Berdasarkan data Kementerian Perhubungan dan Badan Pusat Statistik (BPS) per Oktober 2024, pembangunan infrastruktur transportasi udara masih menjadi salah satu prioritas nasional untuk mendorong pemerataan ekonomi di luar Pulau Jawa. Salah satu proyek yang menjadi sorotan dalam beberapa tahun terakhir adalah Bandara Dhoho yang berlokasi di Kediri, Jawa Timur. Bandara ini dibangun dengan tujuan untuk membuka aksesibilitas wilayah Kediri Raya, serta mengurangi beban Bandara Internasional Juanda yang selama ini menjadi pintu masuk utama di Jawa Timur. Namun, hingga saat ini, pemanfaatan bandara tersebut masih jauh dari target yang diharapkan, sehingga menimbulkan perdebatan mengenai efektivitas investasi infrastruktur tersebut.
Pro: Potensi Ekonomi Jangka Panjang
Di satu sisi, pembangunan Bandara Dhoho memiliki fundamental yang kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi regional. Berdasarkan data BPS Provinsi Jawa Timur tahun 2023, Kabupaten Kediri dan sekitarnya memiliki Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang tumbuh sebesar 5,21% year-on-year, di atas rata-rata nasional yang berada di angka 5,05%. Pertumbuhan ini didorong oleh sektor pertanian, industri pengolahan, serta perdagangan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut melalui konektivitas udara.
Selain itu, keberadaan bandara dapat membuka akses pasar bagi produk unggulan daerah, seperti gula, tembakau, serta hasil olahan makanan. Hal ini berpotensi meningkatkan nilai ekspor daerah dan mendorong terbentuknya sentimen pasar yang positif terhadap prospek investasi di Kediri Raya. Dari sisi pariwisata, Kediri juga memiliki destinasi bersejarah yang dapat menarik wisatawan domestik maupun mancanegara apabila aksesibilitas semakin memadai. Dengan demikian, dalam jangka panjang, bandara ini dapat berperan sebagai katalisator untuk meningkatkan pendapatan daerah dan menciptakan lapangan kerja baru.
Kontra: Rendahnya Permintaan Saat Ini
Di sisi lain, realisasi trafik penerbangan di Bandara Dhoho masih belum sesuai dengan proyeksi awal. Rendahnya okupansi penumpang dan frekuensi penerbangan menjadi indikator bahwa demand atau permintaan saat ini masih terbatas. Kondisi ini berdampak langsung terhadap rasio utilisasi aset bandara, yang merupakan salah satu tolok ukur penting dalam menilai valuasi sebuah proyek infrastruktur.
Faktor geografis turut berperan dalam kondisi ini. Kediri masih berada dalam jangkauan yang relatif dekat dengan Bandara Juanda, Surabaya, yang telah memiliki jaringan rute domestik dan internasional yang jauh lebih luas. Selain itu, dari sisi biaya, tidak semua maskapai penerbangan merasa efisien untuk membuka rute baru apabila potensi penumpang belum terukur dengan jelas. Hal ini dapat memicu capital outflow dalam bentuk subsidi operasional maupun insentif, yang berpotensi membebani likuiditas pengelola bandara dalam jangka pendek.
Dampak Terhadap Portofolio Infrastruktur Nasional
Tren pembangunan bandara baru di berbagai daerah perlu dilihat secara holistik dalam portofolio infrastruktur Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan tahun 2023, Indonesia memiliki lebih dari 290 bandara yang tersebar di seluruh wilayah. Namun, tidak seluruhnya beroperasi dengan tingkat pemanfaatan optimal. Oleh karena itu, prioritas pembangunan perlu mempertimbangkan indeks konektivitas, potensi ekonomi riil, serta kemampuan menjaga fundamental fiskal daerah maupun badan usaha pengelola.
Di samping itu, sentimen pasar terhadap proyek infrastruktur juga dapat berubah seiring waktu. Apabila utilisasi bandara dapat ditingkatkan secara bertahap melalui integrasi dengan moda transportasi lain, seperti kereta api, bus, maupun angkutan umum, maka proyeksi keberlanjutan operasional dapat membaik. Namun, tanpa adanya dorongan permintaan yang nyata, risiko idle capacity akan tetap menjadi tantangan yang perlu dikelola secara hati-hati.
Kesimpulan: Antara Harapan dan Realitas
Secara keseluruhan, Bandara Dhoho Kediri merupakan gambaran nyata dari dilema pembangunan infrastruktur di Indonesia. Di satu sisi, proyek ini memiliki visi strategis untuk pemerataan ekonomi dan peningkatan konektivitas. Di sisi lain, realitas pasar menunjukkan bahwa pembangunan fisik saja tidak cukup untuk menjamin keberhasilan operasional.
Keberlanjutan bandara ini akan sangat bergantung pada sinergi antara peningkatan permintaan penumpang, pengembangan sektor unggulan daerah, serta integrasi sistem transportasi. Tanpa langkah-langkah tersebut, potensi jangka panjang yang ada berisiko sulit terwujud dalam waktu dekat, meski fundamental ekonomi regional tetap menunjukkan tren pertumbuhan yang positif.
Comments (0)