Sep 24, 2026
Bisnis

Destry Damayanti Tegaskan Stabilitas Ekonomi dalam Pernyataan Pertama

Setelah resmi ditetapkan sebagai Penjabat Gubernur Bank Indonesia (BI) pada awal 2025, Destry Damayanti langsung menyampaikan pernyataan pertamanya yang menjadi sorotan utama pelaku pasar, analis ekon...

Destry Damayanti Tegaskan Stabilitas Ekonomi dalam Pernyataan Pertama

Setelah resmi ditetapkan sebagai Penjabat Gubernur Bank Indonesia (BI) pada awal 2025, Destry Damayanti langsung menyampaikan pernyataan pertamanya yang menjadi sorotan utama pelaku pasar, analis ekonomi, dan masyarakat luas. Dalam pidato singkat namun komprehensif, ia menekankan tiga pilar utama kepemimpinan sementaranya: stabilitas sistem moneter, penguatan sektor keuangan domestik, dan akselerasi agenda digitalisasi sebagai mesin pertumbuhan baru. Pernyataan ini muncul di tengah kondisi global yang masih diwarnai ketegangan geopolitik di beberapa kawasan, kebijakan moneter ketat dari bank sentral utama dunia, dan ketidakpastian pemulihan ekonomi pasca pandemi. Destry menekankan bahwa Bank Indonesia akan tetap berperan proaktif dalam meredam dampak negatif dari guncangan eksternal sambil tetap mendukung momentum pertumbuhan domestik.

Stabilitas Moneter sebagai Prioritas Utama

Destry menegaskan bahwa Bank Indonesia akan tetap konsisten menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi pasar valuta asing yang terukur dan berlapis. 'Stabilitas makroekonomi adalah pondasi dari segalanya. Tanpa itu, pertumbuhan inklusif hanya akan menjadi wacana,' tegasnya di hadapan media. Di satu sisi, komitmen ini memberikan sinyal positif bagi investor portofolio yang mengkhawatirkan arus modal keluar akibat kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (Fed Funds Rate). Data dari Bank Indonesia menunjukkan bahwa pada kuartal III 2024, aliran modal asing keluar (capital outflow) dari pasar obligasi Indonesia mencapai Rp15,2 triliun, sehingga langkah stabilisasi menjadi sangat krusial untuk menjaga kepercayaan pasar. Namun di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa intervensi yang terlalu agresif di pasar valas dapat menguras cadangan devisa yang saat ini tercatat sebesar 140,2 miliar dolar AS per Desember 2024. Ketidakseimbangan antara stabilitas jangka pendek dan ketahanan jangka panjang menjadi tantangan yang harus dikelola dengan hati-hati. Menurut seorang analis senior dari LPEM FEB UI, 'BI harus bisa menemukan sweet spot antara mendukung rupiah dan tidak menghabiskan amunisi devisa terlalu cepat.'

Proyeksi Inflasi dan Arah Suku Bunga

Dalam pernyataannya, Destry juga menyinggung tren inflasi domestik yang menunjukkan penurunan moderat sepanjang 2024. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan pada akhir 2024 tercatat sebesar 3,8%, lebih rendah dibandingkan 4,2% pada tahun sebelumnya. Ia memproyeksikan inflasi akan tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5–4,5% sepanjang 2025, meskipun risiko dari harga pangan dan energi global tetap perlu diwaspadai. Pro: Penurunan inflasi ini memberi ruang bagi BI untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate yang saat ini bertahan di level 6,25%. Kondisi ini berpotensi mendukung pemulihan penyaluran kredit perbankan yang tumbuh 9,1% year-on-year pada bulan sebelumnya, terutama untuk segmen UMKM dan korporasi. Kontra: Di sisi lain, ekspektasi pasar terhadap pelonggaran moneter di AS yang lebih lambat dari perkiraan dapat membuat selisih imbal hasil (yield differential) antara rupiah dan dolar menyempit, sehingga menekan kembali nilai tukar. 'BI perlu mempertahankan suku bunga yang kompetitif untuk mencegah arus modal keluar (capital outflow) dan menjaga daya tarik aset keuangan domestik,' ujar seorang analis dari Mirae Asset Sekuritas. Sebagai gambaran, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun saat ini berada di sekitar 6,88%, selisih sekitar 250 basis poin dari US Treasury 10 tahun.

Digitalisasi Sistem Pembayaran dan Inklusi Keuangan

Salah satu poin baru yang diangkat Destry dalam pernyataan perdananya adalah penekanan pada digitalisasi sistem pembayaran dan inklusi keuangan. Ia menyebut bahwa Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) akan diperluas ke lebih banyak negara mitra dagang sebagai bagian dari strategi Local Currency Settlement (LCS) untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam transaksi bilateral. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa total volume transaksi QRIS pada 2024 mencapai 4,2 miliar transaksi, naik drastis 230% dari tahun sebelumnya, dengan nilai transaksi mencapai lebih dari Rp500 triliun. Pro: Langkah ini dianggap tepat karena dapat mengurangi tekanan pada nilai tukar, memperkuat ekosistem UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi, dan mendorong efisiensi sistem keuangan nasional. Kontra: Namun, infrastruktur digital di daerah terpencil dan tertinggal masih menjadi kendala signifikan. 'Digitalisasi adalah pedang bermata dua jika tidak disertai pemerataan akses internet dan literasi digital yang memadai,' kata pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia. Destry mengakui hal ini dan menjanjikan akan memperkuat koordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengatasi gap infrastruktur dan literasi keuangan digital di seluruh pelosok negeri.

Respons Pasar dan Ekspektasi ke Depan

Pasca pernyataan pertama Destry Damayanti, pasar keuangan domestik langsung merespons positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,6% ke posisi 7.120 pada penutupan sesi pertama, sementara imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun 5 basis poin menjadi 6,88%. Ini menunjukkan bahwa pesan stabilitas dan optimisme yang disampaikan mendapat sambutan dari pelaku pasar. Namun, sentimen pasar global tetap akan menjadi faktor dominan, terutama terkait arah kebijakan The Fed dan dinamika harga komoditas internasional. Analis perbankan dan pasar modal memproyeksikan bahwa masa jabatan singkat Destry sebagai Penjabat Gubernur BI akan diuji dalam kemampuannya menjaga keseimbangan antara mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas keuangan. 'Biarlah data yang berbicara. Kami akan terus memantau fundamental ekonomi secara real-time dan tidak akan ragu mengambil kebijakan yang diperlukan,' katanya mengakhiri pernyataan. Dengan pendekatan yang transparan dan berbasis data ini, pelaku pasar dan investor berharap Bank Indonesia tetap menjadi lembaga kredibel serta dapat menjaga kepercayaan investor domestik dan internasional di tengah tantangan ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User