Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan Bank Indonesia per akhir 2024, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Utilisasi kapasitas pabrik menyusut ke kisaran 60-65 persen, jauh di bawah level ideal 85 persen. Ekspor TPT tercatat sekitar USD 12,4 miliar sepanjang 2024, turun dibandingkan periode pembanding tahun sebelumnya, sementara impor produk tekstil jadi terus menggerus pangsa pasar domestik. Di tengah tekanan inilah Danantara dikabarkan masuk ke sektor tekstil, langkah yang langsung memicu perdebatan di kalangan pelaku pasar dan ekonom.
Alasan Strategis di Balik Langkah Danantara
Dony, pihak yang mengungkap rencana ini, menjelaskan bahwa masuknya Danantara ke bisnis tekstil dilatarbelakangi pertimbangan strategis, bukan semata perhitungan komersial jangka pendek. Menurutnya, telah terjadi diskusi intensif dengan sejumlah asosiasi pengusaha tekstil untuk mematangkan rencana tersebut. Logikanya, industri TPT adalah sektor padat karya yang menyerap lebih dari 3,7 juta tenaga kerja langsung dan menyumbang sekitar 6,5 persen terhadap produk domestik bruto industri pengolahan nonmigas. Ketika sektor ini terguncang, dampak sosialnya terasa luas, mulai dari gelombang pemutusan hubungan kerja hingga penurunan daya beli di daerah-daerah sentris seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Dari sudut pandang ini, kehadiran Danantara dapat dibaca sebagai upaya menstabilkan fundamental sektor yang tengah mengalami penurunan likuiditas. Banyak pabrik tekstil menghadapi kesulitan arus kas, terbebani utang valuta asing, dan kesulitan melakukan reinvestasi mesin. Injeksi modal melalui skema yang terstruktur, disertai pendampingan manajerial dan restrukturisasi rantai pasok, berpotensi memperbaiki valuasi aset yang saat ini tertekan.
Pro: Penyelamatan Industri dan Serapan Tenaga Kerja
Di satu sisi, sejumlah ekonom menilai langkah ini sebagai intervensi yang tepat waktu. Mereka berargumen bahwa tanpa modal besar dan jangka panjang, industri tekstil domestik sulit bersaing dengan produsen dari Vietnam, Bangladesh, dan Tiongkok yang menikmati biaya energi lebih murah serta insentif fiskal agresif. Kehadiran Danantara diproyeksikan dapat mendorong konsolidasi pabrik-pabrik kecil yang tidak efisien, meningkatkan skala ekonomi, dan memperkuat posisi tawar Indonesia dalam rantai pasok global. Jika dikelola baik, capital outflow yang selama ini mengalir ke produsen luar negeri bisa ditekan.
Selain itu, pendekatan ini dinilai selaras dengan agenda hilirisasi dan penguatan ketahanan ekonomi nasional. Dukungan pada sektor padat karya juga berdampak ganda: menjaga stabilitas konsumsi rumah tangga dan mempertahankan sentimen pasar terhadap obligasi dan saham sektor konsumer.
Kontra: Risiko Distorsi Pasar dan Beban Fiskal
Di sisi lain, kritik datang dari kalangan yang khawatir masuknya entitas negara ke sektor manufaktur menciptakan distorsi pasar. Mereka mengingatkan bahwa industri tekstil adalah sektor yang sangat kompetitif, di mana keunggulan ditentukan oleh efisiensi biaya, kecepatan siklus produksi, dan akses pasar ekspor. Intervensi yang tidak disertai tata kelola profesional berisiko menciptakan moral hazard dan mengalihkan risiko ke neraca publik. Pengalaman beberapa badan usaha milik negara di sektor manufaktur menunjukkan bahwa rasio profitabilitas dapat tertekan ketika beban sosial dan komersial bercampur.
Kekhawatiran lain menyangkut transparansi. Tanpa mekanisme audit yang jelas dan target kinerja terukur, publik sulit menilai apakah dana yang digelontorkan benar-benar menghasilkan perbaikan produktivitas atau sekadar menunda penutupan pabrik yang secara fundamental tidak lagi kompetitif.
"Masuknya investor besar ke sektor tekstil bisa menjadi katalis pemulihan, tetapi tanpa reformasi struktural di sisi energi, logistik, dan regulasi ketenagakerjaan, dampaknya hanya sementara," ujar seorang pengamat industri tekstil dalam sebuah forum ekonomi baru-baru ini.
Yang Perlu Dicermati ke Depan
Terlepas dari pro dan kontra, pasar akan mencermati beberapa indikator kunci dalam 2-3 kuartal ke depan: apakah utilisasi pabrik naik di atas 70 persen, apakah nilai ekspor TPT kembali tumbuh positif secara year-on-year, dan apakah terjadi perbaikan pada indeks kepercayaan pelaku usaha tekstil. Pemerintah dan Danantara juga perlu memastikan bahwa skema masuknya modal tidak menciptakan ketergantungan baru, melainkan membangun portofolio industri yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, kisah Danantara di sektor tekstil akan menjadi ujian apakah negara mampu berperan sebagai stabilisator tanpa mematikan dinamika pasar. Bagi pembaca awam, sederhananya: ini bukan sekadar soal uang besar masuk, tetapi soal apakah industri yang menopang jutaan keluarga bisa kembali berdiri di atas fundamental yang sehat, bukan sekadar ditopang sentimen jangka pendek.
Comments (0)