Destry Damayanti Pastikan Stabilitas Moneter Pascamundurnya Perry Warjiyo
Pengunduran diri mendadak Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengguncang pasar finansial domestik pada awal pekan ini. Namun, Penjabat Gubernur BI Destry Damayanti bergerak cepat meredam poten...
Pengunduran diri mendadak Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengguncang pasar finansial domestik pada awal pekan ini. Namun, Penjabat Gubernur BI Destry Damayanti bergerak cepat meredam potensi kepanikan. Dalam konferensi pers darurat, ia menegaskan bahwa seluruh bauran kebijakan moneter tetap pada jalurnya, dengan fokus utama menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah tekanan jangka pendek terhadap aset-aset berdenominasi rupiah, ketika pelaku pasar mencerna kabar peralihan di pucuk pimpinan bank sentral.
Kepastian di Tengah Turbulensi
Berdasarkan data transaksi pasar uang per 20 Juni 2025, rupiah sempat melemah hingga menyentuh level Rp16.450 per dolar Amerika Serikat (AS) atau terdepresiasi 1,2% secara intraday setelah kabar pengunduran diri itu mencuat. Pelemahan ini sejalan dengan aksi jual terbatas pada Surat Berharga Negara (SBN) seri acuan 10 tahun yang mendorong imbal hasil naik 8 basis poin ke 6,87%. Destry Damayanti merespons dengan menyatakan, "Kami memahami sentimen sesaat yang muncul, namun fundamental perekonomian Indonesia tidak berubah dalam semalam. Kami meminta seluruh pelaku pasar untuk tetap rasional dan mencermati data makro yang sesungguhnya." Ia menambahkan bahwa BI memiliki ruang intervensi yang memadai, baik melalui operasi moneter di pasar sekunder maupun lewat koordinasi dengan otoritas fiskal.
Poin penting yang ditekankan Destry adalah keberlanjutan stance kebijakan yang telah dibangun di era Perry Warjiyo, terutama kerangka kebijakan pro-stabilitas yang dikenal dengan formulasi triple intervention: operasi di pasar spot valas, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian SBN dari pasar sekunder. Saat ini, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$141,2 miliar—setara dengan 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah—jauh di atas standar kecukupan internasional tiga bulan impor.
Dua Sisi Respons Pasar: Panik atau Terukur?
Di satu sisi, respons awal pasar menunjukkan kecemasan terhadap ketidakpastian politik. Pengunduran diri mendadak seorang gubernur bank sentral lazim memicu capital outflow jangka pendek, terutama dari investor portofolio yang sensitif terhadap persepsi stabilitas kelembagaan. Aliran dana asing keluar dari pasar saham tercatat sebesar Rp1,2 triliun dalam dua hari pertama pascapengumuman, sementara kepemilikan asing di SBN turun sekitar 0,3% menjadi 14,1% dari total beredar. Penurunan ini, meski tidak besar, mengindikasikan adanya premi risiko yang kembali dihitung ulang oleh investor global.
Di sisi lain, sejumlah analis menilai reaksi negatif tersebut bersifat temporer.
"Pasar cenderung overreact terhadap peristiwa politik, namun sepanjang komite kebijakan—terutama di level deputi gubernur—tetap solid, arah kebijakan moneter tak akan banyak bergeser,"ujar Kepala Ekonom salah satu bank investasi global. Indikator teknikal juga menunjukkan bahwa pelemahan rupiah masih dalam batas kewajaran. Volatilitas tersirat (implied volatility) rupiah satu bulan hanya meningkat ke 9,8% dari sebelumnya 8,5%, jauh di bawah level krisis 2020 yang mencapai 18%. Ini menandakan bahwa ekspektasi depresiasi tajam belum tertanam kuat di pasar opsi.
Menyelisik Fundamental dan Risiko Transisi
Kekhawatiran yang lebih substansial ada pada proses pemilihan gubernur tetap oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Meskipun Destry Damayanti adalah figur kredibel dengan pengalaman panjang sebagai Deputi Gubernur Senior, serta mantan Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan, kalangan pasar menginginkan kejelasan segera soal figur definitif. Ketidakpastian politik di sekitar penggantian tersebut berpotensi menunda keputusan investasi jangka menengah. Data terakhir menunjukkan bahwa inflasi inti per Mei 2025 berada di level 2,3% year-on-year (yoy), masih dalam kisaran sasaran BI 1,5–3,5%. Namun, inflasi kelompok pangan bergejolak (volatile food) naik menjadi 5,1% yoy, mengindikasikan tekanan dari sisi penawaran yang bisa mempersempit ruang pelonggaran moneter.
Dari sisi eksternal, rupiah masih dibayangi oleh kebijakan hawkish bank sentral AS The Fed yang mempertahankan suku bunga acuan di 5,25–5,50%. Selisih suku bunga riil antara Indonesia dan AS yang masih positif—dengan BI 7-Day Reverse Repo Rate di 6,25%—menjadi jangkar. Akan tetapi, jika premi risiko politik domestik meningkat, selisih tersebut bisa tidak cukup untuk menahan arus modal keluar. BI pun bersiaga dengan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang outstanding-nya telah mencapai Rp950 triliun, menjadi katup pengaman likuiditas yang efektif.
Proyeksi dan Sinyal bagi Pelaku Pasar
Dengan asumsi transisi berlangsung mulus dan DPR segera menetapkan gubernur baru dalam waktu dekat, proyeksi nilai tukar rupiah hingga akhir kuartal III-2025 diperkirakan bergerak di rentang Rp16.200–Rp16.600 per dolar AS. Proyeksi ini didasarkan pada neraca perdagangan yang masih surplus—ekspor nonmigas tumbuh 8% yoy pada Mei 2025—serta aliran masuk investasi langsung yang konsisten. Destry Damayanti sendiri mengonfirmasi bahwa BI akan melanjutkan stabilisasi melalui operasi moneter harian dan memperdalam pasar keuangan domestik.
Kepercayaan terhadap bank sentral, pada akhirnya, bukan semata soal figur gubernur, melainkan konsistensi respons kebijakan di tengah guncangan. Sejarah mencatat, BI beberapa kali mampu menjaga stabilitas rupiah di tengah transisi kepemimpinan, seperti pada 2013 dan 2018. Pelaku pasar pun diharapkan membedakan antara sentimen sesaat dan fundamental yang sesungguhnya tak tergoyahkan.
Comments (0)