Destry Damayanti Prioritaskan Stabilitas Rupiah di Tengah Transisi BI
Pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan. Setelah pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur BI, kursi nomor satu bank sentral untuk sementara did...
Pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan. Setelah pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur BI, kursi nomor satu bank sentral untuk sementara diduduki oleh Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti. Dalam pernyataan perdananya, Destry menegaskan bahwa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah akan menjadi fokus utama selama masa transisi ini.
Keputusan tersebut diambil dalam rapat terbatas pimpinan BI dan langsung dikomunikasikan kepada pasar. Langkah ini diharapkan mampu meredam spekulasi yang berpotensi menekan rupiah lebih dalam. Destry, yang sebelumnya dikenal sebagai pengawal ketat kebijakan moneter, kini memegang kendali penuh sebelum proses pemilihan gubernur definitif dilakukan oleh Presiden bersama DPR.
Pergantian Tak Terduga
Pengunduran diri Perry Warjiyo mengejutkan banyak pihak. Perry yang telah memimpin BI sejak 2018 memutuskan mundur di tengah tekanan eksternal yang kian berat. Hal ini segera memicu pertanyaan seputar arah kebijakan moneter ke depan. Namun, dengan cepat BI menunjuk Destry untuk mengisi kekosongan sementara demi menjaga kontinuitas.
Destry Damayanti bukanlah sosok asing di lingkungan ekonomi nasional. Sebelum bergabung dengan BI, ia meniti karier panjang di sektor perbankan dan pasar modal. Pengalamannya dalam menghadapi gejolak keuangan menjadi modal penting saat ia mengambil alih kemudi di saat rupiah berada di bawah tekanan.
Berdasarkan data Bank Indonesia per 19 Mei 2025, rupiah ditutup pada level Rp 16.450 per dolar AS, melemah 0,8 persen secara year-to-date. Angka ini merefleksikan tekanan dari penguatan dolar global dan ketidakpastian suku bunga acuan Amerika Serikat.
Prioritas Stabilitas Nilai Tukar
Dalam pidato singkatnya, Destry menegaskan bahwa “nilai tukar adalah prioritas kita.” Pernyataan ini langsung disambut positif oleh pelaku pasar yang menginginkan sinyal jelas dari otoritas moneter. Destry menekankan bahwa BI akan menggunakan seluruh instrumen yang tersedia — mulai dari intervensi pasar spot, operasi domestic non-deliverable forward (DNDF), hingga pembelian obligasi pemerintah dari pasar sekunder — guna menjaga stabilitas rupiah.
Di satu sisi, langkah agresif ini diperlukan untuk meredam gejolak arus modal keluar (capital outflow) yang meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Data Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara (SBN) turun Rp 12,3 triliun dalam dua minggu pertama Mei 2025. Di sisi lain, penggunaan cadangan devisa secara besar-besaran dapat menggerus bantalan likuiditas dan mempersempit ruang manuver ke depan.
“Intervensi ganda menjadi pilihan tak terelakkan, namun BI harus tetap menghitung risiko penipisan cadangan,” ujar seorang analis makroekonomi dari lembaga riset independen.
Tantangan di Tengah Gejolak Global
Tekanan terhadap rupiah tak lepas dari faktor eksternal. Kebijakan tarif baru AS terhadap mitra dagang utama, termasuk Indonesia, meningkatkan ketidakpastian perdagangan global. Hambatan ekspor yang meningkat berpotensi menekan surplus neraca perdagangan Indonesia yang selama ini menjadi penopang fundamental rupiah. Selain itu, kebijakan moneter The Fed yang cenderung hawkish membuat imbal hasil obligasi AS tetap menarik, mendorong aliran dana kembali ke dolar.
Di dalam negeri, inflasi pangan masih menjadi perhatian. Meskipun inflasi inti terjaga di kisaran 2,3 persen secara tahunan pada April 2025, harga bahan pokok yang fluktuatif dapat mengikis daya beli masyarakat dan menambah tekanan pada rupiah melalui jalur ekspektasi inflasi.
Prospek dan Ekspektasi Pasar
Pelaku pasar kini menanti langkah konkret Destry dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) berikutnya. Keputusan suku bunga acuan akan menjadi sinyal penting apakah BI akan lebih agresif menahan laju pelemahan rupiah atau memilih bersikap akomodatif untuk mendorong pertumbuhan. Sejak awal 2025, BI telah menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 6,25 persen.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 berada di kisaran 4,8–5,1 persen. Angka ini masih cukup solid, tetapi risiko penurunan akibat perlambatan global dan pelemahan nilai tukar tidak bisa diabaikan. Destry dihadapkan pada dilema klasik bank sentral: stabilitas versus pertumbuhan.
Dengan pengalaman dan ketegasan yang ia tunjukkan selama ini, pasar memberi kredit kepercayaan. Namun, tantangan sesungguhnya baru dimulai. Stabilitas rupiah akan menjadi ujian pertama bagi sang pemegang kendali sementara, yang harus membuktikan bahwa transisi tidak mengorbankan kredibilitas bank sentral.
Comments (0)