Dari Pinjaman Rp2 Juta, Jojo Kini Berdayakan Perempuan dan Difabel
Setelah resmi menikah dengan Khania Kendarsyah, Sugeng Paijo—yang akrab disapa Jojo—hanya bisa menyewa petak kecil berukuran 4x5 meter. Dinding tripleks dan atap seng menjadi saksi bisu perjuangan...
Setelah resmi menikah dengan Khania Kendarsyah, Sugeng Paijo—yang akrab disapa Jojo—hanya bisa menyewa petak kecil berukuran 4x5 meter. Dinding tripleks dan atap seng menjadi saksi bisu perjuangan hidup yang baru dimulai. Namun, di balik keterbatasan itu, tersimpan mimpi besar: mengubah nasib bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga bagi mereka yang kerap dipinggirkan.
Awal yang Tak Disangka
Ketika memutuskan untuk tidak bergantung pada pekerjaan serabutan, Jojo memberanikan diri mengajukan pinjaman mikro sebesar Rp2 juta dari sebuah koperasi simpan pinjam di kawasan tempat tinggalnya di pinggiran kota. Jumlah yang tampak kecil bagi sebagian orang, namun sangat berarti bagi Jojo. “Waktu itu saya hanya berpikir, kalau tidak berani sekarang, kapan lagi? Uang itu saya gunakan untuk membeli bahan baku kerajinan tangan dari limbah kayu dan kain perca,” kenangnya.
Modal kecil itu dialokasikan dengan ketat: 40 persen untuk material, 30 persen untuk peralatan sederhana, dan sisanya sebagai cadangan operasional. Tanpa pengalaman bisnis formal, Jojo belajar secara otodidak dari internet dan buku-buku bekas tentang pengelolaan usaha mikro. Pantang menyerah, dalam tiga bulan pertama ia berhasil menjual 150 buah gantungan kunci dan hiasan dinding kepada tetangga serta warung-warung kecil. Omzet perdananya mencapai Rp750 ribu, sedikit di atas target awal.
Titik Balik Pemberdayaan
Lambat laun, permintaan meningkat. Pesanan dari luar kota mulai masuk setelah kerabat mempromosikan produknya melalui media sosial. Jojo sadar, ia tak bisa bekerja sendirian. Di sinilah benih pemberdayaan mulai tumbuh. “Saya memperhatikan banyak perempuan di sekitar sini yang hanya mengandalkan penghasilan suami, padahal mereka punya keterampilan menjahit dan merangkai manik-manik. Begitu pula beberapa penyandang disabilitas yang sering dianggap tidak produktif,” jelas Jojo.
Dengan pendekatan personal, ia mengajak tiga orang tetangga—dua ibu rumah tangga dan satu pemuda difabel—untuk bergabung. Mereka tidak digaji secara konvensional, melainkan dibagi hasil berdasarkan kontribusi. Secara perlahan, sistem kemitraan ini menarik lebih banyak tenaga. Kini, usaha bernama “Kreasi Muda Mandiri” itu telah merangkul lebih dari 20 orang, dengan komposisi 70 persen perempuan dan 30 persen penyandang disabilitas. Mereka mengerjakan berbagai produk seperti tas daur ulang, hiasan meja, hingga souvenir pernikahan yang dipasarkan hingga ke Pulau Jawa dan Bali.
Dampak Nyata dalam Angka
Dari catatan internal yang dihimpun tim, pendapatan rata-rata mitra kerja mingguan kini berkisar Rp350 ribu – Rp500 ribu, naik signifikan dibanding kondisi awal saat mereka belum memiliki penghasilan mandiri. Produksi bulanan mampu menembus 1.200 unit dengan omzet usaha rata-rata Rp18 juta per bulan. “Yang paling membanggakan bukan angkanya, melainkan perubahan cara pandang. Perempuan di sini sekarang punya suara dalam keputusan rumah tangga, dan teman-teman difabel tidak lagi merasa menjadi beban,” ujar Jojo.
Selain aspek ekonomi, dampak sosial juga terlihat dari menurunnya tingkat ketegangan rumah tangga di lingkungan sekitar. Sejumlah mitra mengaku mampu menyekolahkan anak hingga jenjang menengah atas, bahkan ada yang mulai menabung untuk modal usaha sampingan lain. Seorang mitra difabel, sebut saja Diki, kini menjadi koordinator produksi yang mengelola enam orang lainnya. “Dulu saya hanya di rumah. Sekarang saya bisa bantu orang tua dan dipercaya mengatur pekerjaan,” katanya.
Tantangan dan Strategi Keberlanjutan
Meski bertumbuh, usaha ini tidak lepas dari kendala. Fluktuasi harga bahan baku daur ulang dan keterbatasan akses ke platform digital menjadi pekerjaan rumah. Jojo mengakui, persaingan dengan produk kerajinan dari kota besar menuntut inovasi terus-menerus. Untuk itu, ia bekerja sama dengan organisasi non-pemerintah dalam pelatihan desain dan manajemen keuangan. “Kami juga mendorong mitra untuk memiliki rekening bank dan mengikuti program literasi keuangan dari OJK,” tambahnya.
Ke depan, Jojo berencana membentuk koperasi resmi agar akses permodalan lebih luas dan kesejahteraan mitra lebih terjamin. Ia juga tengah menjajaki ekspor ke Malaysia untuk produk tas daur ulang yang dianggap unik. “Saya percaya, ketika kita memberdayakan yang lemah, justru di situ letak kekuatan kita. Pinjaman Rp2 juta dulu hanyalah pijakan; kini giliran kami jadi pijakan bagi yang lain,” pungkasnya penuh harap.
Baca juga:
Comments (0)