Unkhair Kembangkan Website Anti-Kekerasan untuk Sekolah di Ternate

Universitas Khairun (Unkhair) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) mengambil langkah inovatif dalam menekan angka kekerasan di lingkungan sekolah. Tim PKM Unkhair mengembangkan sebuah si...

Universitas Khairun (Unkhair) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) mengambil langkah inovatif dalam menekan angka kekerasan di lingkungan sekolah. Tim PKM Unkhair mengembangkan sebuah sistem pelaporan berbasis website dan menggelar program edukasi di SMA Negeri 4 Kota Ternate, Maluku Utara. Inisiatif ini bertujuan membekali siswa dan guru dengan alat deteksi dini serta mekanisme respons cepat terhadap setiap insiden kekerasan.

Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa kasus kekerasan di satuan pendidikan masih fluktuatif namun tetap memprihatinkan. Pada tahun 2023, tercatat lebih dari seratus laporan kekerasan fisik dan perundungan di sekolah, naik 15 persen dibandingkan periode sebelumnya. Lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman kerap berubah menjadi arena intimidasi verbal, fisik, hingga perundungan siber. Kondisi itu mendorong Unkhair untuk tidak hanya berteori di kelas, melainkan menyentuh persoalan riil masyarakat melalui program PKM yang menyasar pencegahan dan penanganan kekerasan.

Platform Digital sebagai Solusi Pelaporan Aman

Inovasi utama yang diperkenalkan adalah sistem pelaporan berbasis website khusus untuk SMAN 4 Ternate. Berbeda dari kanal pelaporan konvensional yang seringkali mengharuskan korban atau saksi menunjukkan identitas, platform ini dirancang untuk memprioritaskan anonimitas. Siswa dapat mengirimkan laporan melalui formulir digital yang hanya bisa diakses oleh konselor sekolah dan tim penanganan yang telah ditunjuk. Data yang masuk langsung terenkripsi dan tercatat dalam log audit sehingga potensi penyalahgunaan informasi dapat diminimalisasi.

Secara teknis, website ini memiliki sejumlah fitur pelengkap: fitur “lapor darurat” yang langsung mengirimkan notifikasi ke ponsel petugas, ruang konsultasi daring berbasis teks, serta bank data yang merekam tren kasus dari waktu ke waktu. Kepala sekolah dan dinas pendidikan setempat dapat memanfaatkan data agregat tersebut untuk merumuskan kebijakan berbasis bukti, bukan sekadar asumsi. “Kami tidak hanya ingin menyediakan kotak saran digital, tetapi juga membangun ekosistem perlindungan yang memutus rantai ketakutan siswa untuk bicara,” ujar Ketua Tim PKM Unkhair.

Edukasi dan Penguatan Kapasitas Warga Sekolah

Peluncuran website bukan satu-satunya fokus. Tim PKM Unkhair juga menggelar serangkaian workshop dan sosialisasi yang melibatkan siswa, guru, serta tenaga kependidikan. Materi yang disampaikan mencakup identifikasi bentuk-bentuk kekerasan—mulai dari kekerasan fisik, psikologis, seksual, hingga perundungan daring—serta teknik dasar pertolongan psikologis bagi korban. Peserta diajak melakukan simulasi penanganan kasus, mulai dari tahap menerima laporan, mendampingi korban, hingga menyusun rencana intervensi yang melibatkan orang tua dan pihak berwenang.

“Edukasi ini penting karena banyak guru masih kesulitan membedakan antara kenakalan remaja biasa dengan tindakan yang sudah masuk ranah pidana atau pelanggaran serius terhadap hak anak,” ujar salah seorang pemateri dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unkhair. Dengan adanya peningkatan literasi ini, sekolah diharapkan tidak lagi menutup-nutupi kasus demi menjaga citra, melainkan justru terbuka dan profesional dalam menyelesaikannya.

Respons Positif dan Rencana Perluasan

Kepala SMAN 4 Kota Ternate menyambut baik inisiatif ini dan menyatakan akan segera membentuk satuan tugas internal yang bertanggung jawab mengelola website serta menindaklanjuti setiap laporan. “Kami merasa terbantu karena selama ini pelaporan manual sering kali tidak terdokumentasi dengan baik. Sekarang kami punya rekam jejak digital yang bisa diaudit kapan saja,” ucapnya.

Keberhasilan program ini di SMAN 4 Ternate membuka peluang untuk diadopsi di sekolah-sekolah lain di bawah naungan Dinas Pendidikan Provinsi Maluku Utara. Tim PKM Unkhair berencana menyempurnakan platform tersebut berdasarkan masukan dari pengguna, termasuk menambahkan modul pembelajaran karakter dan konseling sebaya yang terintegrasi dengan sistem. Dalam jangka panjang, Unkhair mendorong agar setiap sekolah memiliki tim pencegahan kekerasan berbasis teknologi, sebagai bagian dari transformasi digital di sektor pendidikan.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, dan pemerintah daerah menjadi kunci keberlanjutan program. Dengan mengawinkan riset akademik dan aksi lapangan, Unkhair berharap dapat menekan prevalensi kekerasan di sekolah-sekolah Ternate, sekaligus menciptakan model penanganan yang dapat direplikasi secara nasional. “Kekerasan di sekolah adalah masalah kompleks yang membutuhkan pendekatan multiaspek. Website ini hanyalah pintu masuk; yang terpenting adalah komitmen bersama untuk mewujudkan lingkungan belajar yang benar-benar aman dan inklusif,” tandas Ketua Tim PKM.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User