Destry Damayanti Calon Tunggal Gubernur BI, Rupiah Menguat Awal Pekan
Berdasarkan data Bank Indonesia per Senin pagi pekan ini, nilai tukar rupiah mengalami penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ke level Rp16.185 per dolar AS, menguat sekitar 0,42% dibandingkan ...
Berdasarkan data Bank Indonesia per Senin pagi pekan ini, nilai tukar rupiah mengalami penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ke level Rp16.185 per dolar AS, menguat sekitar 0,42% dibandingkan penutupan perdagangan pekan sebelumnya di Rp16.253. Penguatan ini melanjutkan tren apresiasi rupiah dalam sepekan terakhir yang secara kumulatif mencapai sekitar 1,1%, meskipun secara year-on-year rupiah masih mencatat depresiasi di kisaran 3% terhadap dolar AS.
Penguatan rupiah terjadi bersamaan dengan menguatnya kepastian politik ekonomi di dalam negeri. Destry Damayanti, yang saat ini menjabat Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, menjadi calon tunggal Gubernur BI yang diusulkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di Komisi XI. Bagi pelaku pasar, kepastian suksesi kepemimpinan bank sentral kerap menjadi katalis positif karena mengurangi ketidakpastian arah kebijakan moneter ke depan.
Rekam Jejak Destry Damayanti dan Ekspektasi Keberlanjutan Kebijakan
Destry Damayanti bukan wajah baru bagi pasar keuangan. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini berkarier lebih dari dua dekade di industri perbankan sebelum menjabat Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) periode 2015–2019, kemudian dipercaya sebagai Deputi Gubernur Senior BI sejak Agustus 2019. Selama berada di bank sentral, ia terlibat dalam perumusan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial, termasuk pada masa pemulihan ekonomi pascapandemi.
Dari sisi pasar, figur dari internal BI dinilai menjamin keberlanjutan kebijakan. Suku bunga acuan BI Rate saat ini berada di level 5,75%, sementara inflasi year-on-year terkendali di kisaran 1,6%, masih berada dalam sasaran 2,5% plus minus 1%. Kombinasi inflasi rendah dan suku bunga yang mulai melandai memberi ruang bagi kepemimpinan baru bank sentral untuk menyeimbangkan mandat stabilitas harga dengan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi yang pada kuartal terakhir tercatat sekitar 4,9% year-on-year.
Faktor Global Ikut Menopang Rupiah
Selain sentimen domestik, penguatan rupiah juga ditopang kondisi eksternal. Indeks dolar AS (DXY), yakni ukuran kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, mengalami penurunan ke kisaran 104,2 setelah data pasar tenaga kerja AS yang melunak memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve. Pelemahan dolar secara global biasanya memicu aliran modal masuk (capital inflow) ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Data perdagangan menunjukkan investor portofolio asing mencatatkan beli bersih di pasar Surat Berharga Negara (SBN) sekitar Rp4,2 triliun dalam sepekan, dengan imbal hasil SBN bertenor 10 tahun berada di kisaran 6,9%. Fundamental eksternal juga relatif kokoh: cadangan devisa tercatat sekitar US$152 miliar dengan rasio kecukupan setara lebih dari enam bulan impor, sementara neraca perdagangan konsisten membukukan surplus bulanan di atas US$2 miliar.
Di Satu Sisi Optimisme, di Sisi Lain Kehati-hatian
Di satu sisi, kombinasi kepastian suksesi BI, inflasi rendah, dan pelemahan dolar AS menciptakan sentimen pasar yang kondusif bagi rupiah. Premi risiko Indonesia yang tercermin dari credit default swap (CDS) lima tahun berada di kisaran 80 basis poin, relatif rendah dibandingkan rata-rata negara berkembang, menandakan persepsi risiko yang terkendali. Valuasi aset berdenominasi rupiah pun ikut terangkat seiring membaiknya minat investor.
Di sisi lain, sejumlah analis mengingatkan agar pasar tidak larut dalam euforia. Pertama, skema calon tunggal memang mempercepat kepastian, tetapi juga mempersempit ruang uji publik terhadap visi calon pemimpin bank sentral, termasuk soal independensi BI di tengah kebutuhan pembiayaan fiskal yang meningkat. Kedua, tren pelemahan rupiah sepanjang tahun berjalan belum sepenuhnya berbalik; risiko capital outflow masih membayangi jika ketegangan dagang global dan kebijakan tarif AS kembali memanas. Ketiga, penguatan rupiah yang terlalu cepat berpotensi menekan daya saing ekspor, karena apresiasi nilai tukar riil membuat produk domestik relatif lebih mahal di pasar global.
"Kepastian transisi kepemimpinan bank sentral menurunkan premi ketidakpastian, dan pasar meresponsnya melalui penguatan rupiah. Namun, arah rupiah ke depan tetap akan ditentukan oleh konsistensi kebijakan moneter dan disiplin fiskal, bukan semata oleh figur," ujar seorang ekonom senior perbankan nasional.
Proyeksi Rupiah dan Agenda Gubernur Baru
Ke depan, sejumlah proyeksi menempatkan rupiah bergerak pada rentang Rp15.900 hingga Rp16.400 per dolar AS hingga akhir tahun, dengan asumsi Federal Reserve memangkas suku bunga satu hingga dua kali dan harga komoditas ekspor tetap stabil. Likuiditas valuta asing di pasar domestik serta langkah stabilisasi terukur BI, baik melalui pasar spot maupun instrumen lindung nilai, akan tetap menjadi penyangga volatilitas.
Bagi calon pemimpin baru bank sentral, agenda berat telah menanti: menjaga kredibilitas kebijakan di tengah tekanan global, memperdalam pasar keuangan domestik agar tidak mudah goyah oleh arus modal jangka pendek, serta memastikan transmisi kebijakan moneter berjalan efektif ke sektor riil. Uji kelayakan di DPR akan menjadi panggung pertama bagi Destry Damayanti untuk meyakinkan bukan hanya para legislator, tetapi juga pelaku pasar, bahwa stabilitas rupiah dan penguatan fundamental ekonomi tetap menjadi prioritas utama bank sentral.
Comments (0)