Dari Dapur Kecil, Sahate Tembus Pasar Dunia Berkat BRI
Perjalanan sebuah merek camilan sehat menembus pasar global tidak selalu dimulai dari pabrik besar atau modal miliaran rupiah. Bagi Lince Sulastri, titik awal itu adalah dapur rumahnya sendiri, berbek...
Perjalanan sebuah merek camilan sehat menembus pasar global tidak selalu dimulai dari pabrik besar atau modal miliaran rupiah. Bagi Lince Sulastri, titik awal itu adalah dapur rumahnya sendiri, berbekal tekad untuk menciptakan makanan ringan yang aman bagi semua orang, termasuk mereka yang memiliki intoleransi gluten. Kini, produk bernama Sahate bukan hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga telah merambah sejumlah negara. Di balik pencapaian itu, terdapat peran penting program pemberdayaan dari BRI yang menjadi jembatan antara usaha mikro dan pasar internasional.
Membangun Fondasi dari Dapur Rumahan
Lince mulai merintis usaha ini setelah menyadari minimnya pilihan camilan bebas gluten di pasar lokal. Berbekal pengalaman membuat kue tradisional berbahan beras, ia bereksperimen dengan berbagai formulasi hingga menemukan komposisi yang tepat. Dalam prosesnya, ia menghadapi kendala klasik pelaku usaha mikro: keterbatasan modal, kemasan yang kurang menarik, dan jangkauan distribusi yang sempit. Produk awalnya hanya dititipkan ke warung sekitar, sehingga pendapatan masih jauh dari kata stabil.
Namun, keyakinannya bahwa pasar membutuhkan produk seperti Sahate tidak surut. Pelan namun pasti, ia terus memperbaiki kualitas dan memberi nama dagang yang mudah diingat, Sahate, yang singkat namun mengandung makna penuh semangat. Konsumen mulai memberikan respons positif, terutama mereka yang menderita celiac atau sekadar ingin mengurangi konsumsi tepung terigu. Tapi Lince sadar, untuk naik kelas, ia memerlukan dukungan sistemik.
LinkUMKM BRI: Katalisator Transformasi Usaha
Peluang besar muncul ketika Lince bergabung dengan platform LinkUMKM yang digagas oleh BRI. Program ini bukan sekadar tempat pencatatan usaha, melainkan ekosistem pembinaan terpadu. Melalui berbagai pelatihan, Lince belajar merancang strategi merek, menciptakan kemasan yang higienis sekaligus estetis, serta memanfaatkan pemasaran digital. Ia juga mendapat pendampingan dalam menyusun pembukuan sederhana sehingga arus kas lebih transparan dan mudah diukur.
Salah satu terobosan terpenting adalah akses permodalan. Dengan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan BRI, Lince bisa membeli peralatan produksi semi-modern dan mengembangkan varian rasa baru. Kapasitas produksinya pun melonjak drastis—dari semula hanya mampu menghasilkan 100 bungkus per hari, kini meningkat menjadi lebih dari 800 bungkus per hari. Peningkatan efisiensi ini langsung berdampak pada omzet bulanan yang merangkak naik hingga menyentuh angka Rp450 juta pada tahun lalu, sebuah lompatan besar dari omzet awal yang belum mencapai Rp10 juta sebulan.
Tidak hanya itu, LinkUMKM turut menghubungkan Sahate dengan berbagai marketplace dan platform jual-beli daring yang telah bermitra dengan BRI. Produk Sahate pun tampil di etalase digital, menjangkau konsumen di luar Pulau Jawa tanpa harus membuka cabang fisik. Respons pasar semakin membesar, dan pesanan dari kota-kota besar mengalir deras.
Menembus Batas Negara, Membawa Rasa Indonesia ke Dunia
Dengan fundamental usaha yang kian kokoh, Lince mulai menjajaki peluang ekspor. Berbekal standar produksi yang telah memenuhi syarat keamanan pangan dan sertifikasi halal, ia mendaftarkan Sahate ke berbagai pameran dagang yang difasilitasi oleh BRI dan instansi terkait. Titik balik terjadi ketika seorang pembeli dari Malaysia tertarik dengan konsep camilan gluten-free berbasis beras organik. Dari satu transaksi kecil, terbukalah jalur distribusi ke luar negeri secara lebih berkelanjutan.
Saat ini, Sahate telah diekspor ke tiga negara di kawasan Asia Tenggara dan sedang menjalani proses perizinan untuk memasuki pasar Timur Tengah. Volume ekspor terus bertumbuh, rata-rata 25 persen per kuartal. Menurut Lince, semua pencapaian ini tidak lepas dari peran BRI yang selalu mendampingi, bahkan hingga tahap negosiasi kontrak internasional. “Dulu saya hanya bermimpi orang di desa sebelah mencicipi Sahate. Sekarang, produk kami sudah dinikmati di negeri orang. BRI seperti orang tua asuh yang tidak pernah lelah membimbing,” ujarnya dalam sebuah wawancara virtual.
Di sisi lain, kesuksesan ini juga memberikan dampak berganda bagi komunitas sekitar. Lince kini mempekerjakan 12 ibu rumah tangga lain di lingkungannya, sekaligus bermitra dengan lima kelompok tani beras organik lokal. Rantai pasok yang terbangun tidak hanya menjamin konsistensi kualitas, tetapi juga menggerakkan ekonomi di tingkat akar rumput. Inilah wajah UMKM yang sesungguhnya: tidak tumbuh sendirian, melainkan mengangkat ekosistemnya bersama-sama.
Masa Depan Sahate dan Komitmen Keberlanjutan
Melihat trajektori yang ada, peluang Sahate untuk menjadi pemain utama di segmen makanan ringan sehat global sangat terbuka. Tren konsumsi bebas gluten diproyeksikan terus tumbuh dua digit dalam lima tahun ke depan, terutama di negara maju. Lince berencana menambah lini produk berbasis umbi lokal dan mengembangkan kemasan ramah lingkungan untuk menarik segmen konsumen yang lebih luas.
BRI, melalui ekosistem pemberdayaan UMKM, menyatakan akan terus memperkuat dukungan, baik dari sisi permodalan, pelatihan, maupun penetrasi pasar ekspor. Program-program seperti LinkUMKM terbukti menjadi katalis yang efektif untuk mempercepat transformasi usaha mikro menjadi usaha kecil dan menengah yang berdaya saing global. Kisah Lince dan Sahate menjadi bukti bahwa dengan inovasi yang tepat dan dukungan yang terarah, dapur rumahan pun bisa menjadi titik awal sebuah perjalanan mendunia.
Comments (0)