Destry Damayanti Calon Tunggal Gubernur BI: Dua Sisi Keberlanjutan Moneter
Berdasarkan data Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2025, inflasi Indonesia tercatat sebesar 1,03 persen year-on-year, berada di dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen, sementara ca...
Berdasarkan data Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2025, inflasi Indonesia tercatat sebesar 1,03 persen year-on-year, berada di dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen, sementara cadangan devisa berada pada level 157,1 miliar dolar AS. Di tengah fundamental makroekonomi yang relatif terjaga tersebut, Presiden Prabowo Subianto mengirimkan surat resmi kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berisi usulan satu nama calon Gubernur Bank Indonesia, yakni Deputi Gubernur Senior BI saat ini, Destry Damayanti. Surat itu membuka rangkaian proses suksesi kepemimpinan bank sentral, mengingat masa jabatan Gubernur BI Perry Warjiyo akan berakhir pada Mei 2025 setelah memimpin dua periode sejak 2018.
Pengusulan calon tunggal sebenarnya bukan praktik baru dalam tata kelola bank sentral Indonesia. Pada 2018 dan 2023, pemerintahan sebelumnya juga hanya mengajukan satu nama kepada DPR untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test di Komisi XI. Kendati demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan legislatif, yang akan menilai visi, rekam jejak, dan rencana kebijakan calon sebelum memberikan persetujuan resmi.
Rekam Jejak Internal dan Pesan Keberlanjutan
Destry Damayanti merupakan ekonom lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dengan gelar magister dari Cornell University, Amerika Serikat. Kariernya panjang di sektor perbankan nasional, antara lain sebagai direktur di Bank Mandiri, sebelum dipercaya menjadi Deputi Gubernur Senior BI sejak Agustus 2019. Di bank sentral, ia dikenal mengawal modernisasi sistem pembayaran, pengembangan rupiah digital, serta penguatan kebijakan makroprudensial, yaitu kebijakan yang bertujuan menjaga kesehatan sistem keuangan secara keseluruhan, bukan sekadar bank per bank.
"Pengusulan figur internal mengirim sinyal keberlanjutan. Pasar tidak perlu menebak-nebak arah baru kebijakan moneter karena calon berasal dari tim yang selama ini merumuskan bauran kebijakan BI," ujar seorang ekonom senior pasar modal di Jakarta.
Di Satu Sisi: Kepastian bagi Sentimen Pasar
Di satu sisi, kalangan pelaku pasar menilai langkah ini meredakan ketidakpastian. Pengalaman menunjukkan, masa transisi kepemimpinan bank sentral kerap dibayangi spekulasi mengenai arah suku bunga dan kebijakan nilai tukar. Dengan calon tunggal yang berasal dari internal, pasar memperoleh gambaran bahwa kerangka penargetan inflasi, yakni strategi bank sentral menjaga inflasi tetap rendah dan stabil, akan berlanjut. Sepanjang 2024, BI berhasil menahan inflasi di level 1,57 persen, salah satu yang terendah di kawasan, sementara ekonomi nasional tumbuh 5,03 persen.
Dari sisi likuiditas, keberlanjutan juga dinilai penting karena BI tengah mengembangkan instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik dana asing. Data per kuartal I-2025 menunjukkan kepemilikan asing pada instrumen tersebut berada di atas Rp250 triliun, menjadi penyangga aliran modal di tengah ketidakpastian kebijakan global. Bagi portofolio investor, konsistensi kepemimpinan dianggap mengurangi risiko kejutan kebijakan yang dapat memicu volatilitas pasar obligasi maupun valuta asing.
Di Sisi Lain: Independensi dan Tantangan Global
Di sisi lain, sejumlah pengamat menyoroti risiko dari skema calon tunggal. Pertama, ruang uji komparatif di DPR menjadi sempit karena legislatif tidak memiliki kandidat pembanding untuk menimbang gagasan alternatif. Kedua, muncul pertanyaan mengenai independensi bank sentral di tengah ambisi fiskal pemerintahan baru. Program berskala besar seperti makan bergizi gratis dan pembentukan badan pengelola investasi Danantara membutuhkan pembiayaan signifikan, sehingga pasar mencermati sejauh mana BI ke depan mampu menjaga jarak yang sehat antara kebijakan moneter dan kepentingan fiskal.
Tekanan eksternal juga nyata adanya. Rupiah sempat melemah hingga menembus kisaran Rp16.800 per dolar AS pada awal April 2025, terimbas kebijakan tarif Amerika Serikat dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Negeri Paman Sam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan sempat anjlok lebih dari 5 persen dalam satu sesi pada Maret 2025 hingga memicu penghentian perdagangan sementara. Dalam situasi demikian, gubernur baru akan langsung menghadapi ujian menjaga stabilitas nilai tukar tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan ekonomi.
"Kredibilitas bank sentral diukur dari konsistensi menjaga inflasi dan nilai tukar, bukan dari kedekatan dengan kekuasaan. Uji sesungguhnya bagi kepemimpinan baru BI adalah ketika tekanan fiskal dan gejolak global datang pada saat bersamaan," kata seorang pengamat ekonomi yang pernah berkarier di bank investasi.
Proyeksi: Agenda Berat Menanti
Ke depan, pemimpin baru BI akan menghadapi tiga agenda berat. Pertama, menjaga inflasi tetap dalam sasaran di tengah potensi pelemahan rupiah. Kedua, mengelola risiko capital outflow, yakni keluarnya dana asing dari pasar domestik, akibat ketidakpastian kebijakan global. Ketiga, memastikan transmisi kebijakan moneter berjalan efektif ke sektor riil. BI Rate saat ini berada di level 5,75 persen setelah dipangkas 25 basis poin pada Januari 2025, sementara suku bunga acuan bank sentral AS bertahan di 4,25–4,50 persen, sehingga ruang pelonggaran lanjutan relatif terbatas.
Pada akhirnya, pengusulan Destry Damayanti sebagai calon tunggal dapat dibaca melalui dua lensa: sebagai jaminan keberlanjutan yang menenangkan sentimen pasar, atau sebagai pilihan yang menyempitkan kontestasi gagasan di parlemen. Keputusan akhir kini berada di tangan DPR melalui mekanisme uji kelayakan yang transparan. Bagi investor dan masyarakat luas, indikator yang patut dicermati bukan sekadar siapa yang memimpin bank sentral, melainkan bagaimana BI menjaga fundamental stabilitas harga, valuasi rupiah, dan kepercayaan pasar dalam lima tahun ke depan.
Comments (0)