Debut Zaki Ubaidillah dan Satu Ganda Campuran Indonesia di Japan Open 2026
Skuad bulu tangkis Indonesia telah merampungkan sesi latihan final di Tokyo Metropolitan Gymnasium, menandakan geliat persiapan maksimal menjelang Japan Open 2026. Turnamen berlevel Super 750 ini akan...
Skuad bulu tangkis Indonesia telah merampungkan sesi latihan final di Tokyo Metropolitan Gymnasium, menandakan geliat persiapan maksimal menjelang Japan Open 2026. Turnamen berlevel Super 750 ini akan dihelat pada 14-19 Juli dan menjadi panggung pembuktian bagi sejumlah wajah baru, termasuk Moh Zaki Ubaidillah yang akan mencatatkan debut di level elite BWF World Tour. Sementara itu, sektor ganda campuran Merah-Putih hanya mengandalkan satu wakil, menyusut dibandingkan edisi sebelumnya akibat perombakan pasangan dan prioritas regenerasi.
Persiapan Intensif di Negeri Sakura
Kedatangan tim Indonesia di Tokyo pada awal pekan langsung disambut dengan menu latihan pemantapan teknik dan adaptasi lapangan. Pelatih kepala sektor tunggal putra, Irwansyah, memantau langsung sesi yang berlangsung selama dua jam setiap harinya sejak Senin (11/7). Ia menekankan pentingnya membangun kepercayaan diri dan membaca karakteristik shuttlecock di dataran rendah yang berbeda dari latihan di Pelatnas Cipayung.
Kondisi Tokyo Metropolitan Gymnasium yang legendaris—pernah menjadi arena Olimpiade 2020—memberikan atmosfer tersendiri. Suhu di dalam gedung yang dijaga sekitar 22 derajat Celsius dan sistem ventilasi yang minim hembusan membuat pemain harus cermat mengontrol akurasi pukulan. Manajer tim menambahkan satu sesi latihan mental pada Rabu (13/7) untuk mengasah fokus, terutama bagi pemain muda yang minim pengalaman di turnamen besar.
Debut yang Dinanti: Zaki Ubaidillah
Nama Moh Zaki Ubaidillah menjadi sorotan utama. Pemain berusia 19 tahun asal DKI Jakarta ini diproyeksikan sebagai calon tulang punggung tunggal putra masa depan. Musim ini ia mencatat lonjakan peringkat BWF dari posisi 150 ke 78 dunia berkat kemenangan di International Challenge dan penampilan solid di beberapa turnamen kontinental. Japan Open 2026 akan menjadi pengalaman pertamanya di Super 750, sekaligus ujian mental untuk bersaing dengan pemain papan atas.
Zaki mengaku tidak terbebani. “Saya melihat ini sebagai bonus sekaligus batu loncatan. Lawan yang akan saya hadapi di babak pertama adalah pemain berpengalaman, tapi saya sudah mempelajari rekaman pertandingan mereka,” ujarnya usai latihan, Kamis (13/7). Irwansyah menambahkan bahwa penampilan Zaki tidak melulu diukur dari hasil akhir. “Kami ingin melihat sejauh mana ia mampu menerjemahkan instruksi di lapangan dan menjaga ketenangan dalam tempo tinggi,” katanya.
Ganda Campuran: Satu Wakil, Beban Besar?
Lain cerita di nomor ganda campuran. Indonesia hanya diwakili pasangan anyar yang baru bergabung sejak awal 2026 setelah evaluasi pasca-All England. Berkurangnya jumlah wakil ini terkait dengan kebijakan pelatih untuk memfokuskan regenerasi dan memberi kesempatan kepada kombinasi yang lebih segar. Meski demikian, beban untuk mempertahankan tradisi sektor ini tetap besar mengingat Indonesia pernah melahirkan juara dunia di nomor tersebut.
Pelatih ganda campuran Nova Widianto menuturkan bahwa pemusatan latihan selama tiga pekan di Tokyo memberi waktu cukup untuk memperkuat chemistry. “Pasangan baru ini punya potensi, terutama dalam hal kecepatan dan antisipasi net. Japan Open akan menjadi tolok ukur sejauh mana mereka bisa bersaing di level atas,” jelasnya. Ia juga menyoroti pentingnya mengurangi unforced error yang kerap muncul di momen-momen kritis.
Statistik menunjukkan bahwa sejak 2022, Indonesia rata-rata mengirimkan dua hingga tiga wakil ganda campuran di turnamen Super 750. Penurunan jumlah ini, kata pengamat, bukan semata karena masalah regenerasi, tetapi juga penyesuaian strategi menghadapi padatnya kalender BWF. Dengan hanya satu pasangan, fokus pendampingan dan analisis lawan bisa lebih tajam dan spesifik.
Tantangan dan Harapan di Panggung Internasional
Japan Open 2026 menyajikan persaingan ketat dari para unggulan tuan rumah seperti Kodai Naraoka dan Akane Yamaguchi. Di sektor ganda campuran, Jepang juga mengandalkan Yuta Watanabe/Arisa Higashino yang telah kembali dari jeda kompetisi. Meski demikian, tim Indonesia tidak gentar. Data dari BWF menunjukkan bahwa performa pemain Merah-Putih di turnamen Asia akhir-akhir ini cukup menjanjikan: sepanjang 2025, Indonesia membukukan tiga gelar Super 500 dan dua final Super 750, meski belum menyentuh puncak podium di level tersebut.
Kuncinya terletak pada adaptasi cepat terhadap lapangan dan tekanan penonton Jepang yang terkenal fanatik. “Kami telah menyiapkan simulasi keramaian dan fokus pada poin demi poin,” jelas psikolog tim. Dukungan official partner juga memastikan logistik dan pemulihan berjalan lancar, termasuk penggunaan sport massage dan nutrisi khusus.
Dengan kombinasi pemain debutan dan strategi baru di ganda campuran, Japan Open 2026 diharapkan menjadi titik awal konsistensi prestasi Indonesia menuju Olimpiade 2028. Meski skuad kali ini tidak sebesar biasanya, semangat Merah-Putih tetap membara di Tokyo Metropolitan Gymnasium. Masyarakat bulu tangkis Tanah Air menantikan kejutan dan performa terbaik dari setiap laga yang akan dimulai pada 14 Juli besok.
Baca juga:
Comments (0)