Destry Damayanti Jamin Kinerja BI Tetap Optimal Pasca Pengunduran Diri Perry Warjiyo
Pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo pada awal pekan ini menimbulkan gejolak kecil di pasar keuangan domestik. Namun, situasi langsung diredam oleh pernyataan tegas dari Pelaksa...
Pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo pada awal pekan ini menimbulkan gejolak kecil di pasar keuangan domestik. Namun, situasi langsung diredam oleh pernyataan tegas dari Pelaksana Tugas Gubernur BI, Destry Damayanti, yang memastikan bahwa seluruh tugas dan fungsi bank sentral akan tetap berjalan normal. Dalam konferensi pers yang digelar secara daring pada Selasa sore, Destry menekankan bahwa stabilitas moneter dan sistem keuangan tetap menjadi prioritas utama di tengah transisi kepemimpinan ini.
Langkah cepat Destry untuk menenangkan pasar patut diapresiasi. Sebagai mantan Deputi Gubernur Senior, ia memiliki pemahaman mendalam tentang arah kebijakan BI. Pasar yang sempat diwarnai aksi jual ringan pada pembukaan perdagangan Rabu perlahan kembali hijau seiring meredanya kekhawatiran. Rupiah yang sempat melemah tipis 0,2% ke level Rp15.700 per dolar AS, berbalik menguat 0,15% ke Rp15.650 pada penutupan sesi pertama. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga rebound dari level terendah 7.120 menjadi 7.165.
Momentum Transisi yang Terjaga
Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Andri Satria, menilai bahwa transisi ini berlangsung dalam momentum yang tepat. "Di bawah kepemimpinan Destry, BI memiliki ruang untuk melanjutkan bauran kebijakan yang sudah terbukti efektif menjaga inflasi inti di kisaran 2,5% plus minus 1%. Pasar tidak perlu khawatir karena fundamental ekonomi kita masih solid," ujarnya saat dihubungi. Data terbaru menunjukkan pertumbuhan kredit perbankan per Juli 2026 mencapai 10,8% secara year-on-year (yoy), sementara rasio kecukupan modal (CAR) perbankan masih di atas 24%.
Meski demikian, beberapa analis mengingatkan bahwa tugas berat menanti. "BI harus segera menunjuk Gubernur definitif melalui mekanisme yang transparan dan kredibel," ujar ekonom senior Bank Mandiri, Rizal Taufikurahman. "Pasar menyukai kepastian. Jika proses seleksi berlarut-larut, bisa memicu capital outflow ringan," tambahnya. Namun, ia mengakui bahwa selama BI menunjukkan independensi dan konsistensi kebijakan, risiko tersebut dapat diminimalkan.
Perry Warjiyo: Pengabdian Panjang dan Keputusan Pensiun Dini
Kepergian Perry Warjiyo yang telah menjabat sejak 2018 dan sebelumnya sebagai Deputi Gubernur sejak 2013, mengejutkan banyak pihak. Selama kepemimpinannya, BI berhasil melewati krisis pandemi dengan kebijakan burden sharing bersama pemerintah yang kontroversial namun efektif mencegah resesi. Perry juga dikenal karena kebijakan hilirisasi yang mendorong penggunaan rupiah di perdagangan internasional melalui Local Currency Settlement (LCS).
Pengunduran dirinya, yang disampaikan langsung kepada Presiden, disebut karena alasan pribadi dan kesehatan. Perry tidak memberikan pernyataan publik setelah pengumuman resmi tersebut. Namun, banyak yang menilai bahwa masa jabatannya yang telah menyisakan sekitar 10 bulan lagi cukup untuk mewariskan fondasi yang kuat bagi penerusnya.
Respon Pasar dan Prospek Kebijakan
Dari sisi pasar obligasi, imbal hasil surat utang negara (SUN) seri acuan 10 tahun naik tipis 2 basis poin ke level 6,65% pada perdagangan pagi, namun kembali turun ke 6,63% pada sore hari. Hal ini menunjukkan bahwa investor masih menahan diri untuk tidak keluar besar-besaran. Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia per akhir Juli 2026 tercatat sebesar 142,3 miliar dolar AS, cukup untuk membiayai 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional 3 bulan.
Destry Damayanti dalam pernyataannya menekankan bahwa rapat dewan gubernur (RDG) bulanan akan tetap digelar sesuai jadwal. "Kami akan terus mencermati pergerakan inflasi global dan domestik, serta merespon dengan instrumen yang tepat. Tidak ada perubahan arah kebijakan moneter yang drastis," tegasnya. Bank sentral diperkirakan masih akan menahan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate di level 5,75% dalam beberapa bulan ke depan, mengingat inflasi inti yang masih terkendali.
Tantangan ke Depan dan Harapan Stabilitas
Di sisi lain, sejumlah tantangan eksternal masih membayangi. Kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat yang diperkirakan masih akan berlanjut hingga akhir tahun, berpotensi menekan nilai tukar rupiah. Harga komoditas andalan ekspor seperti batu bara dan minyak sawit mentah juga menunjukkan tren penurunan. Kondisi ini membutuhkan respons kebijakan yang cermat dari BI.
Meski begitu, banyak pihak yakin dengan kapasitas Destry. Sebagai ekonom perempuan pertama yang memegang posisi puncak di BI (meski sementara), ia membawa pengalaman panjang di bidang moneter dan internasional. "Destry memiliki jaringan global yang kuat, ini menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan investor asing," ujar ekonom senior dari Universitas Indonesia, Fithra Faisal. Ia menambahkan, "Yang paling penting adalah BI tetap fokus pada mandatnya: menjaga stabilitas nilai rupiah."
Pengunduran diri seorang gubernur bank sentral memang selalu menimbulkan dinamika. Namun, transisi di BI kali ini tampaknya berjalan dengan relatif mulus. Komitmen Destry untuk melanjutkan berbagai program strategis, termasuk digitalisasi rupiah dan pendalaman pasar keuangan, menjadi jaminan bahwa bank sentral tidak akan kehilangan arah. Publik dan pelaku pasar kini menantikan siapa sosok yang akan memimpin BI secara definitif dalam beberapa minggu ke depan.
Dengan fundamental ekonomi yang masih kuat dan tim internal BI yang solid, optimisme bahwa stabilitas akan tetap terjaga cukup beralasan. Sepanjang koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait terus diperkuat, kepercayaan pasar diharapkan tidak akan terganggu secara signifikan. Seperti yang diungkapkan Destry di akhir konferensi persnya, "Tugas BI adalah menjaga denyut nadi perekonomian. Denyut itu akan terus berdetak, apapun situasinya."
Comments (0)