMKM yang berada pada level 3,07%, jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan oleh otoritas. Peningkatan likuiditas (kemampuan suatu entitas untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya) ini memungkinkan pelaku usaha untuk melakukan pembelian bahan baku dalam jumlah besar, memenuhi standar sertifikasi ekspor, hingga membiayai biaya logistik yang kerap menjadi hambatan bagi produk-produk asal daerah, seperti produk kuliner dari Sumatera Utara, untuk menembus pasar luar negeri. Fenomena ini juga turut berdampak terhadap valuasi (penilaian atas nilai suatu aset atau usaha) dari usaha tersebut, yang berpotensi meningkat seiring dengan perluasan jangkauan pasar.

Studi kasus seperti Quinn Kitchen, sebuah UMKM kuliner asal Sumatera Utara, dapat dilihat sebagai ilustrasi dari tren (pergerakan data atau kondisi secara berkelanjutan) ini. Perluasan pasar ke luar negeri tidak hanya berdampak pada omzet pelaku usaha, namun juga dapat menciptakan efek berganda (multiplier effect, dampak beruntun terhadap sektor lain) bagi rantai pasok lokal. Hal ini berpotensi memperkuat sentimen pasar (persepsi kolektif pelaku pasar terhadap suatu kondisi ekonomi) terhadap sektor UMKM, khususnya apabila hal tersebut diiringi dengan peningkatan indeks (ukuran statistik yang menggambarkan perubahan suatu variabel) kinerja ekspor daerah.

"Pemberdayaan UMKM tidak cukup hanya melalui akses kredit, namun harus diimbangi dengan penguatan kapasitas, literasi keuangan dan jaminan keberlanjutan agar dampaknya tidak bersifat sesaat." - Analis Ekonomi Senior, Beritadua.

Hambatan yang Masih Dihadapi

Di sisi lain, perluasan skala usaha melalui pembiayaan tidak terlepas dari berbagai tantangan. Berdasarkan data OJK per Desember 2024, indeks literasi keuangan (kemampuan masyarakat untuk memahami dan menggunakan produk keuangan) nasional masih berada pada angka 65,43%, sedangkan indeks inklusi keuangan (akses masyarakat terhadap layanan keuangan) mencapai 75,02%. Meskipun telah mengalami kenaikan year-on-year, kesenjangan ini masih cukup besar, khususnya bagi pelaku UMKM yang berada di daerah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal). Tanpa pemahaman yang memadai terkait rasio utang terhadap pendapatan, biaya bunga dan kewajiban pelaporan, peningkatan likuiditas berpotensi berubah menjadi beban keuangan yang justru dapat menekan fundamental usaha.

Selain itu, dari sisi makroekonomi, proyeksi (perkiraan atas kondisi ekonomi di masa mendatang) pertumbuhan ekonomi global masih dibayangi oleh ketidakpastian. Berdasarkan proyeksi Bank Indonesia dan IMF per Oktober 2024, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan berada di kisaran 3,2% untuk tahun 2024, mengalami penurunan dari tahun 2023 yang sebesar 3,3%. Ketidakpastian ini dapat memicu capital outflow (perpindahan modal ke luar negeri) dari pasar negara berkembang, yang pada gilirannya dapat menekan nilai tukar rupiah dan meningkatkan biaya impor bahan baku. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi sentimen pasar domestik, serta dapat membatasi ruang bagi bank untuk menambah portofolio (kumpulan aset yang dimiliki) kredit UMKM tanpa menambah risiko. Bagi UMKM yang baru menembus pasar internasional, fluktuasi (perubahan naik-turun) nilai tukar ini dapat langsung memengaruhi daya saing harga produk mereka.

Implikasi Jangka Panjang Bagi Perekonomian

Dari sudut pandang jangka panjang, keberhasilan ekspansi UMKM ke pasar global dapat memberikan kontribusi positif terhadap neraca perdagangan (selisih antara ekspor dan impor) Indonesia. Berdasarkan data BPS per November 2024, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus (kelebihan ekspor atas impor) sebesar USD4,42 miliar, yang sebagian di antaranya ditopang oleh peningkatan ekspor barang manufaktur dan produk olahan. Apabila tren ini dapat diperluas ke lebih banyak UMKM, maka diversifikasi (penganekaragaman) basis ekspor dapat mengurangi ketergantungan terhadap komoditas tertentu, sehingga memperkuat fundamental perekonomian secara berkesinambungan.

Namun, perlu diingat bahwa pencapaian tersebut tidak dapat hanya bergantung pada satu instrumen kebijakan. Di satu sisi, perluasan akses pembiayaan perlu diimbangi dengan penguatan ekosistem pendukung, seperti pelatihan ekspor, standarisasi produk, digitalisasi pemasaran dan percepatan logistik. Di sisi lain, stabilitas makroekonomi, termasuk pengelolaan inflasi (kenaikan harga barang dan jasa secara umum), suku bunga acuan dan nilai tukar, tetap menjadi prasyarat agar usaha yang telah melakukan ekspansi tidak kembali tertekan. Tanpa keseimbangan ini, potensi capital outflow maupun tekanan eksternal dapat dengan cepat mengikis keuntungan yang telah diperoleh, khususnya bagi usaha berskala mikro yang memiliki rasio cadangan modal yang relatif terbatas.

Dengan demikian, kisah ekspansi UMKM ke pasar internasional bukanlah sekedar pencapaian individu, melainkan cerminan dari interaksi antara akses pembiayaan, kapasitas pelaku usaha dan kondisi makroekonomi. Apabila ketiga aspek ini dapat bergerak secara seimbang, maka proyeksi terhadap peningkatan kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional dapat menjadi lebih realistis. Namun, tanpa kehati-hatian dalam pengelolaan risiko, tren positif yang tengah terjadi berpotensi terhambat oleh sentimen pasar yang berbalik, sehingga diperlukan upaya berkelanjutan untuk menjaga agar dampak yang tercipta dapat bertahan dalam jangka panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User