Oct 08, 2026
Bisnis

Danantara Pacu Pembangunan Pusat Data demi Investasi Global

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital serta laporan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) per kuartal II 2025, sektor pusat data (data center) nasional mencatat pertumbuhan kapasitas t...

Danantara Pacu Pembangunan Pusat Data demi Investasi Global

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital serta laporan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) per kuartal II 2025, sektor pusat data (data center) nasional mencatat pertumbuhan kapasitas terpasang sekitar 18% year-on-year, dari sebelumnya 1,4 gigawatt menjadi sekitar 1,65 gigawatt. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar pusat data dengan laju ekspansi tercepat di Asia Tenggara, meski pangsa pasar globalnya baru berkisar 2,5%. Di tengah tren itu, Danantara Indonesia mempercepat pengembangan ekosistem pusat data melalui penyiapan regulasi dan infrastruktur digital guna menarik dana investasi asing.

Fundamental Sektor dan Indeks Daya Tarik

Secara fundamental, permintaan ruang server di dalam negeri didorong tiga faktor utama: penetrasi internet yang telah menembus 79% populasi per akhir 2024 versi Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), migrasi layanan publik ke platform digital, serta kebutuhan komputasi awan (cloud computing) korporasi. Nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan Badan Riset dan Inovasi Nasional menyentuh USD 130 miliar (sekitar Rp2.100 triliun) pada 2030, dan pusat data menjadi tulang punggungnya.

Dari sisi valuasi, kapitalisasi investasi pusat data domestik diperkirakan menembus USD 5,8 miliar pada 2027, naik dari sekitar USD 2,9 miliar pada 2023. Rasio utilasi (tingkat keterisian) pusat data kelas atas di Jakarta dan Batam dilaporkan berada di kisaran 72–78%, level yang dianggap sehat oleh pelaku industri. Likuiditas sektor ini pun tergolong tebal karena kontrak penyewaan umumnya berjangka panjang, 5 hingga 10 tahun, sehingga arus kas relatif terprediksi.

"Pusat data bukan lagi proyek properti biasa, melainkan infrastruktur strategis yang menentukan kedaulatan data dan daya saing ekonomi digital," ujar seorang analis infrastruktur digital di lembaga riset ekonomi independen.

Pro: Efek Berganda bagi Perekonomian

Di satu sisi, percepatan pembangunan pusat data memberi efek berganda (multiplier effect) yang lebar. Setiap investasi Rp10 triliun di sektor ini diperkirakan menyerap 8.000–12.000 tenaga kerja langsung dan tidak langsung, mulai dari teknisi jaringan, spesialis keamanan siber, hingga tenaga konstruksi. Pendapatan negara dari pajak dan penerimaan bukan pajak berpotensi naik signifikan seiring bertambahnya kapasitas.

Lebih jauh, kehadiran pusat data berstandar tinggi dapat menahan capital outflow karena perusahaan multinasional tak lagi perlu menyimpan data di Singapura atau Malaysia. Selama ini, sekitar 60% data korporasi Indonesia masih disimpan di luar negeri. Jika tren itu berbalik, defisit neraca jasa digital yang kini mencapai USD 4,2 miliar per tahun berpeluang menyusut.

Kontra: Tantangan Energi dan Sentimen Pasar

Di sisi lain, optimisme itu menghadapi ganjalan struktural. Pusat data adalah konsumen listrik raksasa; satu fasilitas berkapasitas 100 megawatt dapat mengonsumsi energi setara kebutuhan 70.000 rumah tangga. Bauran energi nasional yang masih didominasi batu bara, sekitar 60% per 2024, berisiko mencoreng komitmen environmental, social, and governance (ESG) yang menjadi syarat utama investor global.

Sentimen pasar juga belum sepenuhnya kondusif. Ketidakpastian kebijakan, isu keamanan siber, serta kualitas sumber daya manusia menjadi catatan. Data Badan Siber dan Sandi Negara menunjukkan lebih dari 3,4 miliar anomali trafik siber sepanjang 2024, sebuah angka yang mengkhawatirkan calon penyewa. Ketersediaan talenta digital pun terbatas, dengan rasio tenaga ahli data terhadap kebutuhan nasional baru sekitar 40%.

Tambahan pula, pengembangan pusat data menuntut konektivitas serat optik yang merata. Saat ini, jaringan tulang punggung digital masih terpusat di Jawa dan Sumatera, sementara wilayah timur Indonesia tertinggal jauh dengan cakupan di bawah 30%. Tanpa pemerataan infrastruktur, proyeksi pertumbuhan 18% per tahun berisiko tidak tercapai dan hanya menjadi wacana di atas kertas.

Dengan demikian, langkah percepatan yang ditempuh Danantara berada di persimpangan antara peluang investasi global dan tantangan mendasar. Kunci keberhasilannya terletak pada konsistensi regulasi, transisi energi, serta penguatan sumber daya manusia agar tren positif ini menjadi fundamental yang kokoh, bukan sekadar sentimen pasar jangka pendek.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User