Oct 12, 2026
Bisnis

Dua Insiden Pesawat Asing Hampir Jatuh Akibat Abu Vulkanik Indonesia

Berdasarkan catatan historis penerbangan internasional, wilayah udara Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik menyimpan risiko tinggi bagi keselamatan penerbangan. Setidaknya dua insiden s...

Dua Insiden Pesawat Asing Hampir Jatuh Akibat Abu Vulkanik Indonesia

Berdasarkan catatan historis penerbangan internasional, wilayah udara Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik menyimpan risiko tinggi bagi keselamatan penerbangan. Setidaknya dua insiden serius pernah tercatat di mana pesawat asing mengalami kondisi nyaris jatuh setelah melintasi gumpalan abu vulkanik dari letusan gunung berapi di Nusantara. Peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi industri aviasi global mengenai bahaya abu vulkanik yang tidak selalu terdeteksi radar cuaca konvensional.

Insiden Pertama: Ketika Empat Mesin Mati Mendadak

Insiden paling fenomenal terjadi pada Juni 1982 ketika sebuah pesawat British Airways Boeing 747 terbang dari Kuala Lumpur menuju Perth. Pesawat melintasi ruang udara di selatan Jawa yang ternyata terkontaminasi abu dari letusan Gunung Galunggung di Tasikmalaya, Jawa Barat. Berdasarkan laporan investigasi, seluruh empat mesin pesawat mengalami mati mendadak atau flame out total pada ketinggian sekitar 37.000 kaki atau setara 11.300 meter.

Kapten penerbangan saat itu, Eric Moody, mengumumkan kepada penumpang dengan kalimat legendaris bahwa seluruh mesin berhenti bekerja dan kru berusaha semaksimal mungkin. Abu vulkanik yang bersifat abrasif dan mengandung partikel kaca halus menyumbat saluran udara mesin, menyebabkan suhu pembakaran melonjak dan mesin padam. Di satu sisi, kejadian ini menunjukkan kerentanan teknologi penerbangan terhadap fenomena alam. Di sisi lain, kru berhasil melakukan manuver gliding atau meluncur tanpa tenaga selama belasan menit hingga akhirnya berhasil menyalakan kembali mesin setelah keluar dari gumpalan abu. Pesawat akhirnya mendarat darurat di Jakarta dengan selamat tanpa korban jiwa.

Abu vulkanik adalah salah satu ancaman paling berbahaya bagi penerbangan karena tidak terdeteksi radar konvensional dan dapat mematikan mesin secara simultan, ujar seorang investigator penerbangan dalam laporan resmi.

Insiden Kedua: Pendaratan Darurat di Bandara Internasional

Peristiwa serupa terjadi pada Desember 1989 ketika sebuah pesawat KLM Boeing 747-400 dalam penerbangan dari Amsterdam menuju Tokyo melintasi ruang udara Alaska. Namun yang membedakan, insiden ini terkait letusan Gunung Redoubt yang menyemburkan abu hingga ketinggian jelajah. Seluruh empat mesin pesawat juga mengalami flame out dan pesawat kehilangan daya angkat signifikan. Kru berhasil menurunkan ketinggian dan menyalakan kembali mesin setelah melewati zona abu. Pesawat mendarat darurat di Anchorage dengan kerusakan parah pada badan pesawat dan mesin.

Berdasarkan data industri aviasi, kerugian akibat insiden abu vulkanik secara global diperkirakan mencapai ratusan juta dolar AS per tahun, mencakup biaya perbaikan mesin, pembatalan penerbangan, dan pengalihan rute. Indeks keselamatan penerbangan menunjukkan bahwa setelah dua dekade terakhir, sistem pemantauan abu vulkanik atau Volcanic Ash Advisory Center telah mengalami peningkatan signifikan. Pro sedangkan kesiapsiagaan ini meningkat. Kontra, masih terdapat celah koordinasi antarnegara dalam pertukaran data letusan gunung berapi yang cepat.

Respons Regulasi dan Proyeksi Ke Depan

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG, Indonesia memiliki sekitar 127 gunung berapi aktif yang tersebar dari Sumatra hingga Papua. Rasio letusan signifikan setiap tahunnya mencapai belasan kejadian dengan ketinggian asap bervariasi antara 1.000 hingga 15.000 meter. Otoritas penerbangan sipil Indonesia melalui Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara telah menerapkan prosedur Notam atau Notice to Airman sebagai peringatan dini bagi pilot.

Di satu sisi, peningkatan teknologi pemantauan satelit dan model dispersi abu membuat proyeksi jalur abu vulkanik semakin akurat hingga tingkat likuiditas data yang tinggi. Di sisi lain, tantangan tetap ada ketika gunung meletus secara eksplosif tanpa peringatan panjang, menciptakan sentimen pasar yang negatif bagi maskapai penerbangan di kawasan. Portofolio risiko penerbangan di Indonesia masih menempati peringkat tinggi dalam valuasi asuransi aviasi global.

Ke depan, fundamental keselamatan penerbangan nasional bergantung pada investasi sistem peringatan dini, pelatihan kru menghadapi skenario abu vulkanik, dan kerja sama internasional yang berkelanjutan. Tanpa itu, sejarah kelam dua pesawat asing nyaris jatuh akibat abu vulkanik Indonesia bisa terulang dengan konsekuensi yang lebih fatal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User