Dua Hari Sebelum Wafat, Rachmat Gobel Sempat Diskusi dengan Mendag
Kepergian mantan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menyisakan duka mendalam bagi keluarga besar Kementerian Perdagangan. Tokoh nasional yang juga pendiri Panasonic Gobel Group itu mengembuskan napas t...
Kepergian mantan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menyisakan duka mendalam bagi keluarga besar Kementerian Perdagangan. Tokoh nasional yang juga pendiri Panasonic Gobel Group itu mengembuskan napas terakhir setelah sebelumnya masih terlihat aktif berdiskusi dengan Menteri Perdagangan Budi Santoso. Pertemuan itu terjadi hanya berselang dua hari sebelum wafatnya, menunjukkan betapa besar komitmen almarhum terhadap kemajuan sektor perdagangan Indonesia hingga akhir hayatnya.
Mendag Budi Santoso menyampaikan kabar duka itu dengan nada sedih saat dikonfirmasi. Ia mengaku tidak menyangka pertemuan singkat mereka menjadi yang terakhir. "Saya masih ingat betul, beliau datang dengan semangat tinggi, menyampaikan berbagai gagasan, dan seperti biasa sangat memperhatikan siapa pun yang ada di sekitarnya," ungkap Budi, mengenang sosok Rachmat Gobel yang dinilainya sebagai pemimpin rendah hati dan peduli terhadap pegawai.
Kenangan Pertemuan Dua Hari Sebelum Wafat
Pertemuan yang berlangsung di Kantor Kementerian Perdagangan itu semula dijadwalkan sebagai silaturahmi biasa. Namun, pembicaraan berkembang menjadi diskusi hangat seputar dinamika perdagangan nasional. Rachmat Gobel yang menjabat Mendag pada periode 2014–2015 masih menyimpan kepedulian tinggi terhadap kebijakan perdagangan, terutama yang menyangkut penguatan industri dalam negeri dan perluasan ekspor.
Sejumlah saksi mata menuturkan, mantan wakil ketua DPR itu terlihat segar bugar dan penuh antusiasme. Tidak ada tanda-tanda fisik yang mengkhawatirkan. "Beliau bahkan sempat bercanda dengan staf," ungkap seorang pejabat eselon I yang hadir dalam pertemuan tersebut. Hal itulah yang membuat kabar wafatnya begitu mengejutkan banyak pihak.
Fokus Pembicaraan: Isu Perdagangan dan Industri
Tidak banyak yang tahu bahwa dalam pertemuan itu, Rachmat Gobel dan Budi Santoso membahas sejumlah isu strategis. Salah satu topik utama adalah upaya mendorong ekspor produk manufaktur bernilai tambah tinggi. Rachmat, yang memiliki pengalaman panjang mengelola industri elektronik, berbagi pandangan tentang pentingnya penguasaan teknologi agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar bagi produk asing.
Diskusi juga menyinggung perihal neraca perdagangan yang dalam beberapa bulan terakhir kembali mencatat surplus, tetapi masih didominasi komoditas mentah. "Pak Gobel menekankan bahwa surplus itu harus berkualitas, jangan hanya dari batu bara dan sawit, tetapi dari produk-produk yang menyerap tenaga kerja terampil," ujar seorang sumber yang mengetahui isi pertemuan. Keduanya juga sempat bertukar pikiran mengenai strategi menghadapi proteksionisme global yang semakin menguat, termasuk kebijakan tarif yang diterapkan negara-negara maju terhadap barang ekspor Indonesia.
Lebih dari sekadar data makro, Rachmat Gobel menitipkan pesan agar Kementerian Perdagangan tidak melupakan pelaku usaha kecil. Ia mengingatkan bahwa keberpihakan kepada UMKM harus tetap menjadi roh dari setiap kebijakan perdagangan. Menurutnya, digitalisasi pasar tradisional dan akses permodalan ekspor bagi pengusaha kecil adalah kunci pemerataan ekonomi.
Jejak Pengabdian dan Warisan Kebijakan
Nama Rachmat Gobel tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang pengembangan industri di Indonesia. Sebelum menjabat sebagai menteri, ia memimpin Panasonic Gobel Group, perusahaan elektronik yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia sejak era 1970-an. Warisan terbesarnya adalah upaya membangun ekosistem manufaktur lokal melalui kemitraan dengan perusahaan multinasional Jepang.
Selama masa jabatannya yang singkat sebagai Mendag, ia meninggalkan sejumlah kebijakan penting. Di antaranya adalah penguatan pengawasan barang beredar, perlindungan konsumen, serta mendorong transparansi harga kebutuhan pokok. Gaya kepemimpinannya yang merangkul menjadi ciri khas yang dikenang para pegawai. "Beliau sering turun langsung ke pasar, berdialog dengan pedagang, dan memastikan kebijakan tidak menyulitkan rakyat kecil," kenang seorang staf senior di Kemendag.
Ucapan Duka dan Penghormatan dari Berbagai Pihak
Wafatnya Rachmat Gobel tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga dan Kemendag, tetapi juga bagi dunia politik dan bisnis. Sejumlah tokoh menyampaikan penghormatan melalui media sosial dan pernyataan resmi. Mendag Budi Santoso secara khusus menyampaikan belasungkawa terdalam. "Kami kehilangan seorang negarawan yang pemikirannya jauh melampaui zaman. Semoga amal ibadah beliau diterima dan keluarga diberikan ketabahan," ucapnya.
Kementerian Perdagangan mengibarkan bendera setengah tiang sebagai bentuk penghormatan. Para pegawai yang pernah bekerja di era kepemimpinannya berkumpul untuk mendoakan. Banyak di antara mereka yang masih mengingat kebiasaan Rachmat Gobel menyapa setiap pegawai, mulai dari cleaning service hingga pejabat tinggi, dengan keramahan yang sama.
Refleksi tentang Dedikasi Tanpa Batas
Peristiwa pertemuan dua hari sebelum wafat menjadi pengingat bahwa Rachmat Gobel adalah sosok yang tidak pernah berhenti memikirkan kemajuan bangsanya. Bahkan di saat-saat terakhir, pikirannya terarah pada isu-isu besar yang menentukan masa depan ekonomi Indonesia. Dedikasi semacam ini menjadi teladan bagi generasi penerus, baik di pemerintahan maupun dunia usaha. Meski kini telah tiada, gagasan dan semangat yang ia wariskan akan terus hidup, menginspirasi kebijakan perdagangan yang inklusif dan berpihak pada kemandirian industri nasional.
Kini, panggung kebijakan perdagangan telah kehilangan salah satu suara visionernya. Namun, percakapan terakhirnya dengan Mendag Budi Santoso menjadi pesan tegas: perjuangan mengangkat daya saing produk Indonesia di kancah dunia harus terus dilanjutkan, tanpa mengenal lelah, persis seperti yang dicontohkan Rachmat Gobel hingga detik-detik terakhir pengabdiannya.
Baca juga:
Comments (0)