Destry Damayanti Pastikan Stabilitas Pascamundur Perry Warjiyo

Jakarta, Beritadua.com – Pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengejutkan pelaku pasar pada awal pekan ini. Destry Damayanti yang kini menjabat sebagai Pelaksana Tugas Gubernur Ban...

Jul 28, 2026 - 07:04
0 0
Destry Damayanti Pastikan Stabilitas Pascamundur Perry Warjiyo

Jakarta, Beritadua.com – Pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengejutkan pelaku pasar pada awal pekan ini. Destry Damayanti yang kini menjabat sebagai Pelaksana Tugas Gubernur Bank Sentral segera merespons gejolak awal dengan pernyataan tegas: pasar tidak perlu panik. Dalam konferensi pers di Gedung Thamrin, ia menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kokoh dan seluruh instrumen moneter berada dalam kondisi siap siaga.

Meski demikian, reaksi spontan pasar tidak bisa diabaikan. Nilai tukar rupiah sempat melemah ke level Rp15.680 per dolar AS pada perdagangan pagi, setelah menguat terbatas di akhir pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun dibuka turun 0,37%, menunjukkan kekhawatiran sesaat atas transisi kepemimpinan yang tiba-tiba. Namun, seiring pernyataan resmi dari sang Pelaksana Tugas, tekanan berangsur mereda.

Respons Cepat dan Pesan Stabilitas

Destry Damayanti, yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior, langsung menggelar pertemuan tertutup dengan jajaran pimpinan perbankan dan pelaku pasar pagi itu. Dalam keterangannya, ia menekankan bahwa seluruh kerangka kerja kebijakan moneter tidak akan berubah secara fundamental. “Komite Stabilitas Sistem Keuangan tetap bekerja efektif. Likuiditas perbankan masih berada di kisaran Rp830 triliun, lebih dari cukup untuk merespons dinamika pasar,” ujarnya. Data terbaru dari Laporan Uang Beredar menunjukkan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) berada di level 27,4%, jauh di atas ambang batas aman.

Ia juga merujuk pada angka inflasi inti yang terjaga di 2,48% secara tahunan pada Mei lalu, dan proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal II yang diperkirakan berkisar 5,1–5,3%. Angka-angka ini, menurutnya, menjadi bukti bahwa goncangan personalia di pucuk pimpinan tidak serta-merta mengubah jalur kebijakan moneter yang telah dirancang dengan hati-hati.

Dua Perspektif di Balik Transisi

Di satu sisi, pasar memiliki alasan untuk gelisah. Perry Warjiyo dikenal sebagai arsitek utama di balik bauran kebijakan yang berhasil membawa Indonesia melewati tiga periode ketidakpastian global—dari taper tantrum, pandemi, hingga era suku bunga tinggi. Rekam jejaknya dalam menjaga stabilitas rupiah melalui operasi moneter triple intervention telah membangun kredibilitas personal yang sulit tergantikan dalam semalam. Kekhawatiran mengenai potensi perubahan gaya komunikasi bank sentral, atau penyesuaian prioritas antara stabilitas dan pertumbuhan, menjadi faktor yang patut diawasi.

Di sisi lain, Destry Damayanti bukanlah figur baru yang tiba-tiba muncul. Sebagai mantan Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan dan ekonom pasar uang senior, ia telah terlibat dalam setiap keputusan strategis BI selama tiga tahun terakhir. Transisi ke Pelaksana Tugas tidak lantas mengubah arah kebijakan suku bunga acuan yang saat ini bertengger di 6,00%, atau target inflasi yang tetap dipatok di rentang 2,5±1%. Bahkan, data kepemilikan asing di Surat Berharga Negara per 10 Juni menunjukkan posisi stabil di porsi 14,9% dari total beredar, mengindikasikan bahwa investor global belum melihat urgensi untuk keluar besar-besaran.

Fundamental Ekonomi Sebagai Jangkar

Faktor fundamental menjadi sandaran utama. Cadangan devisa Indonesia per akhir Mei tercatat sebesar $144,8 miliar, setara dengan 6,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional. Neraca perdagangan masih membukukan surplus selama 47 bulan berturut-turut, dengan ekspor nonmigas yang terus menunjukkan daya tahan. Rasio utang luar negeri terhadap Produk Domestik Bruto pun berada di level terkendali, yaitu 29,7%.

Dari sisi moneter, BI memiliki ruang intervensi yang cukup besar. Operasi pasar terbuka dapat dengan mudah menyerap kelebihan likuiditas atau menyuntikkan tambahan dana jika tekanan terhadap rupiah mengemuka. Suku bunga acuan yang relatif tinggi dibandingkan negara-negara maju juga masih menawarkan imbal hasil riil positif, menjadikan portofolio rupiah tetap menarik bagi investor global yang berburu carry trade. Terakhir, kerja sama bilateral dengan bank sentral mitra—termasuk Bilateral Currency Swap Arrangement dengan Jepang dan Tiongkok—menyediakan lapisan pengaman tambahan yang tidak dimiliki banyak negara berkembang lain.

Proyeksi dan Imbauan

Para analis ekonomi yang dihubungi Beritadua.com mayoritas menilai bahwa dampak jangka pendek dari mundurnya Perry Warjiyo akan terbatas. “Pasar biasanya bereaksi berlebihan terhadap ketidakpastian personalia, tetapi data makro adalah kompas sesungguhnya. Selama cadangan devisa dan inflasi terkendali, premi risiko akan segera menyusut,” ujar ekonom senior dari lembaga riset independen. Namun, ia mengingatkan agar pelaku pasar tetap mencermati proses pemilihan Gubernur BI definitif yang akan berlangsung di DPR dalam beberapa pekan ke depan, karena figur pengganti tetap akan memengaruhi ekspektasi arah kebijakan.

Destry Damayanti menutup keterangannya dengan imbauan: “Biarkan data berbicara. Inflasi rendah, pertumbuhan stabil, dan sistem keuangan kita tangguh. Spekulasi berlebihan hanya akan merugikan semua pihak.” Dengan pengalaman panjangnya, pasar kini menanti langkah konkret pertama sang Pelaksana Tugas dalam rapat dewan gubernur mendatang, sekaligus menimbang apakah transisi ini akan benar-benar mulus seperti yang dijanjikan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User