Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2024, jumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Indonesia menembus angka 64,2 juta unit, dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto mencapai sekitar 61 persen. Ironinya, sebagian besar dari mereka masih mengandalkan pencatatan transaksi manual. Padahal, Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital nasional tumbuh year-on-year sebesar 32,4 persen pada kuartal II 2024. Kesenjangan antara kecepatan digitalisasi pembayaran dan lambatnya digitalisasi pembukuan inilah yang menjadi sorotan analis keuangan.
Perangkat lunak akuntansi berbasis cloud kini menawarkan solusi atas persoalan tersebut. Salah satu yang cukup dikenal di pasar domestik adalah Accurate, aplikasi yang dirancang untuk menyederhanakan proses pencatatan hingga penyusunan laporan keuangan secara otomatis.
Pro: Efisiensi Operasional dan Akurasi Data
Di satu sisi, penggunaan perangkat lunak akuntansi memberikan sejumlah keuntungan yang terukur. Menurut kajian lembaga riset independen pada 2023, pelaku usaha yang bermigrasi dari pencatatan manual ke sistem digital mengalami penurunan waktu penyusunan laporan bulanan hingga 70 persen, dari rata-rata 20 jam menjadi sekitar 6 jam per bulan. Kesalahan pencatatan atau human error juga menurun drastis, karena sistem melakukan validasi entri secara otomatis.
Dari perspektif likuiditas, laporan yang rapi mempermudah pelaku usaha mengajukan kredit ke perbankan. Otoritas Jasa Keuangan mencatat rasio kredit bermasalah untuk segmen UMKM berada di kisaran 4,2 persen per pertengahan 2024, lebih tinggi dibanding kredit korporasi yang sekitar 2,5 persen. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan laporan keuangan yang bankable. Dengan pembukuan digital yang tersusun sistematis, profil risiko usaha menjadi lebih mudah dinilai, sehingga potensi akses pembiayaan meningkat.
"Transformasi digital di sektor UMKM bukan lagi pilihan, melainkan keharusan agar pelaku usaha mampu bersaing dan bertahan di tengah tekanan ekonomi global," ujar seorang ekonom senior dalam sebuah forum diskusi ekonomi nasional.
Kontra: Biaya, Literasi, dan Resistensi Perubahan
Di sisi lain, adopsi perangkat lunak akuntansi tidak lepas dari hambatan. Biaya berlangganan tahunan, meski relatif terjangkau, tetap menjadi beban bagi usaha ultra-mikro dengan margin tipis. Survei internal sektor menunjukkan sekitar 58 persen pelaku usaha mikro mengaku belum memahami konsep dasar akuntansi seperti jurnal umum, neraca, dan arus kas, sehingga memerlukan pelatihan tambahan.
Faktor resistensi budaya kerja juga tidak bisa diabaikan. Sebagian pelaku usaha yang telah bertahun-tahun menggunakan buku kas sederhana merasa nyaman dengan metode lama. Perubahan ini menuntut penyesuaian pola pikir, disiplin input data harian, serta kesediaan berinvestasi waktu di awal implementasi. Tanpa pendampingan, risiko kegagalan migrasi sistem cukup tinggi.
Fundamental dan Sentimen Pasar Digitalisasi Akuntansi
Dari sisi fundamental, pasar perangkat lunak akuntansi di Indonesia diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk sekitar 15,8 persen hingga 2028, seiring peningkatan penetrasi internet yang telah mencapai 79,5 persen populasi. Sentimen pasar pun positif, tercermin dari meningkatnya investasi pada sektor teknologi finansial dan layanan bisnis digital.
Namun, likuiditas dan valuasi pada sektor ini tetap bergantung pada kemampuan penyedia layanan menjaga retensi pelanggan. Capital outflow dari sektor teknologi global pada periode 2022–2023 sempat menekan valuasi startup, meski sektor perangkat lunak B2B dinilai lebih tahan guncangan karena pendapatannya berulang.
Kesimpulannya, digitalisasi pembukuan menghadirkan dua wajah: peluang efisiensi dan akurasi di satu sisi, serta tantangan biaya, literasi, dan adaptasi di sisi lain. Kuncinya bukan sekadar memiliki perangkat lunak, tetapi memastikan kesiapan sumber daya manusia dan konsistensi penerapannya. Tanpa itu, laporan keuangan tetap rapi di atas kertas, tetapi tidak mencerminkan realitas bisnis yang sesungguhnya.
Comments (0)