Danantara Masuk Bisnis Tekstil, Sinyal Penyelamatan atau Ekspansi?
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian per akhir 2024, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional mencatatkan kontribusi sekitar 6,5 persen terhadap total produk domestik bruto sektor manu...
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian per akhir 2024, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional mencatatkan kontribusi sekitar 6,5 persen terhadap total produk domestik bruto sektor manufaktur, dengan nilai ekspor mencapai USD 12,4 miliar sepanjang Januari–Desember 2024, turun sekitar 3,1 persen year-on-year dibanding periode yang sama 2023. Di tengah tren pelemahan itu, langkah sovereign wealth fund Danantara yang memutuskan masuk ke sektor tekstil menjadi sinyal penting bagi arah kebijakan industri nasional ke depan.
Kepala Danantara, Dony, mengungkapkan bahwa keputusan masuknya lembaga pengelola investasi negara itu ke bisnis tekstil dilandasi pertimbangan strategis jangka panjang. Menurutnya, pihaknya telah menjalani diskusi intensif dengan sejumlah asosiasi pengusaha tekstil untuk memetakan kebutuhan riil lapangan sebelum mengambil langkah konkret.
Alasan di Balik Masuknya Danantara ke Sektor Tekstil
Di satu sisi, langkah ini dibaca sebagai upaya penyelamatan industri padat karya yang tengah menghadapi tekanan berat. Sepanjang 2024, gelombang pemutusan hubungan kerja di sektor TPT dilaporkan menyentuh angka puluhan ribu pekerja, seiring melemahnya permintaan ekspor dari pasar tradisional seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa. Utilisasi kapasitas pabrik di beberapa sentra industri di Jawa Barat dan Jawa Tengah dilaporkan hanya berkisar 50–60 persen, jauh di bawah level ideal di atas 80 persen.
Dalam kerangka ini, kehadiran Danantara diproyeksikan mampu menyuntik likuiditas dan memperkuat struktur permodalan pelaku usaha yang selama ini bergantung pada kredit perbankan dengan bunga relatif tinggi. Rasio utang terhadap ekuitas (debt-to-equity ratio) di sebagian emiten tekstil tercatat di atas 1,5 kali, mencerminkan beban pembiayaan yang cukup berat.
"Kami tidak masuk untuk jangka pendek. Ini soal bagaimana membangun fundamental industri yang lebih tahan guncangan," ujar Dony dalam keterangan resminya, tanpa merinci nilai investasi yang disiapkan.
Pro: Penguatan Rantai Pasok dan Hilirisasi
Dari perspektif optimistis, masuknya Danantara berpotensi mendorong hilirisasi di sektor tekstil. Selama ini, sebagian besar ekspor TPT nasional masih berupa produk setengah jadi dengan nilai tambah terbatas. Padahal, menurut data Badan Pusat Statistik, impor bahan baku dan produk antara tekstil pada 2024 mencapai sekitar USD 8,7 miliar, menandakan ketergantungan pada rantai pasok global yang cukup tinggi.
Dengan dukungan modal jangka panjang, Danantara dapat mendorong integrasi vertikal, mulai dari industri serat, pemintalan, penenunan, hingga produk fashion bernilai tambah tinggi. Skema ini dinilai sejalan dengan agenda pemerintah memperkuat ketahanan industri manufaktur di tengah ketidakpastian perdagangan global.
Selain itu, sentimen pasar terhadap sektor ini berpotensi membaik. Indeks saham sektor konsumen dan tekstil berpeluang mengalami kenaikan jika ekspektasi perbaikan kinerja emiten terwujud. Kepala ekonom sebuah lembaga riset independen menilai langkah ini bisa menjadi katalis bagi kembalinya minat investor domestik ke sektor padat karya.
Kontra: Risiko Valuasi dan Beban Fiskal
Di sisi lain, sejumlah analis mengingatkan risiko yang menyertai. Pertama, masuknya dana negara ke sektor yang secara siklus sedang menurun berpotensi menciptakan moral hazard jika tidak disertai tata kelola ketat. Kedua, valuasi aset tekstil saat ini relatif tertekan, sehingga penetapan harga masuk menjadi krusial agar tidak menimbulkan kerugian fiskal di kemudian hari.
Kekhawatiran lain menyangkut potensi capital outflow jika pasar membaca langkah ini sebagai intervensi yang mengganggu mekanisme harga. Kepercayaan investor asing pada sektor manufaktur nasional bisa tergerus bila prosesnya tidak transparan. Selain itu, persaingan dengan produsen tekstil Vietnam, Bangladesh, dan India yang memiliki biaya tenaga kerja lebih kompetitif tetap menjadi tantangan struktural yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan injeksi modal.
Proyeksi sejumlah lembaga riset menunjukkan pertumbuhan ekspor TPT nasional pada 2025 berada di kisaran 2–4 persen, relatif moderat dan sangat bergantung pada pemulihan permintaan global serta stabilitas nilai tukar rupiah.
Yang Perlu Dicermati ke Depan
Pada akhirnya, keputusan Danantara masuk ke bisnis tekstil menyiratkan dua hal sekaligus: optimisme terhadap potensi fundamental industri padat karya, dan pengakuan bahwa sektor ini membutuhkan intervensi strategis agar tidak kehilangan daya saing. Kuncinya terletak pada eksekusi — transparansi skema investasi, kejelasan target hilirisasi, serta disiplin dalam menjaga rasio keuangan tetap sehat.
Bagi pelaku pasar, narasi ini patut dicermati sebagai bagian dari peta besar kebijakan industri, bukan semata sentimen jangka pendek. Sementara bagi publik, indikator yang paling relevan adalah apakah lapangan kerja di sektor tekstil kembali menguat dan apakah nilai ekspor mampu menembus tren penurunan yang berlangsung sejak 2023. Tanpa perbaikan fundamental yang nyata, ekspansi portofolio ini berisiko menjadi beban baru alih-alih motor pemulihan ekonomi.
Comments (0)