Pengangkatan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2025-2030 telah resmi disahkan melalui Rapat Par DPR RI pada Kamis lalu, menandai tonggak baru dalam kepemimpinan otoritas moneter nasional. Keputusan ini mendapat sorotan luas dari pelaku pasar domestik maupun asing, dengan respons yang terbagi antara optimisme terhadap keberlanjutan kebijakan moneter dan kekhawatiran terhadap tantangan ekonomi ke depan.
Respons Positif dari Investor Domestik
Sejumlah analis ekonomi menilai bahwa pengalaman panjang Destry di tubuh Bank Indonesia menjadi modal utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi. Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, indeks saham gabungan tercatat mengalami kenaikan tipis 0,32% pada sesi pertama setelah pengumuman tersebut, menunjukkan sentimen positif pelaku pasar domestik.
Di satu sisi, pelaku investasi lokal menyambut baik pengangkatan tersebut. Chief Economist PT Danareksa Sekuritas memperkirakan bahwa kebijakan moneter yang prudent akan tetap terjaga di bawah kepemimpinan Destry. "Portofolio investasi domestik cenderung menarik mengingat fundamental ekonomi Indonesia yang masih kuat, dengan pertumbuhan PDB kuartal IV 2024 yang mencapai 5,06% year-on-year," tulisnya dalam catatan riset.
Investor institusional disebut mulai melakukan akumulasi pada saham-saham sektor keuangan dan perbankan dalam beberapa sesi perdagangan terakhir. Likuiditas pasar obligasi pemerintah juga menunjukkan perbaikan, dengan yield SUN 10 tahun yang menurun 8 basis poin menjadi 6,72%, mengindikasikan kepercayaan investor terhadap kebijakan moneter ke depan.
Kekhawatiran Pelaku Pasar Asing
Di sisi lain, sejumlah investor asing justru menunjukkan sikap wait-and-see terhadap perkembangan kebijakan moneter BI ke depan. Capital outflow dari pasar obligasi domestik tercatat mencapai Rp 2,3 triliun dalam sepekan pertama setelah pengumuman tersebut, menurut data Bank Indonesia.
Seorang analis dari bank investasi multinasional mengungkapkan bahwa ketidakpastian kebijakan The Fed AS menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan portofolio asing. "Kami masih memantau perkembangan ekonomi global secara seksama sebelum menambah eksposur terhadap aset-aset rupiah," jelas analis tersebut dalam keterangan tertulis.
Tren capital outflow ini tentu memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang berpotensi melemah. Destry Damayanti dalam kesempatan pertanggungjawabannya menyebutkan bahwa stabilisasi nilai tukar akan menjadi prioritas utama, dengan intervensi moneter yang terukur sesuai kondisi pasar.
Tantangan Ekonomi yang Hendak Dihadapi
Penunjukan ini tidak terlepas dari tantangan makroekonomi yang kompleks. Inflasi Indeks Harga Konsumen per Maret 2025 tercatat sebesar 2,84% year-on-year, masih dalam sasaran Bank Indonesia di kisaran 2,5%-4,5%. Namun, tekanan inflasi ke depan dinilai masih perlu diwaspadai, terutama dari volatilitas harga pangan dan energi global.
Rasio Giro Wajib Minimum (GWM) Bank Indonesia yang saat ini berada di level 6% menjadi salah satu instrumen kebijakan yang kemungkinan akan dioptimalkan. Destry dalam pidato pertanggungjawabannya menekankan bahwa koordinasi dengan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga menjadi kunci, khususnya menjelang periode Ramadan dan Idulfitri.
Fundamental ekonomi Indonesia memang menunjukkan resilien yang cukup baik. Cadangan devisa per akhir Februari 2025 berada di level USD 148,2 miliar, cukup untuk menutup 7,3 bulan impor serta pembayaran utang luar negeri pemerintah. Rasio utang terhadap PDB juga masih terkendali di kisaran 38-40%, memberikan ruang fiskal yang memadai.
Dengan segala dinamika yang ada, pengangkatan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI membawa angin segar sekaligus tantangan besar. Pelaku pasar pun akan terus memantau kebijakan yang diambil otoritas moneter dalam beberapa bulan ke depan, terutama dalam menyeimbangkan tujuan stabilisasi dengan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Comments (0)