Danantara Rancang Strategi Penjualan Aset Properti BUMN yang Mengendap
Badan Pengelola Investasi Danantara mulai menyusun langkah strategis untuk mengurai persoalan akumulasi rumah dan apartemen milik BUMN yang tak kunjung terjual. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya...
Badan Pengelola Investasi Danantara mulai menyusun langkah strategis untuk mengurai persoalan akumulasi rumah dan apartemen milik BUMN yang tak kunjung terjual. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya memperbaiki neraca BUMN karya dan properti yang selama ini terbebani inventori besar.
Peta Masalah Inventori Properti BUMN
Berdasarkan data yang dihimpun dari laporan keuangan konsolidasian, tercatat lebih dari 12.000 unit rumah tapak dan apartemen milik BUMN masih berstatus siap jual hingga kuartal I-2026. Stok terbesar dimiliki oleh Perumnas, PT Waskita Karya Realty, PT PP Properti, dan PT Wijaya Karya Realty. Penumpukan ini merepresentasikan nilai aset yang menganggur mencapai sekitar Rp18 triliun, mengakibatkan tekanan likuiditas dan tingginya beban pemeliharaan bulanan.
Permintaan yang lesu disebabkan oleh penurunan daya beli kelas menengah, suku bunga KPR yang masih bertengger di atas 9%, serta ketidakcocokan lokasi dan tipe produk dengan kebutuhan pasar riil. Banyak properti dibangun di kawasan yang belum matang infrastrukturnya atau menyasar segmen harga yang terlalu premium.
Dua Pendekatan Skema yang Digodok
Danantara tengah mengkaji dua pendekatan utama. Di satu sisi, ada usulan untuk menerapkan mekanisme bulk sale dengan potongan harga progresif hingga 40% dari harga pasar, baik kepada investor institusi maupun pembeli individu melalui program kepemilikan khusus. Skema ini diharapkan dapat menggenjot penjualan cepat meskipun berimplikasi pada potensi kerugian di atas kertas yang harus dicatat BUMN.
Di sisi lain, lembaga yang dipimpin oleh Rosan Roeslani itu mempertimbangkan konversi sebagian properti menjadi aset produktif seperti rusunawa, hunian milenial bersubsidi, atau asrama mahasiswa melalui kerja sama dengan pemerintah daerah dan kampus. Pendekatan ini lebih memelihara nilai buku aset namun membutuhkan waktu dan biaya renovasi yang tidak sedikit.
Seorang analis properti dari salah satu lembaga riset independen mengungkapkan, "Pilihan terbaik adalah kombinasi keduanya: aset yang lebih likuid dijual cepat meskipun diskon, sementara yang berpotensi dikembangkan dapat dialihfungsikan. Yang terpenting ada transparansi penilaian aset agar tidak merugikan negara."
Implikasi pada Keuangan BUMN dan Pasar Properti
Dari kacamata keuangan, penjualan massal dengan diskon besar akan memperburuk laba rugi BUMN terkait dalam jangka pendek, tetapi sekaligus membebaskan beban bunga dan biaya pemeliharaan yang mencapai Rp1,5 triliun per tahun. Rasio utang terhadap ekuitas pun berpeluang membaik secara signifikan.
Bagi pasar properti nasional, injeksi pasokan diskon dari BUMN dikhawatirkan akan menekan harga pasar sekunder. Namun di sisi lain, terurainya stok properti ini dapat menjadi katalis untuk menghidupkan kembali sektor konstruksi dan industri pendukungnya. Danantara sendiri menegaskan bahwa skema yang akan dipilih tetap mempertimbangkan stabilitas pasar dan tidak akan dilakukan secara serampangan.
Harapan dan Target Waktu
Danantara menargetkan skema final sudah dapat diumumkan pada akhir Juli 2026, dengan pelaksanaan tahap pertama di semester II-2026. Dalam cetak biru awalnya, lembaga ini berharap dapat mengurangi stok properti BUMN hingga 50% dalam waktu 18 bulan. Kendati ambisius, target ini mensyaratkan koordinasi erat dengan Kementerian BUMN, Otoritas Jasa Keuangan, serta perbankan untuk menyediakan fasilitas kredit yang lebih terjangkau bagi calon pembeli.
Di tengah upaya pembersihan neraca ini, sinyal positif mulai terlihat dari peningkatan volume pencarian properti BUMN di platform digital sebesar 23% secara year-on-year setelah isu diskon mencuat. Masyarakat menanti langkah konkret Danantara untuk mengubah properti menganggur menjadi peluang baru.
Comments (0)