Danantara Gandeng JBS Garap Pasar Protein Asia Senilai US$2,5 Miliar
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per triwulan III 2025, konsumsi protein hewani di Indonesia mencatat tren mengalami kenaikan secara year-on-year seiring ekspansi kelas menengah, sementara...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per triwulan III 2025, konsumsi protein hewani di Indonesia mencatat tren mengalami kenaikan secara year-on-year seiring ekspansi kelas menengah, sementara Bank Indonesia mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2025 di kisaran 4,6% hingga 5,4%. Indeks harga pangan global yang dirilis FAO juga menunjukkan harga komoditas daging berada pada level tinggi dalam dua tahun terakhir. Di tengah fundamental tersebut, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menjalin kesepakatan dengan JBS NV, salah satu produsen protein terbesar dunia, untuk membentuk usaha patungan senilai US$2,5 miliar atau setara sekitar Rp40,8 triliun dengan asumsi kurs Rp16.300 per dolar AS. Kolaborasi ini akan menyasar pengembangan bisnis protein di kawasan Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru.
Usaha patungan atau joint venture merupakan skema kerja sama di mana dua entitas menyetorkan modal serta berbagi risiko dan keuntungan secara proporsional. Bagi Danantara, lembaga pengelola investasi negara yang dibentuk pada 2025 dan diproyeksikan mengonsolidasikan aset BUMN di atas US$900 miliar, kesepakatan ini menandai ekspansi portofolio ke sektor pangan. Adapun JBS NV tercatat membukukan pendapatan di atas US$75 miliar pada 2024 dengan jaringan operasi di lebih dari 20 negara, menjadikannya mitra dengan kapabilitas rantai pasok global yang matang.
Di Satu Sisi: Peluang Ketahanan Pangan dan Transfer Teknologi
Dari sisi positif, kemitraan ini berpotensi menjawab kesenjangan konsumsi protein domestik. Data BPS menunjukkan konsumsi daging sapi per kapita Indonesia hanya sekitar 2,5 kilogram per tahun, jauh di bawah Malaysia yang mencapai sekitar 8 kilogram. Rasio kebutuhan impor daging sapi nasional masih berkisar 40% hingga 50% dari total konsumsi, sehingga penguatan kapasitas produksi dapat menekan defisit neraca perdagangan komoditas tersebut sekaligus memperkuat ketahanan pangan.
Selain itu, kehadiran mitra global membuka peluang transfer teknologi peternakan, manajemen rantai dingin (cold chain), dan efisiensi pakan yang selama ini menjadi kelemahan industri dalam negeri. Diversifikasi portofolio Danantara ke sektor protein juga memperkuat fundamental investasi jangka panjang karena permintaan pangan relatif tahan terhadap siklus ekonomi. Efek pengganda berpotensi mengalir ke industri pakan, logistik, hingga penyerapan tenaga kerja di daerah sentra produksi.
"Kolaborasi antara dana kekayaan negara dan pemain protein global dapat menjadi katalis modernisasi rantai pasok pangan, asalkan tata kelola dan kemitraan dengan peternak lokal dirancang secara inklusif," ujar seorang ekonom agribisnis dari lembaga riset di Jakarta.
Di Sisi Lain: Risiko Persaingan dan Eksposur Global
Namun, di sisi lain, sejumlah risiko perlu dicermati. Skala modal yang besar berpotensi menekan peternak rakyat berskala kecil apabila integrasi rantai pasok tidak dirancang inklusif. Pengalaman sejumlah negara menunjukkan konsolidasi industri protein kerap menggerus pangsa pasar produsen rumah tangga yang tidak memiliki akses permodalan memadai.
Dari sisi keuangan, investasi lintas negara membawa risiko nilai tukar karena sebagian biaya input, seperti jagung dan bungkil kedelai untuk pakan, masih dibayarkan dalam dolar AS, sementara pendapatan diperoleh dalam mata uang lokal. Terdapat pula potensi capital outflow melalui repatriasi dividen kepada pemegang saham asing. Selain itu, valuasi aset protein global saat ini berada di siklus tinggi akibat kenaikan harga ternak dunia, sehingga waktu masuk investasi menjadi krusial. Aspek lingkungan turut menjadi sorotan, mengingat industri peternakan skala besar berkontribusi signifikan terhadap emisi karbon dan tekanan penggunaan lahan.
Proyeksi Pasar dan Sentimen Investor
Proyeksi OECD-FAO Agricultural Outlook memperkirakan konsumsi daging di kawasan Asia Pasifik tumbuh sekitar 1% hingga 1,5% per tahun hingga 2032, ditopang populasi ASEAN yang menembus 680 juta jiwa dan kenaikan pendapatan per kapita. Fundamental permintaan tersebut menjadi dasar sentimen pasar yang konstruktif terhadap sektor protein, terlebih dengan posisi Australia dan Selandia Baru sebagai pemasok ternak utama kawasan.
Kendati demikian, keberhasilan inisiatif ini pada akhirnya ditentukan oleh realisasi penyaluran modal secara bertahap, integrasi dengan pemasok lokal, serta kepastian regulasi di masing-masing negara tujuan. Pelaku pasar kini menanti rincian struktur kepemilikan, peta jalan investasi, dan target kapasitas produksi usaha patungan tersebut. Bagi pembaca, perkembangan selanjutnya layak dipantau sebagai indikator arah strategi Danantara dalam mengelola likuiditas negara dan menyeimbangkan portofolio antarsektor, bukan sebagai dasar keputusan investasi individual.
Comments (0)