Dipuji Prabowo, Bahlil Merendah: Menimbang Fundamental Kinerja Sektor ESDM

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian ESDM per kuartal II-2025, sektor energi dan sumber daya mineral masih menjadi tulang punggung penerimaan negara dengan kontribusi penerimaa...

Aug 09, 2026 - 15:47
0 0
Dipuji Prabowo, Bahlil Merendah: Menimbang Fundamental Kinerja Sektor ESDM

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian ESDM per kuartal II-2025, sektor energi dan sumber daya mineral masih menjadi tulang punggung penerimaan negara dengan kontribusi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang secara tren berada di kisaran Rp 200 triliun per tahun, sementara produksi minyak nasional bergerak di level sekitar 600 ribu barel per hari, masih di bawah asumsi APBN sebesar 625 ribu barel per hari. Di tengah peta fundamental tersebut, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menunjukkan sikap rendah hati setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan penilaian positif atas kinerja jajaran kabinetnya, termasuk kementerian yang dikomandoi Bahlil.

Alih-alih berbangga diri, Bahlil menilai apresiasi dari Kepala Negara justru menambah beban tanggung jawab. Ia menegaskan bahwa kepuasan presiden harus dibalas dengan bukti kerja, bukan retorika. Sikap ini mencerminkan kesadaran bahwa tantangan sektor energi nasional masih menumpuk, mulai dari ketergantungan impor hingga lambannya transisi energi.

"Pujian bukan garis finis. Kami harus menjawab kepercayaan itu dengan kerja nyata, karena pekerjaan rumah di sektor energi masih sangat panjang," kata Bahlil.

Kinerja ESDM dalam Angka: Apa yang Mendasari Apresiasi?

Di satu sisi, sejumlah indikator memang menunjukkan perbaikan. Harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi relatif stabil sepanjang 2024 hingga paruh pertama 2025, ikut menjaga inflasi terkendali di kisaran 2 persen year-on-year. Program mandatori biodiesel B35 berjalan penuh dan implementasi B40 mulai direalisasikan pada 2025, yang menurut perhitungan pemerintah berpotensi menghemat devisa impor solar hingga miliaran dolar Amerika Serikat per tahun.

Dari sisi investasi, realisasi penanaman modal di sektor ESDM pada 2024 tercatat menembus lebih dari USD 30 miliar, mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya. Hilirisasi mineral, khususnya nikel, juga mengerek nilai tambah ekspor dari yang semula didominasi komoditas mentah menjadi produk olahan bernilai puluhan miliar dolar. Rasio elektrifikasi nasional pun mendekati 100 persen, sebuah capaian infrastruktur yang menopang aktivitas ekonomi hingga pelosok daerah.

Sisi Lain: Pekerjaan Rumah yang Belum Tuntas

Di sisi lain, apresiasi politik tidak serta-merta mengubah fundamental struktural. Lifting migas masih stagnan dan berada di bawah target APBN, padahal pemerintah mencanangkan ambisi produksi 1 juta barel per hari dalam jangka menengah. Bauran energi baru terbarukan (EBT) baru mencapai sekitar 14 persen, tertinggal jauh dari target 23 persen pada 2025. Ketergantungan impor juga belum terurai: sekitar 70 persen kebutuhan LPG nasional masih dipasok dari luar negeri, sehingga defisit neraca perdagangan migas terus menekan devisa.

Sentimen pasar sempat terganggu oleh persoalan tata kelola BBM yang mencuat pada awal 2025, yang memicu pertanyaan publik mengenai pengawasan rantai pasok energi. Bagi investor, isu tata kelola semacam ini berpengaruh langsung terhadap persepsi risiko, indeks kepercayaan pasar, valuasi aset energi, dan potensi capital outflow jika kepercayaan tidak segera dipulihkan. Likuiditas serta minat portofolio asing pada instrumen terkait komoditas sangat sensitif terhadap kredibilitas kebijakan.

Proyeksi: Antara Hilirisasi dan Transisi Energi

Ke depan, proyeksi kinerja sektor ESDM akan ditentukan tiga hal. Pertama, keberhasilan memacu lifting melalui investasi hulu dan teknologi peningkatan perolehan minyak (enhanced oil recovery). Kedua, konsistensi hilirisasi dari sekadar nikel menuju mineral kritis lain seperti tembaga, bauksit, dan timah. Ketiga, kecepatan transisi energi, termasuk penarikan pendanaan iklim internasional senilai USD 20 miliar melalui skema Just Energy Transition Partnership (JETP) yang realisasinya masih lambat.

Pro: stabilitas harga energi domestik dan arus investasi hilirisasi memberi bantalan bagi pertumbuhan ekonomi yang pada kuartal I-2025 tercatat 4,87 persen year-on-year. Kontra: tanpa terobosan produksi dan perbaikan tata kelola, defisit migas serta beban subsidi energi yang mencapai ratusan triliun rupiah per tahun akan terus menggerogoti ruang fiskal.

Pada akhirnya, pujian presiden adalah modal politik, bukan pengganti kinerja. Sebagaimana ditekankan Bahlil sendiri, jawaban yang kredibel hanya bisa dibuktikan lewat angka: lifting yang naik, impor yang turun, dan bauran energi bersih yang benar-benar bergerak. Pasar, investor, dan publik pada akhirnya menilai dari hasil, bukan dari apresiasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User