Destry Damayanti Calon Tunggal Gubernur BI, Ini Respons LPS

Berdasarkan data Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik (BPS) per akhir kuartal terakhir, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di kisaran 2,5 persen year-on-year, masih sejalan dengan sasaran ...

Aug 12, 2026 - 10:53
0 0
Destry Damayanti Calon Tunggal Gubernur BI, Ini Respons LPS

Berdasarkan data Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik (BPS) per akhir kuartal terakhir, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di kisaran 2,5 persen year-on-year, masih sejalan dengan sasaran 2,5±1 persen, sementara pertumbuhan ekonomi tercatat sekitar 5,0 persen year-on-year. Di tengah fundamental makroekonomi yang relatif terjaga itu, perhatian pelaku pasar tertuju pada satu nama: Destry Damayanti, yang muncul sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI). Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pun buka suara, menilai proses suksesi di bank sentral berjalan sesuai mekanisme dan memberikan kepastian yang dibutuhkan pasar keuangan.

Pimpinan LPS menilai figur yang menguasai persoalan moneter sekaligus stabilitas sistem keuangan menjadi modal penting bagi bank sentral. Sebagai lembaga yang menjamin simpanan nasabah, LPS berkepentingan langsung atas mulusnya transisi kepemimpinan BI karena keduanya, bersama Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), duduk dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), forum koordinasi untuk mencegah dan menangani krisis keuangan.

Rekam Jejak dan Faktor Kontinuitas

Destry Damayanti bukan nama baru di koridor kebijakan. Ia tercatat pernah menjabat Deputi Gubernur Senior BI sejak 2019 dan sebelumnya menjadi anggota Dewan Komisioner LPS, dengan pengalaman lebih dari tiga dekade di bidang ekonomi dan kebanksentralan. Kombinasi pengalaman di otoritas moneter dan lembaga penjamin simpanan dinilai memperkuat koordinasi antarlembaga, terutama saat sistem keuangan menghadapi tekanan eksternal.

Dari sisi industri, data LPS menunjukkan total simpanan perbankan berada di kisaran Rp8.000 triliun, dengan lebih dari 99 persen rekening berstatus dijamin penuh. Kondisi likuiditas perbankan juga relatif longgar, tercermin dari rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga yang berada di atas 25 persen. Artinya, transisi kepemimpinan di BI berlangsung ketika fondasi perbankan dalam posisi tidak rentan.

Di Satu Sisi: Kepastian Menenangkan Sentimen Pasar

Di satu sisi, pencalonan tunggal meredam ketidakpastian politik yang biasanya membebani sentimen pasar. Bagi investor, kejelasan figur pemegang kendali kebijakan suku bunga dan nilai tukar mengurangi risiko kejutan kebijakan. Rupiah yang bergerak di kisaran Rp16.000 per dolar Amerika Serikat dan BI Rate di level 6,00 persen memerlukan pengelolaan ekspektasi yang hati-hati agar tidak memicu capital outflow, yakni keluarnya dana asing dari pasar domestik secara cepat.

Pro: kontinuitas kebijakan moneter terjaga, kredibilitas bank sentral di mata investor global berpotensi menguat, dan koordinasi BI-LPS-OJK berjalan lebih mulus karena calon memahami kultur ketiga lembaga. Kepemilikan portofolio asing di surat berharga negara (SBN) yang masih besar menuntut kepemimpinan BI yang mampu menjaga kepercayaan tersebut.

Di Sisi Lain: Minimnya Kontestasi dan Ujian Eksternal

Di sisi lain, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa calon tunggal mempersempit ruang kontestasi gagasan mengenai arah kebijakan moneter ke depan. Kontra: publik dan pasar kehilangan kesempatan membandingkan visi beberapa kandidat, sementara tantangan yang menanti tidak ringan. Tekanan global masih tinggi, mulai dari arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat, tren penguatan dolar, hingga risiko geopolitik yang dapat menggerakkan indeks saham dan nilai tukar secara bersamaan.

Gubernur BI baru juga akan mewarisi pekerjaan rumah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas. Jika suku bunga diturunkan terlalu cepat, rupiah berisiko mengalami penurunan dan memicu capital outflow; jika ditahan terlalu lama, kredit dan konsumsi bisa tertekan sehingga pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan. Isu independensi bank sentral dari pengaruh politik juga akan terus menjadi sorotan, mengingat kredibilitas kebijakan moneter sangat bergantung pada persepsi pasar terhadap otonomi BI.

Proyeksi: Ujian Pertama di Depan Pasar

Ke depan, pasar akan mencermati uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di DPR sebagai penentu akhir. Setelah itu, perhatian akan bergeser ke arah kebijakan: proyeksi suku bunga, strategi stabilisasi rupiah, pengelolaan likuiditas perbankan, serta komunikasi kebijakan yang konsisten. Valuasi aset keuangan domestik, baik saham maupun obligasi, akan sangat dipengaruhi oleh kesan pertama pasar terhadap pemimpin baru bank sentral.

Bagi LPS sendiri, siapa pun pemegang kursi Gubernur BI, kunci stabilitas tetap pada koordinasi kebijakan yang solid. Dengan inflasi terkendali, cadangan devisa di atas US$150 miliar, dan rasio kecukupan modal perbankan di atas 20 persen, modal awal transisi ini terbilang memadai. Namun, seperti selalu terjadi di pasar keuangan, fundamental yang baik hanya akan bertahan jika dikelola dengan kebijakan yang konsisten dan komunikasi yang jernih.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User