Destry Damayanti Calon Tunggal Gubernur BI, Ini Profil dan Tantangannya

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Mei 2025, perekonomian Indonesia pada kuartal I-2025 tumbuh 4,87 persen year-on-year — istilah untuk perbandingan dengan periode yang sama tahun sebe...

Aug 11, 2026 - 06:38
0 0
Destry Damayanti Calon Tunggal Gubernur BI, Ini Profil dan Tantangannya

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Mei 2025, perekonomian Indonesia pada kuartal I-2025 tumbuh 4,87 persen year-on-year — istilah untuk perbandingan dengan periode yang sama tahun sebelumnya — sementara inflasi April 2025 tercatat 1,95 persen, masih dalam rentang target 2,5 persen plus minus 1 persen. Di tengah fundamental yang relatif terjaga namun dibayangi ketidakpastian global, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada satu nama: Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) yang diusulkan Presiden Prabowo Subianto sebagai calon tunggal Gubernur BI. Usulan tersebut akan melewati uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR sebelum pengangkatan diresmikan.

Rekam Jejak Tiga Dekade di Bank Sentral

Destry Damayanti merupakan ekonom lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang melanjutkan pendidikan magister di Cornell University, Amerika Serikat. Ia membangun karier di Bank Indonesia sejak akhir 1980-an dan mengantongi pengalaman lebih dari 30 tahun di bidang moneter, mulai dari riset ekonomi, pengelolaan devisa, hingga perumusan kebijakan suku bunga. Ia juga pernah bertugas di kantor Dana Moneter Internasional (IMF), lembaga keuangan multilateral yang berpusat di Washington DC, sehingga memiliki jejaring internasional yang kuat.

Sejak Agustus 2019, Destry menjabat Deputi Gubernur Senior BI, posisi tertinggi kedua di bank sentral yang membawahi antara lain kebijakan moneter dan sistem pembayaran. Apabila disahkan DPR, ia akan mencatatkan sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin Bank Indonesia sejak bank sentral ini berdiri pada 1953.

Di Satu Sisi: Kontinuitas dan Kredibilitas Teknokrat

Dari sudut pandang positif, penunjukan kandidat internal menawarkan kontinuitas kebijakan — sesuatu yang umumnya disukai pasar karena mengurangi ketidakpastian. Destry terlibat langsung dalam penanganan berbagai episode tekanan ekonomi, mulai dari krisis keuangan Asia 1997/1998, krisis global 2008, hingga gejolak pandemi 2020. Rekam jejak ini dinilai sejumlah pengamat sebagai modal penting untuk menjaga sentimen pasar tetap stabil.

Dari sisi data, kondisi yang akan ia kelola juga relatif solid: inflasi terkendali di bawah 2 persen, cadangan devisa berada di kisaran US$150 miliar, serta sistem pembayaran digital yang berkembang pesat. Pendekatan kebijakan moneter yang hati-hati dan berbasis data selama ini dinilai sejalan dengan profil kepemimpinannya.

Di Sisi Lain: Calon Tunggal dan Ujian Independensi

Meski demikian, mekanisme calon tunggal menuai catatan kritis. Sebagian pengamat menilai DPR kehilangan ruang perbandingan karena tidak ada kandidat alternatif, sehingga proses seleksi berisiko menjadi formalitas. Isu kedua yang tak kalah penting adalah independensi bank sentral, yakni kebebasan BI menentukan kebijakan moneter tanpa intervensi kepentingan jangka pendek.

Kekhawatiran ini muncul karena pemerintahan saat ini memiliki agenda fiskal yang ambisius, termasuk program makan bergizi gratis dan sejumlah proyek prioritas yang membutuhkan pembiayaan besar. Pasar akan mencermati apakah gubernur baru mampu menjaga keseimbangan antara mendukung pertumbuhan dan mempertahankan mandat utama BI, yaitu stabilitas nilai rupiah. Pengalaman berbagai negara menunjukkan, kredibilitas bank sentral yang terkikis biasanya dibayar mahal lewat pelemahan mata uang dan melonjaknya imbal hasil obligasi.

Agenda Berat: Rupiah, Suku Bunga, dan Arus Modal

Siapa pun yang memimpin BI akan menghadapi medan yang tidak ringan. Rupiah sempat menembus level di atas Rp16.500 per dolar AS pada April 2025, tertekan oleh kebijakan tarif Amerika Serikat dan kekhawatiran capital outflow — keluarnya dana asing dari pasar domestik. Suku bunga acuan yang berada di kisaran 5,5 hingga 5,75 persen menempatkan BI pada posisi dilematis: menurunkan bunga demi mendorong kredit berisiko memperberat tekanan rupiah, sementara mempertahankan bunga tinggi dapat menghambat likuiditas atau ketersediaan dana di perbankan.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi 2025 yang berada di sekitar 4,7 hingga 5,0 persen juga menuntut koordinasi erat antara otoritas moneter dan fiskal, tanpa mengorbankan kedisiplinan masing-masing pihak.

Implikasi bagi Pasar Keuangan

Bagi investor, pergantian pucuk pimpinan bank sentral biasanya memengaruhi valuasi aset dan komposisi portofolio. Selama proses uji kelayakan berlangsung, volatilitas di pasar obligasi dan valuta asing berpotensi meningkat karena pelaku pasar menanti sinyal arah kebijakan. Di satu sisi, figur internal yang kredibel berpeluang meredakan kegaduhan; di sisi lain, pasar tetap akan menguji komitmen independensi melalui keputusan-keputusan awal kepemimpinan baru.

Pada akhirnya, penunjukan Destry Damayanti membawa dua narasi sekaligus: harapan akan kontinuitas kebijakan yang terukur, sekaligus pertanyaan besar tentang seberapa teguh bank sentral menjaga jarak dari tarik-menarik kepentingan. Jawabannya akan menentukan arah tren rupiah, suku bunga, dan kepercayaan investor dalam beberapa tahun ke depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User