Danantara Masuk Tekstil, Dorong Hilirisasi atau Tambah Beban Fiskal?

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan Badan Pusat Statistik per kuartal IV 2024, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional mencatat kontraksi pertumbuhan sebesar 1,8 persen year-on-y...

Oct 09, 2026 - 19:36
0 0
Danantara Masuk Tekstil, Dorong Hilirisasi atau Tambah Beban Fiskal?

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan Badan Pusat Statistik per kuartal IV 2024, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional mencatat kontraksi pertumbuhan sebesar 1,8 persen year-on-year, sementara kinerja ekspor tekstil turun dari USD 12,6 miliar pada 2022 menjadi sekitar USD 10,9 miliar pada 2024. Di tengah tren pelemahan tersebut, langkah sovereign wealth fund Danantara yang menyatakan masuk ke sektor tekstil menjadi sinyal yang layak dicermati secara berimbang, baik dari sisi peluang hilirisasi maupun risiko beban fiskal jangka panjang.

Alasan Strategis di Balik Masuknya Danantara ke Sektor Tekstil

Pihak Danantara mengungkapkan bahwa keputusan masuk ke bisnis tekstil dilatarbelakangi oleh diskusi intensif dengan sejumlah asosiasi pengusaha. Menurut penuturan pejabat terkait, pendekatan ini dilakukan agar investasi yang digelontorkan tidak sekadar bersifat penyertaan modal, tetapi juga menyentuh persoalan struktural seperti rantai pasok bahan baku, efisiensi produksi, dan akses pasar ekspor. Dalam kerangka ekonomi, langkah ini dapat dibaca sebagai upaya memperbaiki fundamental industri yang selama ini bergantung pada impor bahan baku kapas dan serat sintetis.

Industri TPT nasional menyerap sekitar 3,7 juta tenaga kerja langsung dan berkontribusi sekitar 6,5 persen terhadap total ekspor nonmigas. Kontribusi sebesar itu menempatkan tekstil sebagai sektor padat karya yang sensitif terhadap gejolak likuiditas dan fluktuasi nilai tukar. Ketika rupiah melemah, biaya impor bahan baku melonjak, margin produsen tergerus, dan gelombang pemutusan hubungan kerja mengikuti. Karena itu, intervensi melalui instrumen investasi negara dinilai sebagian pihak sebagai langkah yang masuk akal untuk menahan laju deindustrialisasi.

"Masuknya dana investasi negara ke sektor padat karya harus dilihat sebagai katalis, bukan solusi tunggal. Yang menentukan adalah eksekusi di tingkat rantai pasok," ujar seorang pengamat industri tekstil dalam sebuah forum diskusi ekonomi baru-baru ini.

Sisi Positif: Hilirisasi dan Penguatan Rantai Pasok

Di satu sisi, kehadiran Danantara berpotensi memperkuat hilirisasi. Selama ini, ekspor TPT Indonesia masih didominasi produk bernilai tambah rendah seperti benang dan kain, sementara produk pakaian jadi jadi kalah bersaing dengan Vietnam dan Bangladesh. Dengan injeksi modal, modernisasi mesin, dan pendampingan manajemen, valuasi industri bisa naik dan margin ekspor berpotensi membaik. Proyeksi optimistis menyebut tambahan investasi di sektor ini dapat mendorong pertumbuhan ekspor TPT ke kisaran USD 13-14 miliar dalam dua hingga tiga tahun ke depan bila didukung kebijakan yang konsisten.

Selain itu, masuknya investor negara dapat memperbaiki sentimen pasar terhadap sektor yang sedang tertekan. Pasar sering kali membaca kehadiran dana besar sebagai sinyal stabilitas, sehingga capital outflow dari saham-saham emiten tekstil bisa tertahan. Bagi pekerja, kelangsungan operasi pabrik berarti kelangsungan penghasilan, sebuah dampak sosial yang tidak bisa diabaikan dalam perhitungan kebijakan.

Sisi Kritis: Risiko Fiskal dan Distorsi Pasar

Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa penggunaan dana publik untuk sektor yang sedang lesu mengandung risiko moral hazard dan potensi distorsi pasar. Jika investasi tidak disertai tata kelola yang transparan, dana bisa terserap untuk menutup kerugian operasional alih-alih membangun kapasitas baru. Rasio utang terhadap ekuitas emiten tekstil rata-rata berada di atas 1,5 kali, sehingga tambahan modal berisiko dipakai untuk restrukturisasi utang, bukan ekspansi produktif.

Kekhawatiran lain menyangkut beban fiskal. Setiap rupiah yang dialokasikan ke sektor tertentu berarti rupiah yang tidak dialokasikan ke sektor lain, seperti infrastruktur atau pendidikan. Bila proyek tekstil gagal menghasilkan return on investment yang memadai, negara menanggung kerugian, sementara pelaku swasta yang lebih efisien justru tersingkir karena tidak mampu bersaing dengan modal murah negara. Dalam bahasa ekonomi, ini disebut crowding out, yakni kondisi ketika kehadiran negara menggeser investasi swasta.

Selain itu, persoalan struktural TPT tidak hanya soal modal. Ada masalah upah minimum yang meningkat, energi yang mahal, dan birokrasi ekspor yang berbelit. Tanpa perbaikan menyeluruh, suntikan dana berisiko hanya menjadi obat sementara bagi penyakit kronis. Tren impor tekstil ilegal yang masih marak juga dapat menggerus manfaat investasi apa pun yang ditanam di dalam negeri.

Yang Perlu Dicermati ke Depan

Ke depan, publik perlu memantau tiga hal. Pertama, bentuk konkret investasi Danantara: apakah berupa penyertaan modal di perusahaan tertentu, pembangunan pabrik baru, atau pendanaan rantai pasok. Kedua, mekanisme tata kelola dan audit, karena tanpa transparansi, kepercayaan pasar justru bisa tergerus. Ketiga, dampak terhadap indeks daya saing industri nasional dibandingkan negara pesaing di ASEAN.

Kesimpulannya, langkah Danantara masuk ke bisnis tekstil menghadirkan dua wajah sekaligus. Sebagai instrumen hilirisasi, ia berpotensi memperkuat fundamental sektor padat karya dan menahan gelombang pemutusan hubungan kerja. Namun sebagai instrumen fiskal, ia menyimpan risiko distorsi, moral hazard, dan pemborosan anggaran bila tanpa disiplin eksekusi. Keseimbangan antara keduanya akan ditentukan oleh kualitas tata kelola, bukan besarnya nominal dana. Bagi pembaca awam, indikator paling sederhana untuk menilai keberhasilan adalah apakah jumlah tenaga kerja terserap dan nilai ekspor TPT benar-benar mengalami kenaikan dalam dua tahun ke depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User