Destry Calon Tunggal Gubernur BI, Airlangga Sampaikan Dukungan Terbuka

Berdasarkan data Bank Indonesia per Desember 2024, inflasi year-on-year tercatat sebesar 1,57%, masih berada dalam koridor target 2,5%±1%, sementara Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan e...

Aug 12, 2026 - 10:58
0 0
Destry Calon Tunggal Gubernur BI, Airlangga Sampaikan Dukungan Terbuka

Berdasarkan data Bank Indonesia per Desember 2024, inflasi year-on-year tercatat sebesar 1,57%, masih berada dalam koridor target 2,5%±1%, sementara Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5% secara year-on-year. Di tengah fundamental makroekonomi yang relatif stabil tersebut, estafet kepemimpinan di bank sentral memasuki fase krusial. Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), ditetapkan sebagai calon tunggal Gubernur BI definitif dan akan menjalani uji kelayakan serta kepatutan di DPR.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto memberikan respons yang terbilang tak terduga. Alih-alih berkomentar normatif, ia secara terbuka menyampaikan dukungan terhadap pencalonan Destry, sembari menekankan pentingnya kesinambungan kebijakan moneter. Menurutnya, pengalaman panjang Destry di bank sentral menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas harga dan nilai tukar di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

"Komitmen menjaga stabilitas moneter memerlukan figur yang memahami secara mendalam dinamika pasar keuangan domestik maupun global, dan rekam jejak di internal bank sentral menjadi nilai tambah yang signifikan," ujar seorang ekonom senior menanggapi pencalonan tersebut.

Rekam Jejak Panjang di Bank Sentral

Destry Damayanti bukan nama baru di lingkungan bank sentral. Ia menjabat Deputi Gubernur Senior sejak 2019 dan sebelumnya sempat menjadi anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Kariernya juga mencakup pengalaman di sektor pasar modal dan keuangan internasional. Dari sisi fundamental kelembagaan, latar belakang tersebut dinilai memperkuat kredibilitas bank sentral di mata investor, baik domestik maupun asing.

Sepanjang masa jabatannya, BI menghadapi sejumlah ujian berat, mulai dari pandemi Covid-19, lonjakan inflasi global akibat konflik geopolitik, hingga tren kenaikan suku bunga agresif bank sentral Amerika Serikat (The Fed). BI Rate sempat menyentuh level 6% sebelum akhirnya mengalami penurunan bertahap. Kebijakan campuran antara pengendalian inflasi dan dukungan terhadap pertumbuhan menjadi ciri khas periode tersebut.

Di Satu Sisi: Kepastian bagi Sentimen Pasar

Di satu sisi, status calon tunggal memberikan kepastian bagi pelaku pasar. Tidak adanya kontestasi kandidat mengurangi ketidakpastian politik yang biasanya memicu volatilitas, yaitu fluktuasi harga aset dalam jangka pendek. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pasar surat berharga negara (SBN) cenderung merespons positif transisi kepemimpinan yang mulus, karena investor dapat memproyeksikan kontinuitas kebijakan moneter tanpa gangguan berarti.

Dari sisi likuiditas, yakni ketersediaan dana di sistem keuangan, pasar juga menanti kelanjutan kebijakan makroprudensial yang selama ini menjaga rasio kecukupan modal perbankan (CAR) di atas 25%, jauh melampaui batas minimum regulator. Stabilitas tersebut menjadi penyangga utama kepercayaan investor terhadap portofolio aset berdenominasi rupiah.

Di Sisi Lain: Pertanyaan soal Alternatif dan Independensi

Di sisi lain, munculnya satu nama saja memicu pertanyaan dari sebagian pengamat. Tanpa kandidat pembanding, ruang publik untuk menguji visi dan gagasan calon menjadi lebih sempit. Sebagian kalangan juga menyoroti pentingnya independensi bank sentral, mengingat dukungan terbuka dari pemerintah dapat dipersepsikan berbeda oleh pasar, meski secara konstitusional proses seleksi tetap berada di tangan DPR.

Pro dan kontra semacam ini wajar dalam setiap transisi kepemimpinan lembaga strategis. Yang terpenting, menurut para ekonom, adalah komitmen calon terhadap mandat utama BI: menjaga stabilitas nilai rupiah, baik terhadap barang dan jasa melalui pengendalian inflasi, maupun terhadap mata uang negara lain melalui stabilitas kurs.

Tantangan Berat Menanti Gubernur Baru

Siapa pun yang memimpin BI akan menghadapi lanskap global yang tidak mudah. Nilai tukar rupiah sempat bergerak di kisaran Rp16.000 per dolar AS, tertekan oleh tren penguatan dolar dan risiko capital outflow, yaitu keluarnya modal asing dari pasar domestik. Selisih suku bunga antara dalam dan luar negeri yang menyempit membuat daya tarik aset rupiah mengalami penurunan di mata investor global.

Selain itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang direvisi turun oleh sejumlah lembaga internasional menambah kompleksitas kebijakan. Gubernur BI baru harus menyeimbangkan dua tujuan yang kerap berseberangan: menjaga stabilitas kurs sekaligus menyediakan ruang pelonggaran untuk mendorong kredit dan pertumbuhan. Dari sisi valuasi, harga aset keuangan domestik yang relatif murah bisa menjadi peluang, tetapi juga mencerminkan kehati-hatian pasar.

Menanti Arah Kebijakan ke Depan

Pada akhirnya, uji kelayakan di DPR akan menjadi panggung utama bagi Destry untuk memaparkan visi moneternya. Pasar akan mencermati sinyal arah BI Rate, strategi stabilisasi rupiah, serta pendalaman pasar keuangan. Di satu sisi, kontinuitas memberi rasa aman; di sisi lain, publik menanti terobosan agar bank sentral makin adaptif terhadap perubahan global. Bagi investor dan pelaku usaha, kejelasan arah kebijakan itulah yang pada akhirnya menentukan sentimen pasar dalam beberapa kuartal ke depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User