Oct 14, 2026
Bisnis

Defisit APBN Melebar Rp319 Triliun, Pendapatan Baru 74,5 Persen Target

Berdasarkan data Kementerian Keuangan per akhir September 2026, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melebar menjadi Rp319 triliun atau setara 1,24 persen terhadap Produk Domestik Bru...

Defisit APBN Melebar Rp319 Triliun, Pendapatan Baru 74,5 Persen Target

Berdasarkan data Kementerian Keuangan per akhir September 2026, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melebar menjadi Rp319 triliun atau setara 1,24 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini menunjukkan pelebaran dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, seiring pendapatan negara yang baru terealisasi Rp2.341,5 triliun atau 74,5 persen dari target tahunan. Defisit sendiri dalam terminologi fiskal adalah selisih antara belanja dan penerimaan, yang menandakan pemerintah harus menutup kekurangan melalui utang atau sumber pembiayaan lain.

Pendapatan Negara Tertinggal dari Laju Belanja

Di satu sisi, realisasi pendapatan 74,5 persen dari target mencerminkan adanya tantangan dalam mengumpulkan penerimaan, terutama dari sektor perpajakan yang sangat bergantung pada aktivitas ekonomi. Perlambatan harga komoditas global serta moderasi permintaan ekspor menjadi faktor yang menekan setoran pajak dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Kondisi ini diperparah oleh tren penurunan belanja konsumsi rumah tangga pada kuartal III, yang secara langsung berdampak pada penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Di sisi lain, pemerintah menilai angka tersebut masih on-track menuju target defisit tahunan yang dipatok di kisaran 2,3 persen hingga 2,5 persen terhadap PDB. Pelebaran defisit hingga September sebenarnya mengikuti pola musiman, di mana belanja negara biasanya terkonsentrasi pada semester kedua, sementara pendapatan baru mengalir deras pada kuartal IV. Fundamental fiskal dinilai masih terjaga selama rasio utang terhadap PDB bertahan di bawah batas aman 60 persen.

"Pelebaran defisit ini perlu dilihat dalam konteks siklus fiskal tahunan. Yang lebih penting adalah apakah penerimaan di kuartal IV mampu mengejar ketertinggalan, terutama dari sektor pajak badan dan PPh orang pribadi," ujar seorang ekonom fiskal dari lembaga riset independen.

Sentimen Pasar dan Risiko Capital Outflow

Pro: Pasar obligasi negara Indonesia masih menunjukkan permintaan yang solid, terlihat dari lelang Surat Berharga Negara (SBN) yang tetap oversubscribed pada beberapa pekan terakhir. Likuiditas perbankan juga terjaga, dengan rasio kecukupan modal (CAR) industri berada di level 25 persen. Ini berarti pembiayaan defisit masih bisa diserap pasar domestik tanpa menekan valuasi rupiah secara signifikan.

Kontra: Ketidakpastian kebijakan moneter global, terutama arah suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat, menjadi sentimen pasar yang patut dicermati. Jika selisih imbal hasil (yield spread) antara SBN Indonesia dan obligasi AS menyempit terlalu tajam, risiko capital outflow atau aliran modal keluar dapat meningkat. Dalam skenario itu, pemerintah berpotensi menghadapi biaya utang yang lebih tinggi pada sisa tahun anggaran, yang pada akhirnya memperlebar defisit.

Proyeksi dan Dampak ke Ekonomi Riil

Dari sisi proyeksi, sejumlah analis memperkirakan defisit APBN akan mengakhiri 2026 di kisaran 2,4 persen hingga 2,6 persen terhadap PDB. Proyeksi ini mempertimbangkan perlambatan tren penerimaan pajak serta kebutuhan belanja yang tetap tinggi menjelang tahun politik dan pelaksanaan program prioritas. Indeks kepercayaan konsumen yang masih relatif stabil di atas 120 menjadi penopang utama bahwa konsumsi domestik belum sepenuhnya melemah.

Namun, perlu dicatat bahwa pelebaran defisit tidak otomatis berdampak negatif jika digunakan untuk belanja produktif seperti infrastruktur dan perlindungan sosial. Rasio defisit 1,24 persen hingga September masih tergolong moderat dibandingkan negara peers di kawasan ASEAN, beberapa di antaranya mencatat defisit di atas 3 persen terhadap PDB. Yang perlu dijaga adalah disiplin dalam menjaga kredibilitas fiskal agar portofolio investor global tetap tertarik menempatkan dana di instrumen negara.

Ke depan, perhatian utama tertuju pada realisasi penerimaan di kuartal IV. Jika target pendapatan Rp3.141 triliun (angka target penuh) dapat dicapai, pemerintah masih memiliki ruang untuk menutup defisit tanpa harus mengerek penerbitan utang di luar rencana. Sebaliknya, jika shortfall penerimaan berlanjut, opsi menambah pembiayaan melalui SBN menjadi keniscayaan yang harus dikelola hati-hati agar tidak mengganggu stabilitas nilai tukar dan inflasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User