Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan Bank Indonesia per kuartal IV 2024, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional mencatat kontribusi sekitar 6,5 persen terhadap total produk domestik bruto sektor manufaktur, dengan nilai ekspor mencapai USD 12,4 miliar sepanjang tahun. Namun, sektor ini juga mengalami tekanan berupa penurunan utilitas pabrik, gelombang pemutusan hubungan kerja, dan banjir impor tekstil murah. Di tengah kondisi tersebut, Danantara dikonfirmasi masuk ke bisnis tekstil. Kepala Staf Danantara, Dony, mengungkap alasan strategis di balik langkah tersebut dan menyatakan telah berdiskusi intensif dengan sejumlah asosiasi pengusaha, termasuk Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API).
Alasan Strategis di Balik Masuknya Danantara ke Sektor Tekstil
Dony menjelaskan bahwa keputusan masuk ke bisnis tekstil tidak semata didorong oleh orientasi laba jangka pendek, melainkan bagian dari upaya memperkuat fundamental industri padat karya yang tengah menghadapi tekanan struktural. Menurutnya, ada tiga pertimbangan utama: pertama, menjaga likuiditas rantai pasok nasional agar tidak sepenuhnya bergantung pada impor bahan baku; kedua, mendorong konsolidasi industri yang selama ini terfragmentasi dalam ribuan usaha kecil dan menengah; ketiga, menciptakan nilai tambah domestik melalui hilirisasi serat dan benang menjadi produk jadi bernilai ekspor tinggi.
Secara makro, industri TPT menyerap sekitar 3,7 juta tenaga kerja langsung dan lebih dari 1,2 juta tenaga kerja tidak langsung. Artinya, setiap gangguan pada sektor ini berdampak multiplikatif terhadap konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat. Dalam konteks itu, masuknya Danantara dinilai sebagai intervensi strategis untuk menstabilkan tren penurunan kinerja ekspor tekstil yang tercatat minus 4,1 persen year-on-year pada periode Januari–Oktober 2024.
Dua Perspektif: Peluang Konsolidasi versus Risiko Distorsi Pasar
Di satu sisi, kehadiran Danantara dipandang positif oleh sebagian pelaku usaha. Asosiasi menilai suntikan modal besar dapat merevitalisasi mesin-mesin tua, meningkatkan efisiensi energi, dan memperbaiki standar keberlanjutan yang menjadi syarat utama ekspor ke Eropa dan Amerika Serikat. Dengan skala ekonomi yang lebih besar, biaya produksi per unit berpotensi turun, sehingga daya saing produk Indonesia di pasar global meningkat. Proyeksi awal menyebut potensi kenaikan ekspor hingga 8–10 persen dalam dua tahun apabila modernisasi berjalan konsisten.
Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan risiko distorsi pasar dan crowding out terhadap investor swasta. Jika Danantara berperan ganda sebagai regulator dan pemain pasar, maka persaingan usaha bisa tidak seimbang. Selain itu, sentimen pasar terhadap masuknya entitas negara ke sektor yang sedang lesu bisa memicu capital outflow dari saham-saham emiten tekstil apabila valuasi dinilai tidak mencerminkan perbaikan fundamental riil. Rasio utang terhadap ekuitas di beberapa emiten TPT memang masih berada di atas 1,5 kali, yang menunjukkan kerentanan likuiditas.
"Kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha harus transparan, agar tidak menimbulkan persepsi monopoli yang justru menekan iklim investasi," ujar seorang pengamat industri tekstil dalam diskusi terbatas pekan lalu.
Respons Asosiasi dan Proyeksi ke Depan
Diskusi intensif dengan asosiasi pengusaha disebut telah membahas skema kemitraan, transfer teknologi, serta perlindungan bagi usaha kecil yang menjadi bagian rantai pasok. Asosiasi menyambut baik selama ada kejelasan peta jalan dan kepastian pasokan bahan baku dalam negeri. Pemerintah sendiri menargetkan pertumbuhan industri manufaktur sebesar 5,2 persen pada 2025, dan tekstil menjadi salah satu sektor prioritas karena efek berganda terhadap tenaga kerja.
Namun, keberhasilan langkah ini sangat bergantung pada eksekusi. Tanpa perbaikan logistik, harmonisasi tarif, dan pengendalian impor ilegal, tambahan kapasitas produksi berisiko menambah kelebihan pasokan yang menekan harga. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) sektor tekstil per November 2024 berada di level 50,3, tepat di ambang ekspansi, menandakan optimisme yang masih rapuh. Pelaku pasar pun mencermati apakah masuknya Danantara akan diikuti perbaikan tata kelola dan transparansi portofolio, atau justru memperbesar beban fiskal.
Dengan segala plus-minusnya, langkah Danantara mencerminkan taruhan besar pada industrialisasi berbasis negara. Bagi pembaca awam, istilah fundamental merujuk pada kondisi kesehatan ekonomi riil sebuah sektor, sedangkan sentimen pasar adalah persepsi pelaku yang bisa menggerakkan harga aset meski data belum berubah. Kombinasi keduanya akan menentukan apakah tekstil nasional benar-benar bangkit atau sekadar bertahan. Yang jelas, arah kebijakan ini akan menjadi ujian bagi efektivitas sinergi antara modal negara, swasta, dan tenaga kerja dalam menghadapi tekanan global yang belum surut.
Comments (0)