Destry Damayanti Dipercaya Jaga Stabilitas Rupiah di Masa Transisi

Langkah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memberikan mandat kepada Destry Damayanti sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia menuai perhatian pelaku pasar. Keputusan yang diambil Komisi XI ...

Jul 28, 2026 - 07:51
0 0
Destry Damayanti Dipercaya Jaga Stabilitas Rupiah di Masa Transisi

Langkah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memberikan mandat kepada Destry Damayanti sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia menuai perhatian pelaku pasar. Keputusan yang diambil Komisi XI DPR ini terjadi di tengah tekanan eksternal yang terus membayangi pergerakan nilai tukar rupiah. Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir pekan lalu, rupiah tercatat bergerak dalam rentang volatilitas yang cukup lebar, dipengaruhi oleh ketidakpastian kebijakan moneter global dan gejolak geopolitik. Dalam situasi ini, figur yang mengisi posisi puncak bank sentral menjadi variabel krusial yang dicermati investor domestik maupun asing.

Landasan Hukum dan Rasionalitas Penunjukan

Mohamad Hekal, Wakil Ketua Komisi XI DPR, menegaskan bahwa penunjukan Destry Damayanti telah sejalan dengan ketentuan dalam Undang-Undang Bank Indonesia. Kerangka regulasi memang memberikan ruang bagi pengangkatan pejabat sementara untuk memastikan tidak terjadi kekosongan kepemimpinan yang dapat memicu gejolak di pasar keuangan. Destry, yang saat ini menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI, dianggap memiliki kapasitas dan pengalaman yang dibutuhkan untuk meneruskan arah kebijakan yang telah ditempuh. Pengalaman panjangnya di bank sentral, termasuk keterlibatan dalam perumusan kebijakan moneter dan stabilitas sistem keuangan, menjadi fondasi yang solid. Dari perspektif internal, keberlanjutan atau continuity ini memberikan sinyal positif bahwa BI tidak akan mengalami perubahan haluan yang drastis, sehingga ekspektasi inflasi dan stabilitas sektor keuangan dapat tetap terjaga.

Dua Sisi Koin: Stabilitas versus Tantangan Transisi

Di satu sisi, pasar merespons positif adanya figur transisi yang berasal dari internal BI. Sejarah mencatat, setiap kali bank sentral mengalami transisi kepemimpinan, premi risiko (risk premium) cenderung meningkat. Namun, dengan menunjuk Destry yang sudah dikenal luas oleh pelaku pasar, potensi lonjakan premi risiko tersebut dapat diminimalisasi. Investor institusi yang memegang sekitar 42% dari total kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) per kuartal III 2026 membutuhkan kepastian bahwa tidak akan ada perubahan fundamental dalam kerangka operasi moneter. Destry dikenal sebagai figur yang memahami seluk-beluk pasar keuangan domestik, termasuk kompleksitas pengelolaan aliran modal asing yang selama ini menjadi salah satu penopang stabilitas rupiah. Di sisi lain, terdapat tantangan yang tidak ringan. Status sebagai pejabat sementara dapat membatasi ruang gerak pengambilan keputusan strategis, terutama yang bersifat jangka panjang. Otoritas fiskal dan moneter kerap harus mengambil langkah-langkah luar biasa dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang berubah cepat. Pengunjukan Pjs berpotensi menciptakan persepsi adanya periode "wait and see" yang berkepanjangan, di mana kebijakan-kebijakan besar mungkin ditunda hingga gubernur definitif terpilih.

Tekanan Eksternal dan Ujian Pertama bagi Pjs Gubernur

Tantangan terberat yang akan langsung dihadapi adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global. Data dari Bloomberg menunjukkan bahwa indeks dolar AS (DXY) masih berada di level 106,8, merefleksikan kekuatan mata uang Paman Sam yang belum sepenuhnya mereda. Kondisi ini secara langsung menekan mata uang di negara berkembang, termasuk rupiah. Capital outflow dari pasar obligasi domestik juga masih menjadi risiko nyata. Sepanjang tahun ini, aliran dana asing keluar dari pasar SBN tercatat mencapai Rp 28,4 triliun secara year-to-date, sebuah indikator yang harus dibaca secara hati-hati. Destry, dengan latar belakangnya di bidang moneter, diharapkan mampu melanjutkan bauran kebijakan yang selama ini diterapkan: intervensi di pasar valuta asing, penggunaan instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan koordinasi erat dengan pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi. Inflasi inti yang saat ini terjaga di kisaran 2,3% secara year-on-year adalah hasil dari konsistensi tersebut, dan menjaga capaian ini adalah ujian kredibilitas pertama.

Proyeksi dan Harapan Pelaku Pasar

Pelaku pasar keuangan kini tengah mencermati lebih jauh arah kebijakan suku bunga acuan BI Rate yang saat ini bertengger di level 5,75%. Beberapa analis memperkirakan masih ada ruang penurunan suku bunga jika inflasi tetap terkendali dan rupiah menunjukkan stabilitas. Namun, segala keputusan tentu mempertimbangkan dinamika eksternal, termasuk arah kebijakan suku bunga The Fed. Destry pernah menyampaikan dalam berbagai forum bahwa BI akan terus menerapkan kebijakan moneter yang pro-stabilitas (pro-stability), dengan fokus utama menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas eksternal. Head of Treasury dari salah satu bank BUKU IV besar, yang enggan disebutkan namanya, menyatakan bahwa "sosok Destry adalah representasi dari konsistensi kebijakan moneter BI. Pasar tidak menyukai ketidakpastian, dan hadirnya beliau meredakan potensi volatilitas yang tidak perlu." Proyeksi kurs rupiah pada akhir tahun ini diprediksi bergerak di rentang Rp15.800 hingga Rp16.200 per dolar AS, dengan asumsi bahwa BI mampu mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik melalui imbal hasil yang kompetitif. Transisi ini bukan sekadar pengisian jabatan kosong, melainkan fase krusial yang menguji ketangguhan arsitektur kelembagaan Bank Indonesia sekaligus fondasi ekonomi nasional secara keseluruhan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User