Danantara Dorong IPO BUMN, BEI Siapkan Likuiditas Baru
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per kuartal III 2025, kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp 12.400 triliun, mengalami kenaikan 8,2% year-on-year. Namun, di tengah tren positif tersebut, ...
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per kuartal III 2025, kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp 12.400 triliun, mengalami kenaikan 8,2% year-on-year. Namun, di tengah tren positif tersebut, BEI menyambut baik inisiatif Danantara untuk mendorong perusahaan BUMN melantai di bursa melalui penawaran umum perdana (IPO). Langkah ini dinilai strategis untuk memperdalam pasar modal domestik di tengah gejolak sentimen pasar global.
Empat BUMN Siap Melantai, Target Kapitalisasi Meningkat
Otoritas bursa mengonfirmasi bahwa setidaknya empat perusahaan BUMN tengah mempersiapkan diri untuk IPO dalam waktu dekat. Nama-nama yang disebut termasuk PT Pelindo (Persero) dan PT Angkasa Pura (Persero), dua entitas dengan aset gabungan yang signifikan. Berdasarkan proyeksi internal BEI, jika keempat emiten baru ini tercatat, kapitalisasi pasar berpotensi bertambah hingga Rp 350 triliun, atau setara 2,8% dari total kapitalisasi saat ini. Direktur Utama BEI, Iman Rachman, dalam keterangan resmi menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan infrastruktur perdagangan dan sistem pencatatan untuk mengakomodasi lonjakan aktivitas.
Di satu sisi, masuknya BUMN besar seperti Pelindo dan Angkasa Pura akan meningkatkan likuiditas pasar secara fundamental. Kedua perusahaan memiliki pendapatan konsolidasi yang stabil dan aset strategis di sektor logistik serta transportasi udara. Valuasi yang wajar, dengan rasio price-to-earnings (PER) diperkirakan di kisaran 12-15 kali, dapat menarik minat investor institusional asing yang selama ini menunggu aksi korporasi serupa. Di sisi lain, terdapat kekhawatiran bahwa penawaran saham dalam jumlah besar dapat menyerap likuiditas yang ada, berpotensi menekan harga saham di pasar sekunder dalam jangka pendek. Fenomena ini pernah terjadi saat IPO PT Pertamina Geothermal Energy pada 2023, yang sempat membuat indeks terkoreksi 1,5% dalam sepekan pertama.
Pro dan Kontra: Diversifikasi vs Efek Domestik
Pro dari kebijakan ini adalah diversifikasi sektor. Saat ini, sektor keuangan mendominasi sekitar 32% kapitalisasi pasar BEI. Dengan hadirnya BUMN infrastruktur, portofolio investor akan lebih berimbang. Hal ini sejalan dengan data Bank Indonesia yang menunjukkan aliran dana asing (capital inflow) ke pasar saham mencapai Rp 45 triliun hingga September 2025, mayoritas masuk ke sektor perbankan. Kehadiran emiten baru di sektor logistik dan transportasi dapat menyerap sebagian dana tersebut tanpa menimbulkan risiko konsentrasi.
Kontra dari inisiatif ini adalah potensi crowding-out bagi emiten kecil. Berdasarkan data OJK, rata-rata nilai IPO perusahaan swasta menengah pada 2025 hanya Rp 200 miliar, jauh di bawah proyeksi IPO BUMN yang bisa mencapai Rp 15 triliun per perusahaan. Jika waktu pencatatan bersamaan, investor ritel cenderung memilih saham berkapitalisasi besar dengan fundamental kuat, sehingga mengabaikan saham-saham kecil yang berisiko kehilangan minat. Namun, BEI telah mengantisipasi hal ini dengan mengatur jadwal pencatatan secara bertahap, tidak dalam satu kuartal yang sama.
"Langkah Danantara ini adalah katalis positif jangka panjang, tetapi kami mengingatkan agar eksekusi tidak terburu-buru. Penyerapan pasar harus diukur dengan cermat," ujar analis senior dari sebuah sekuritas asing, yang enggan disebut namanya.
Proyeksi dan Fundamental Jangka Panjang
Secara fundamental, IPO BUMN ini didukung oleh perbaikan rasio profitabilitas. Pelindo, misalnya, mencatatkan laba bersih Rp 8,2 triliun pada semester I 2025, mengalami kenaikan 12% dibanding periode yang sama tahun lalu. Angkasa Pura juga menunjukkan tren pemulihan trafik penumpang yang mencapai 95% dari level pra-pandemi. Dengan demikian, valuasi yang ditawarkan akan lebih realistis dibanding IPO BUMN di era 2010-an yang sering dinilai overvalued.
Namun, risiko eksternal tetap ada. Sentimen pasar global yang dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga The Fed dan ketegangan geopolitik dapat memicu capital outflow. Berdasarkan data BI, cadangan devisa per September 2025 tercatat USD 145 miliar, cukup untuk membiayai 6,5 bulan impor, namun belum tentu cukup menahan tekanan jika terjadi aksi jual besar-besaran. Oleh karena itu, BEI bersama Danantara perlu memastikan bahwa penawaran saham dilakukan saat indeks volatilitas rendah, idealnya di bawah level 15 poin.
Proyeksi ke depan, jika keempat IPO berhasil, BEI dapat menargetkan kapitalisasi pasar menembus Rp 13.000 triliun pada akhir 2026. Ini akan memperkuat posisi Indonesia di kawasan ASEAN, bersaing dengan bursa Singapura dan Thailand. Meski demikian, keberhasilan jangka panjang tidak hanya diukur dari jumlah emiten, tetapi juga dari kualitas tata kelola dan perlindungan investor minoritas. Dengan persiapan matang, inisiatif ini berpotensi menjadi tonggak baru bagi pasar modal nasional.
Pada akhirnya, keputusan untuk melantai harus mempertimbangkan kondisi likuiditas harian yang saat ini rata-rata mencapai Rp 18 triliun per hari. Jika angka ini dapat dipertahankan, maka penyerapan IPO BUMN akan berjalan mulus tanpa mengganggu keseimbangan pasar. Semua mata kini tertuju pada eksekusi Danantara dalam beberapa bulan mendatang.
Comments (0)