Ledakan Bom Rakitan Guncang Dadaha, Pelaku Eks JAD Diringkus Densus

Suasana pagi di kawasan pusat kuliner Dadaha, Tasikmalaya, mendadak berubah mencekam setelah dentuman keras yang berasal dari sebuah perangkat rakitan menghancurkan ketenangan warga yang tengah berakt...

Suasana pagi di kawasan pusat kuliner Dadaha, Tasikmalaya, mendadak berubah mencekam setelah dentuman keras yang berasal dari sebuah perangkat rakitan menghancurkan ketenangan warga yang tengah beraktivitas. Peristiwa yang berlangsung di tengah keramaian pedagang kaki lima ini sontak memicu kepanikan massal dan meninggalkan jejak kerusakan di lokasi kejadian. Aparat keamanan yang tiba di tempat kejadian dengan cepat mengamankan area dan menemukan fakta mengejutkan: pelaku di balik aksi teror tersebut merupakan seorang mantan anggota jaringan terorisme Jamaah Ansharut Daulah, atau yang lebih dikenal dengan singkatan JAD.

Kronologi dan Dampak Ledakan di Pusat Keramaian

Menurut keterangan saksi mata, perangkat eksplosif rakitan itu meledak secara tiba-tiba di sekitar area parkir dan deretan lapak dagangan yang mulai dipadati pengunjung. Getaran yang dihasilkan terasa hingga radius puluhan meter, memecahkan kaca beberapa bangunan di sekitar titik pusat ledakan. Sejumlah pedagang dan warga yang berada di lokasi mengalami luka ringan akibat serpihan material serta mengalami guncangan psikologis yang cukup berat. Tim penjinak bom dari Kepolisian Resor Tasikmalaya bersama personel Densus 88 Antiteror Mabes Polri segera melakukan sterilisasi menyeluruh guna mengantisipasi adanya ancaman susulan. Dari hasil olah tempat kejadian perkara, petugas menemukan sisa-sisa komponen elektronik, serpihan logam, paku, dan bubuk bahan peledak berdaya ledak rendah yang umumnya dirakit secara sederhana namun memiliki potensi melukai secara masif dalam ruang terbuka. Barang bukti tersebut kemudian dibawa ke laboratorium forensik untuk diuji lebih lanjut guna mengidentifikasi komposisi kimiawi serta asal material penyusunnya.

Kawasan Dadaha yang selama ini dikenal sebagai ikon wisata kuliner malam dan pusat ekonomi kerakyatan langsung disterilkan selama berjam-jam. Aktivitas perdagangan lumpuh total. Pemerintah daerah setempat berkoordinasi dengan aparat untuk memberikan trauma healing bagi korban, khususnya anak-anak dan lansia yang menyaksikan langsung kejadian traumatis tersebut.

Profil Pelaku dan Jejak Jaringan JAD

Penyelidikan intensif yang dilakukan Densus 88 akhirnya mengarah pada seorang pria berinisial AAS. Pelaku tidak melancarkan aksinya secara acak; ia diduga kuat telah melakukan pengintaian terhadap target selama beberapa waktu sebelum memutuskan untuk meledakkan bom rakitan di tempat umum. AAS diketahui telah menjalani masa hukuman dalam kasus terorisme sebelumnya dan sempat dinyatakan bebas beberapa tahun lalu. Selama berada di lembaga pemasyarakatan, pria ini tidak menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan dan justru tetap berpegang teguh pada ideologi radikal yang dianutnya. Setelah bebas, ia bergerak di bawah radar dengan memanfaatkan celah pengawasan, kembali terhubung dengan sel-sel tidur JAD di wilayah Priangan Timur.

Jamaah Ansharut Daulah sendiri merupakan organisasi terlarang yang telah dinyatakan sebagai jaringan terorisme oleh pengadilan. Mereka mengusung ideologi transnasional dengan menggunakan taktik amaliyah menggunakan bahan peledak rakitan yang dibangun dari komponen sehari-hari seperti bahan piroteknik, paku, dan rangkaian pemicu sederhana. Dalam berbagai aksi sebelumnya di tanah air, kelompok ini kerap menyasar fasilitas publik, simbol pemerintahan, dan pusat keramaian dengan motif menyebarkan ketakutan serta menunjukkan eksistensi di tengah tekanan aparat. Penangkapan AAS menjadi bukti bahwa proses deradikalisasi yang belum sepenuhnya tuntas dapat menjadi bom waktu yang membahayakan keselamatan publik.

Respons Aparat, Pengamanan Wilayah, dan Afirmasi Keamanan Nasional

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri menyatakan bahwa operasi penangkapan berlangsung dalam tempo singkat pasca-identifikasi. Dengan dukungan intelijen yang terpadu, tim Densus 88 berhasil membekuk AAS di kediaman sementaranya tanpa perlawanan berarti. Dari penggeledahan, aparat turut menyita sejumlah telepon genggam, buku-buku bermuatan radikal, serta alat komunikasi terenkripsi yang diduga digunakan untuk berinteraksi dengan simpul jaringan lainnya. Kapasitas deteksi dini terus diperkuat melalui patroli siber dan pemantauan terhadap eks narapidana terorisme.

Di sisi lain, pengamat terorisme dari Universitas Padjadjaran menilai bahwa serangan di Tasikmalaya ini menandakan pergeseran strategi dari serangan terencana berskala besar menjadi aksi sporadis yang dilakukan oleh pelaku tunggal atau lone wolf. Meskipun daya ledaknya relatif rendah, pemilihan lokasi di tengah keramaian PKL Dadaha memperlihatkan intensi untuk memaksimalkan dampak psikologis dan perhatian media. Situasi ini memicu diskusi publik mengenai perlunya reformulasi program deradikalisasi di dalam lapas, dengan menekankan pendekatan psikososial berkelanjutan, bukan sekadar pelatihan vokasional yang bersifat formalitas. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi ancaman serupa yang dapat muncul di wilayah-wilayah dengan riwayat aktivitas sel teroris di masa lalu. Pemerintah daerah bersama kepolisian resort berkomitmen meningkatkan intensitas patroli, khususnya di pusat ekonomi, objek wisata, dan simpul transportasi.

Proses hukum terhadap AAS terus bergulir dengan ancaman pasal berlapis, termasuk Undang-Undang Anti Terorisme yang memungkinkan hukuman maksimal penjara seumur hidup atau pidana mati. Aparat juga masih memburu potensi aktor lain yang terlibat dalam pendanaan atau penyediaan logistik pembuatan bom.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User