Aug 25, 2026
Bisnis

Destry Damayanti Sampaikan Arah Kebijakan BI Pasca Pengunduran Diri Perry

Jakarta – Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan pasca pengunduran diri Gubernur Perry Warjiyo. Pelaksana Tugas Gubernur BI, Destry Damayanti...

Destry Damayanti Sampaikan Arah Kebijakan BI Pasca Pengunduran Diri Perry

Jakarta – Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan pasca pengunduran diri Gubernur Perry Warjiyo. Pelaksana Tugas Gubernur BI, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa seluruh fungsi strategis berjalan tanpa hambatan, didukung kerangka kelembagaan yang kokoh dan sistem pengambilan keputusan kolektif.

Berdasarkan data Bank Indonesia per 1 Juni 2025, cadangan devisa tercatat sebesar USD140,2 miliar, setara dengan 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini sedikit meningkat dari posisi April yang sebesar USD139,8 miliar. Sementara itu, suku bunga acuan BI-Rate dipertahankan pada level 5,75%, sejalan dengan langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan ekspektasi inflasi. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tahunan per Mei 2025 berada di 2,84%, masih dalam sasaran target 2,5%±1%.

Kerangka Kelembagaan sebagai Pilar Kontinuitas

Destry menjelaskan bahwa BI memiliki mekanisme checks and balances yang mumpuni melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan dan rapat dewan lainnya. “Pengunduran diri Gubernur tidak mengganggu pengambilan keputusan karena semua keputusan strategis dilakukan secara kolektif. Saya sebagai Plt. Gubernur menjalankan fungsi eksekutif sesuai dengan Undang-Undang Bank Indonesia,” ujar Destry dalam jumpa pers virtual. Ia menambahkan bahwa seluruh kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran tetap konsisten melanjutkan arah yang telah ditetapkan.

Di pasar keuangan, reaksi awal terhadap transisi ini relatif terukur. Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa (3/6) melemah tipis 0,15% ke level Rp15.420 per dolar AS, namun volatilitas masih dalam rentang normal. Imbal hasil obligasi pemerintah seri 10 tahun turun 2 basis poin ke 6,78%, menandakan kepercayaan investor terhadap stabilitas fiskal dan moneter.

Dua Sisi Transisi: Stabilitas vs Ketidakpastian

Di satu sisi, keberlanjutan operasional BI didukung oleh fondasi institusi yang telah teruji dalam berbagai siklus politik dan ekonomi. Destry, yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior, memiliki pengalaman panjang dalam kebijakan moneter dan koordinasi internasional. Transisi kepemimpinan di BI bukanlah hal baru; pada 2018, penggantian Gubernur juga berjalan mulus. Selain itu, kerangka kebijakan yang berorientasi pada inflasi rendah dan stabil, serta pengelolaan aliran modal asing yang hati-hati, memberikan jangkar ekspektasi bagi pelaku usaha dan pasar.

Di sisi lain, beberapa pelaku pasar menginginkan kejelasan segera mengenai susunan definitif Dewan Gubernur. Kekosongan posisi Gubernur dalam jangka panjang dikhawatirkan dapat menimbulkan persepsi risiko politik yang mempengaruhi aliran modal asing, terutama di tengah ketidakpastian global. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa sepanjang Mei 2025, terjadi capital outflow neto dari pasar SBN sebesar Rp8,2 triliun, meskipun secara year-to-date masih mencatatkan net inflow Rp24,5 triliun. Dalam kondisi normal, investor asing mungkin menahan diri hingga ada kepastian kepemimpinan. Sinyal positif mulai terlihat pada awal Juni 2025, di mana investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp2,1 triliun di pasar obligasi pada 3 Juni, menandakan kepercayaan terhadap stabilitas jangka pendek.

Proyeksi Ekonomi dan Tantangan ke Depan

Di tengah transisi, Bank Indonesia masih optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi domestik. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal I-2025 tumbuh 5,03% secara year-on-year, ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,98% dan investasi sebesar 5,21%. Destry memproyeksikan pertumbuhan tahun 2025 tetap berada dalam kisaran 4,7%–5,5% seiring pulihnya permintaan domestik dan membaiknya kinerja ekspor komoditas unggulan. Di sisi intermediasi, kredit perbankan tumbuh 10,2% year-on-year per April 2025 dengan rasio NPL gross yang rendah di level 2,38%, menunjukkan risiko kredit yang terkelola.

Tantangan eksternal seperti kebijakan moneter bank sentral utama dunia, harga komoditas, dan ketegangan geopolitik tetap menjadi perhatian. Destry menekankan bahwa BI akan terus memperkuat bauran kebijakan melalui operasi moneter pro-market, pendalaman pasar keuangan, dan perluasan digitalisasi sistem pembayaran. “Stabilitas adalah kunci, namun adaptasi terhadap dinamika global adalah keniscayaan,” ujarnya menutup keterangan.

Dengan landasan fundamental yang kuat dan komunikasi kebijakan yang transparan, Bank Indonesia berupaya menjaga momentum pemulihan ekonomi meskipun tengah menjalani transisi kepemimpinan. Pengalaman institusi selama lebih dari dua dekade dalam menjaga stabilitas moneter menjadi modal utama dalam menghadapi babak baru ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User