Debit Sungai Barito Menyusut Drastis, Dasar Sungai Berubah Jadi Gurun Pasir
BARITO SELATAN — Pemandangan tak biasa kini terlihat di Sungai Barito, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Debit air sungai yang selama ini menjad
BARITO SELATAN — Pemandangan tak biasa kini terlihat di Sungai Barito, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Debit air sungai yang selama ini menjadi urat nadi transportasi dan kehidupan masyarakat menyusut drastis hingga hamparan pasir mulai terlihat di tengah sungai. Penampakan tersebut terekam dalam video yang beredar luas dan membuat banyak warga khawatir.
Sungai Barito merupakan salah satu sungai terbesar di Pulau Kalimantan dengan panjang mencapai ratusan kilometer. Sungai ini menjadi jalur transportasi utama, sumber mata pencaharian nelayan, serta pemasok air bersih bagi ribuan warga di sepanjang alirannya. Kondisi menyusutnya debit air secara drastis dalam beberapa waktu terakhir pun menjadi perhatian serius berbagai pihak.
Penampakan Sungai Berubah Bak Gurun Pasir
Dalam video yang beredar, terlihat jelas hamparan pasir yang luas muncul di tengah aliran Sungai Barito. Wilayah yang sebelumnya tertutup air kini tampak kering dan menyerupai gurun pasir. Kedalaman sungai dilaporkan menyusut drastis sehingga mengganggu aktivitas kapal dan perahu yang melintas, termasuk kapal pengangkut barang dan hasil bumi dari pedalaman Kalimantan.
Warga setempat mengaku belum pernah melihat kondisi Sungai Barito sekering ini dalam beberapa tahun terakhir. Aktivitas warga yang bergantung pada sungai, seperti mencuci, mandi, hingga mencari ikan, ikut terdampak. Para nelayan mengeluhkan hasil tangkapan yang menurun drastis karena ikan banyak yang mati atau berpindah ke lokasi yang lebih dalam.
Urat Nadi Kehidupan yang Mulai Terganggu
Sungai Barito tidak hanya berfungsi sebagai jalur transportasi. Ratusan hektare sawah dan perkebunan warga di sepanjang bantaran bergantung pada air sungai untuk irigasi. Para petani mulai mengeluhkan sawah yang kekeringan, sementara sebagian warga terpaksa membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari karena sumur-sumur di bantaran sungai mulai menyusut airnya.
Kekeringan Sungai Barito juga menjadi isu lintas daerah. Sungai ini mengalir melewati beberapa kabupaten di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan sebelum bermuara di Laut Jawa, sehingga dampaknya dirasakan di banyak wilayah sekaligus. Kondisi ini membuat penanganan kekeringan membutuhkan koordinasi antardaerah yang serius.
Kronologi Kekeringan Sungai Barito
Berdasarkan pantauan warga dan pihak terkait, berikut kronologi menyusutnya debit Sungai Barito:
- Beberapa bulan terakhir, intensitas hujan di wilayah Kalimantan Tengah dilaporkan jauh di bawah normal akibat musim kemarau yang berkepanjangan.
- Debit air Sungai Barito mulai menyusut bertahap, ditandai dengan menurunnya permukaan air di kawasan hulu dan tengah sungai.
- Memasuki puncak kemarau, hamparan pasir mulai bermunculan di tengah sungai, mengubah wajah sungai menyerupai daratan kering.
- Video penampakan sungai yang mengering menyebar luas di media sosial dan memicu kekhawatiran warga serta para pemerhati lingkungan.
Dampak bagi Transportasi dan Ekonomi Warga
Menyusutnya debit Sungai Barito berdampak langsung pada sektor transportasi. Kapal-kapal bermuatan besar terpaksa mengurangi muatan atau menunda perjalanan karena khawatir kandas di dasar sungai yang dangkal. Jalur logistik yang selama ini mengandalkan sungai untuk mendistribusikan kebutuhan pokok ke daerah pedalaman ikut terganggu.
Para pedagang dan pengusaha yang mengandalkan jalur sungai mulai merasakan kerugian akibat biaya transportasi yang membengkak. Sementara itu, pasokan air bersih bagi warga yang tinggal di bantaran sungai juga dilaporkan mulai terganggu.
"Kami belum pernah melihat sungai sekering ini. Biasanya air masih dalam meski musim kemarau, tapi sekarang pasirnya sudah muncul di tengah-tengah sungai," ujar seorang warga di sekitar bantaran Sungai Barito kepada media.
Penyebab dan Upaya Penanganan
Para pengamat lingkungan menduga kekeringan ini dipicu oleh kombinasi faktor musim kemarau panjang yang diperparah fenomena iklim global seperti El Nino, serta minimnya tutupan hutan di daerah aliran sungai yang membuat resapan air berkurang. Pembukaan lahan di kawasan hulu disebut turut mempercepat penurunan debit air.
Pihak terkait di Kabupaten Barito Selatan diharapkan segera melakukan langkah antisipasi, mulai dari memantau ketersediaan air bersih, mengatur jadwal pelayaran, hingga menyiapkan bantuan bagi warga yang terdampak. Pelestarian daerah aliran sungai juga menjadi pekerjaan rumah jangka panjang agar tragedi kekeringan semacam ini tidak terulang.
Hingga berita ini ditulis, kondisi Sungai Barito masih terus dipantau. Masyarakat berharap hujan segera turun agar sungai yang menjadi sumber kehidupan mereka kembali pulih seperti sediakala.
[SOCIAL_TWEET]: Sungai Barito mengering, hamparan pasir muncul di tengah aliran hingga bak gurun pasir. Warga khawatir, transportasi dan ekonomi mulai terdampak. #SungaiBarito #Kekeringan[SOCIAL_TG]: Debit Sungai Barito di Barito Selatan menyusut drastis hingga berubah bak gurun pasir. Transportasi sungai dan mata pencaharian warga mulai terganggu. Baca selengkapnya!
Comments (0)