MBG Berlanjut, Harga Daging Ayam di Medan Melonjak

Kota Medan dan wilayah sekitarnya saat ini tengah mengalami tekanan pada harga pangan pokok, khususnya daging ayam segar yang menjadi salah satu sumber protein utama masyarakat. Dalam beberapa hari te...

Kota Medan dan wilayah sekitarnya saat ini tengah mengalami tekanan pada harga pangan pokok, khususnya daging ayam segar yang menjadi salah satu sumber protein utama masyarakat. Dalam beberapa hari terakhir, terpantau adanya pergerakan harga yang cukup tajam di sejumlah pasar tradisional. Kenaikan ini beriringan dengan dimulainya kembali program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sebelumnya sempat tertunda, sehingga menimbulkan gelombang permintaan baru di tingkat pedagang besar maupun pengecer.

Kenaikan Signifikan di Pasar Tradisional

Berdasarkan penelusuran di lapangan, harga daging ayam broiler segar di Pasar Petisah, Pasar Sukaramai, hingga Pasar Simpang Limun kini menyentuh kisaran Rp42.000 hingga Rp45.000 per kilogram. Padahal, pada pekan lalu harga masih bertahan di rentang Rp34.000 hingga Rp36.000 per kilogram. Kenaikan sekitar 20–25 persen dalam waktu singkat ini cukup mengejutkan para konsumen rumah tangga yang mengandalkan ayam sebagai menu harian. Sejumlah pedagang mengaku bahwa lonjakan harga mulai terasa sejak dua hari pascapemberlakuan kembali program MBG di sekolah-sekolah, meskipun mereka tidak bisa memastikan apakah kenaikan semata-mata disebabkan oleh program tersebut.

Di beberapa titik, pasokan daging ayam juga tampak lebih terbatas dari biasanya. Pedagang mengeluhkan bahwa dari pemasok, stok yang dikirim tidak sebanyak sebelumnya, sehingga mau tidak mau mereka harus menyesuaikan harga jual. Situasi ini membuat suasana di pasar menjadi sedikit ramai dengan pembeli yang menawar, namun banyak di antaranya terpaksa mengurangi jumlah belanjaan atau beralih ke sumber protein lain seperti telur dan ikan.

Program MBG dan Tarikan Permintaan

Bergulirnya kembali MBG yang menyasar ribuan siswa di Medan secara langsung mendorong peningkatan permintaan bahan baku pangan, termasuk daging ayam. Program ini menargetkan penyediaan makanan bergizi setiap hari bagi peserta didik, yang berarti ada kebutuhan rutin dalam jumlah besar. Para penyedia katering dan dapur umum yang ditunjuk pemerintah daerah mulai menyerap pasokan dari peternak dan distributor, menciptakan tekanan pada rantai pasok yang sebelumnya lebih longgar.

Di satu sisi, kondisi ini menguntungkan peternak karena harga jual ayam hidup di tingkat peternak ikut terangkat. Harga ayam hidup kini berada pada kisaran Rp24.000 per kilogram, naik dari sebelumnya yang sempat menyentuh titik terendah Rp18.000 per kilogram. Namun, di sisi lain, lonjakan yang terlalu cepat dikhawatirkan akan membebani daya beli masyarakat umum, terutama di tengah pemulihan ekonomi yang belum sepenuhnya merata. Efek substitusi juga mulai terlihat, di mana sebagian konsumen beralih ke daging sapi atau bahkan mengurangi konsumsi daging sama sekali.

Dinamika Rantai Distribusi dan Biaya Produksi

Selain faktor permintaan dari program MBG, terdapat juga faktor struktural yang turut mendongkrak harga. Biaya pakan ternak yang diimpor masih menunjukkan tren meningkat akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Komponen biaya produksi seperti jagung dan bungkil kedelai mengalami kenaikan rata-rata 5–7 persen dalam dua bulan terakhir, yang kemudian diteruskan ke harga jual ayam hidup. Di sisi logistik, distribusi dari sentra produksi di Sumatera Utara ke Kota Medan juga mengalami sedikit hambatan akibat perbaikan infrastruktur jalan di beberapa ruas, membuat waktu tempuh lebih panjang dan biaya angkut membengkak.

Para pedagang di pasar tradisional berada dalam posisi yang sulit. Mereka harus menaikkan harga agar tidak merugi, namun di saat yang sama takut kehilangan pelanggan. Seorang pedagang di Pasar Petisah mengungkapkan bahwa omzetnya turun hampir 30 persen karena banyak pembeli yang mengurangi jumlah kilogram yang dibeli. Beberapa pedagang bahkan terpaksa menjual ayam dengan potongan lebih kecil untuk menyesuaikan anggaran belanja konsumen.

Respons Pemerintah dan Harapan Stabilisasi

Pemerintah Kota Medan melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian mengakui adanya fluktuasi harga dan tengah berkoordinasi dengan Bulog serta asosiasi peternak untuk memastikan pasokan tetap lancar. Rencana operasi pasar murah sedang disiapkan untuk menekan harga eceran di tingkat konsumen. Di samping itu, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) juga memperketat pemantauan distribusi agar tidak terjadi penimbunan yang memperparah situasi.

Pemerintah optimistis bahwa lonjakan ini bersifat musiman dan akan mereda seiring dengan penyesuaian rantai pasok terhadap program MBG. Di sisi lain, para pengamat ekonomi menyarankan perlunya subsidi pakan ternak atau relaksasi impor bahan baku pakan untuk meredam biaya produksi secara struktural, sehingga harga daging ayam dapat stabil dalam jangka panjang. “Program MBG positif, tetapi kita butuh perencanaan pasokan yang matang,” ujar salah seorang pengamat pangan dari Universitas Sumatera Utara.

Kenaikan harga daging ayam di Medan ini menjadi cerminan dari tarik-menarik antara kebijakan sosial dan mekanisme pasar. Selama program MBG masih berjalan dan tidak diimbangi dengan intervensi pasokan yang memadai, potensi tekanan harga terhadap komoditas pangan strategis seperti ayam akan terus membayangi. Masyarakat pun diharapkan lebih bijak dalam mengelola konsumsi dan memanfaatkan alternatif sumber protein yang lebih terjangkau selama masa transisi.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User