Destry Damayanti, dari Deputi Senior ke Plt Gubernur BI

Kursi Gubernur Bank Indonesia (BI) mengalami peralihan sementara seiring pengunduran diri Perry Warjiyo. Pria yang telah memimpin bank sentral selama dua periode tersebut memutuskan mundur dengan alas...

Jul 27, 2026 - 19:58
0 1
Destry Damayanti, dari Deputi Senior ke Plt Gubernur BI

Kursi Gubernur Bank Indonesia (BI) mengalami peralihan sementara seiring pengunduran diri Perry Warjiyo. Pria yang telah memimpin bank sentral selama dua periode tersebut memutuskan mundur dengan alasan kesehatan. Posisinya kini diisi oleh Destry Damayanti, yang selama ini menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior, sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur BI.

Pergantian di Tengah Dinamika Ekonomi

Pengunduran diri Perry Warjiyo terjadi pada saat perekonomian global dihadapkan pada tekanan inflasi pascapandemi dan normalisasi kebijakan moneter negara maju. Di satu sisi, pasar keuangan dalam negeri relatif stabil dengan inflasi yang terjaga di kisaran target 3±1 persen. Di sisi lain, arus modal asing (capital outflow) dan pelemahan nilai tukar rupiah masih menjadi risiko yang perlu diantisipasi. Dalam konteks inilah Destry Damayanti muncul sebagai figur yang diharapkan mampu menjaga kesinambungan kebijakan tanpa menimbulkan guncangan berarti.

Rekam Jejak Destry Damayanti

Destry Damayanti bukanlah wajah baru di lingkungan bank sentral. Ia telah meniti karier panjang di sektor keuangan dan kebijakan publik. Sebelum menjadi Deputi Gubernur Senior BI, ia menjabat sebagai Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) periode 2015–2019. Pengalaman di LPS memberinya pemahaman mendalam mengenai stabilitas sistem keuangan dan penanganan krisis perbankan.

Destry juga pernah menduduki posisi strategis di Kementerian Keuangan, menjadi Staf Ahli Menteri Keuangan bidang Kebijakan Fiskal dan Makroekonomi. Latar belakang akademisnya dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) untuk studi sarjana dan magister, serta gelar PhD dari Cornell University, Amerika Serikat, menjadikannya salah satu ekonom dengan kualifikasi tertinggi di jajaran otoritas moneter.

Di internal Bank Indonesia, Destry dikenal sebagai pengambil kebijakan yang kalkulatif dan berbasis data. Ia kerap menyoroti pentingnya koordinasi antara kebijakan moneter, fiskal, dan sektor riil. Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan bahwa inflasi bukan semata-mata fenomena moneter, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor struktural seperti distribusi pangan dan efisiensi logistik.

Tantangan dan Ekspektasi Pasar

Meskipun statusnya sebagai Plt, pasar tetap mencermati setiap langkah Destry. Salah satu agenda terdekat adalah Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan yang akan menentukan arah suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate. Saat ini, suku bunga berada di level 5,75 persen, dan terdapat tarik-menarik antara kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar dengan dorongan untuk melonggarkan likuiditas guna menopang pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan moderat di kisaran 4,5–5,1 persen tahun ini.

Dari sisi makroprudensial, kebijakan uang muka kredit properti dan kendaraan yang longgar selama ini diyakini akan tetap dipertahankan, setidaknya hingga ada tanda-tanda overheating di sektor konsumsi. Para pelaku pasar juga menanti konsistensi BI dalam menjaga cadangan devisa yang per akhir bulan lalu tercatat sekitar 136 miliar dolar AS, cukup untuk membiayai impor selama 6 bulan dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Di sisi lain, pengangkatan Destry sebagai Plt Gubernur BI juga menimbulkan pertanyaan tentang proses seleksi gubernur definitif. Undang-undang tentang Bank Indonesia mensyaratkan Presiden mengajukan calon tunggal kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan. Destry dengan pengalaman dan posisinya saat ini tentu menjadi salah satu kandidat kuat. Namun, dinamika politik dan kebutuhan akan figur yang dapat diterima pasar bisa jadi memunculkan alternatif lainnya.

Perempuan Pertama di Puncak BI

Apabila nantinya ditetapkan secara definitif, Destry Damayanti akan menjadi perempuan pertama yang memimpin Bank Indonesia sejak lembaga ini berdiri pada tahun 1953. Hal ini menandai tonggak baru dalam sejarah bank sentral yang selama ini selalu dipimpin oleh pria. Kehadirannya di tampuk kepemimpinan juga dipandang sebagai simbol kemajuan peran perempuan dalam pengambilan keputusan ekonomi strategis di Tanah Air. Beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand telah lebih dulu menempatkan perempuan sebagai gubernur bank sentral, dan Indonesia tampaknya mulai mengejar ketertinggalan tersebut.

Destry sendiri dikenal sebagai figur yang tenang dan cenderung menghindari pernyataan yang dapat memicu volatilitas pasar. Gaya komunikasinya yang terukur dan jauh dari sensasi dianggap cocok untuk meredam gejolak di masa transisi. Selama bertahun-tahun, ia aktif dalam forum-forum internasional seperti G20, IMF, dan Bank for International Settlements (BIS), mewakili Indonesia dalam diskusi mengenai arsitektur keuangan global.

Dengan pengalaman, jaringan internasional, dan pemahaman lintas sektor yang dimilikinya, Destry Damayanti diproyeksikan mampu menjalankan peran sementara ini dengan kapabilitas penuh. Fokus utama dalam 100 hari pertama kepemimpinannya diprediksi akan tertuju pada stabilisasi nilai tukar, pengelolaan likuiditas, serta menjaga kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan Indonesia.

Meskipun masa jabatan Plt Gubernur BI biasanya tidak berlangsung lama sebelum penunjukan definitif, periode ini akan menjadi uji nyata bagi Destry. Bagaimana ia merespons gejolak pasar, berkoordinasi dengan pemerintah, dan mempertahankan independensi BI akan menjadi tolok ukur kelayakannya jika kelak diangkat secara permanen. Satu hal yang pasti, peralihan kepemimpinan ini menjadi momen krusial bagi arah kebijakan moneter Indonesia ke depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User