Danantara Dorong IPO BUMN di BEI demi Perdalam Likuiditas Pasar

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per akhir Desember 2024, kapitalisasi pasar saham domestik tercatat sekitar Rp 9.800 triliun dengan rata-rata nilai transaksi harian berkisar Rp 11 triliun ...

Aug 12, 2026 - 01:52
0 0
Danantara Dorong IPO BUMN di BEI demi Perdalam Likuiditas Pasar

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per akhir Desember 2024, kapitalisasi pasar saham domestik tercatat sekitar Rp 9.800 triliun dengan rata-rata nilai transaksi harian berkisar Rp 11 triliun hingga Rp 13 triliun. Di tengah kondisi tersebut, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menyampaikan rencana membawa sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) melantai di bursa melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Dua nama yang disebut masuk radar adalah PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) dan PT Angkasa Pura.

Rencana ini merupakan bagian dari strategi memperdalam pasar modal Indonesia. IPO adalah proses penawaran saham perdana kepada publik, yang membuat kepemilikan perusahaan terbuka dan sahamnya dapat diperdagangkan setiap hari. Dengan aset kelolaan BUMN di bawah Danantara yang ditaksir menembus US$900 miliar atau setara lebih dari Rp 14.000 triliun, langkah ini berpotensi mengubah struktur pasar saham domestik dalam beberapa tahun ke depan.

Di Satu Sisi: Pendalaman Pasar dan Tambahan Likuiditas

Dari sisi positif, kehadiran emiten BUMN baru berpotensi meningkatkan likuiditas, yakni kemudahan investor membeli dan menjual saham tanpa menggerakkan harga secara berlebihan. Saat ini, jumlah perusahaan tercatat di BEI berada di kisaran 940 emiten, masih tertinggal dibanding sejumlah bursa regional dari sisi kedalaman pasar relatif terhadap ukuran ekonomi.

Pelindo mengoperasikan puluhan pelabuhan dengan arus peti kemas belasan juta TEUs per tahun yang mengalami kenaikan secara year-on-year, sementara Angkasa Pura mengelola bandara dengan trafik puluhan juta penumpang. Fundamental kedua perusahaan dinilai cukup kuat karena berbasis infrastruktur strategis dengan pendapatan berulang (recurring revenue). Bagi investor institusi, saham semacam ini menarik untuk portofolio jangka panjang karena arus kasnya relatif stabil.

Pelaku pasar menilai pencatatan saham BUMN besar dapat memperluas pilihan investasi publik sekaligus memperkuat disiplin tata kelola, mengingat perusahaan tercatat wajib memenuhi standar transparansi dan keterbukaan informasi yang ketat sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Selain itu, IPO BUMN secara historis memberikan efek berganda. Ketika sejumlah BUMN perbankan dan telekomunikasi melantai pada era 1990-an hingga 2000-an, bobot saham domestik di mata investor asing mengalami kenaikan signifikan. Proyeksi serupa bisa terjadi apabila Danantara konsisten mengeksekusi rencana ini dengan tata kelola yang kredibel.

Di Sisi Lain: Risiko Valuasi dan Sentimen Capital Outflow

Namun, di sisi lain, rencana ini menyimpan tantangan yang tidak kecil. Pertama, persoalan valuasi, yaitu penentuan harga wajar saham. Jika harga IPO dipatok terlalu tinggi demi memaksimalkan penerimaan negara, saham berisiko tertekan setelah pencatatan dan justru menggerus sentimen pasar. Sebaliknya, harga yang terlalu rendah berpotensi menimbulkan polemik publik karena dianggap melepas aset negara di bawah nilai wajar.

Kedua, pemilihan waktu menjadi krusial. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2024 bergerak fluktuatif di rentang 7.000 hingga 7.900, dipengaruhi capital outflow — keluarnya dana asing dari pasar domestik — yang dipicu tren suku bunga tinggi global. Rasio kepemilikan asing di pasar saham Indonesia sempat mengalami penurunan, sehingga daya serap pasar terhadap IPO berukuran besar perlu dihitung cermat. Jika pasar sedang lemah, emisi besar justru bisa menyerap likuiditas dari saham-saham eksisting.

Ketiga, ada pertanyaan struktural: apakah IPO akan diikuti pelepasan saham minoritas yang berarti, atau sekadar pencatatan dengan free float (porsi saham beredar di publik) tipis. BEI sendiri telah mengetatkan aturan free float minimum 7,5 persen bagi emiten tertentu. Free float yang kecil membuat saham kurang likuid dan rentan bergejolak, sehingga tujuan awal menambah likuiditas pasar tidak tercapai.

Proyeksi: Kunci Ada pada Eksekusi dan Tata Kelola

Ke depan, keberhasilan rencana ini akan ditentukan tiga faktor: kesiapan fundamental calon emiten, kondisi makroekonomi global, dan konsistensi kebijakan. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 di kisaran 4,7 hingga 5,5 persen, sementara inflasi dijaga dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen. Stabilitas makro semacam ini menjadi modal penting bagi pasar IPO.

Bagi investor, pesan utamanya adalah tidak terburu-buru. Rencana korporasi sebesar ini membutuhkan proses panjang: audit laporan keuangan, restrukturisasi internal, hingga persetujuan berbagai pihak. Analisis fundamental — menilai kinerja keuangan, prospek bisnis, dan kualitas manajemen — tetap menjadi kompas utama sebelum merespons euforia pencatatan saham BUMN mana pun.

Pada akhirnya, ambisi Danantara membawa BUMN melantai di BEI layak diapresiasi sebagai upaya pendalaman pasar modal. Namun, seperti setiap kebijakan besar, dampaknya baru akan terlihat dari kualitas eksekusi, bukan sekadar wacana.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User