Danantara Bidik IPO BUMN, Pegadaian dan Injourney Jadi Kandidat

Berdasarkan data Kementerian BUMN per kuartal III 2025, nilai aset gabungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berada di bawah pengelolaan Danantara mencapai Rp 12.800 triliun. Angka ini mengalami k...

Aug 07, 2026 - 05:08
0 0
Danantara Bidik IPO BUMN, Pegadaian dan Injourney Jadi Kandidat

Berdasarkan data Kementerian BUMN per kuartal III 2025, nilai aset gabungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berada di bawah pengelolaan Danantara mencapai Rp 12.800 triliun. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 8,5% year-on-year dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dalam paparan terbaru, Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) akan menjadi salah satu strategi kunci transformasi BUMN dalam lima tahun ke depan.

Strategi IPO Sebagai Pilar Transformasi

Dony Oskaria menegaskan bahwa langkah IPO tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan likuiditas perusahaan, tetapi juga untuk memperkuat tata kelola dan transparansi BUMN. Menurut catatan internal Danantara, terdapat setidaknya lima hingga tujuh perusahaan pelat merah yang masuk dalam daftar calon IPO, termasuk PT Pegadaian dan PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Injourney). Pegadaian sendiri mencatatkan laba bersih Rp 3,2 triliun pada semester I 2025, mengalami kenaikan 12% dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Sementara itu, Injourney, yang menaungi Garuda Indonesia dan hotel-hotel bintang lima, membukukan pendapatan Rp 18,7 triliun dengan tren pemulihan sektor pariwisata yang terus menguat.

Di satu sisi, langkah IPO ini dinilai positif karena dapat membuka akses pendanaan baru tanpa harus membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dengan rasio utang terhadap ekuitas (debt-to-equity ratio) Pegadaian yang masih berada di level 1,2 kali, perusahaan pembiayaan ini dinilai memiliki fundamental yang cukup solid untuk melantai di bursa. Di sisi lain, para analis mengingatkan bahwa kondisi pasar modal global yang volatil, terutama akibat kebijakan suku bunga The Fed yang masih tinggi di kisaran 4,5% hingga 5%, dapat menjadi sentimen negatif bagi penentuan harga saham perdana.

Pro dan Kontra Valuasi BUMN

Pro dari kebijakan ini adalah diversifikasi portofolio investor. Dengan masuknya BUMN seperti Pegadaian yang memiliki jaringan 4.200 unit di seluruh Indonesia, pasar saham akan mendapatkan alternatif investasi yang lebih defensif. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) per September 2025 menunjukkan bahwa sektor keuangan non-bank mengalami kenaikan indeks sebesar 7,3% year-to-date, lebih tinggi dibandingkan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang hanya tumbuh 3,1%.

Kontra-nya, valuasi yang wajar menjadi tantangan. Berdasarkan analisis price-to-earnings ratio (PER), Pegadaian diperkirakan memiliki PER sekitar 14 kali, sementara rata-rata industri perbankan di Indonesia berada di angka 12 kali. Jika harga IPO ditetapkan terlalu tinggi, dikhawatirkan akan terjadi aksi jual setelah pencatatan perdana. "Kami menilai bahwa penentuan harga harus mempertimbangkan kondisi likuiditas domestik. Jika capital outflow masih berlanjut, minat investor asing bisa berkurang," ujar seorang analis senior dari sebuah sekuritas asing yang enggan disebutkan namanya.

"IPO BUMN bukan sekadar mencari dana, tetapi juga membangun ekosistem bisnis yang lebih profesional dan akuntabel di mata investor global," kata Dony Oskaria dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (15/10).

Proyeksi dan Dampak Jangka Panjang

Danantara menargetkan realisasi IPO pertama dapat dilakukan pada kuartal II 2026, dengan nilai total penghimpunan dana diperkirakan mencapai Rp 25 triliun hingga Rp 30 triliun. Dana tersebut akan dialokasikan untuk ekspansi bisnis, refinancing utang, serta pengembangan infrastruktur digital. Dalam lima tahun ke depan, Danantara juga berencana untuk melepas sebagian sahamnya di beberapa anak usaha yang sudah mature, seperti PT Aneka Tambang dan PT Pelabuhan Indonesia, guna mengoptimalkan nilai portofolio.

Namun, perlu dicermati bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada stabilitas politik dan kebijakan fiskal pasca pemilu 2029. Berdasarkan data Bank Indonesia, cadangan devisa per September 2025 tercatat sebesar US$ 142 miliar, mengalami penurunan 2,1% dibandingkan bulan sebelumnya. Jika tren ini berlanjut, tekanan pada nilai tukar rupiah dapat mempengaruhi minat investor asing terhadap IPO BUMN.

Di satu sisi, transformasi melalui IPO akan meningkatkan transparansi laporan keuangan BUMN, yang selama ini sering menjadi sorotan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Di sisi lain, risiko politik dan intervensi pemerintah dalam manajemen perusahaan tetap menjadi kekhawatiran utama bagi investor institusional. Oleh karena itu, Danantara perlu memastikan bahwa setiap BUMN yang di-IPO-kan memiliki komite audit independen dan dewan direksi yang profesional.

Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5,1% pada 2026, langkah IPO ini dapat menjadi katalis positif bagi pasar modal. Namun, semua pihak harus tetap waspada terhadap gejolak eksternal, seperti perlambatan ekonomi China dan konflik geopolitik yang masih berlanjut. Keputusan akhir mengenai daftar perusahaan, jadwal, dan harga IPO akan menjadi ujian kredibilitas Danantara di mata investor global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User