Aug 29, 2026
Bisnis

Daging Ayam Sumut Tembus Rp55 Ribu per Kg, Pakan Jadi Penyebab

Berdasarkan pantauan harga di sejumlah pasar tradisional Sumatra Utara (Sumut) pada akhir Agustus 2026, harga daging ayam ras mengalami kenaikan tajam hingga menembus level Rp55 ribu per kilogram. Ang...

Daging Ayam Sumut Tembus Rp55 Ribu per Kg, Pakan Jadi Penyebab

Berdasarkan pantauan harga di sejumlah pasar tradisional Sumatra Utara (Sumut) pada akhir Agustus 2026, harga daging ayam ras mengalami kenaikan tajam hingga menembus level Rp55 ribu per kilogram. Angka ini tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang umumnya bergerak di kisaran Rp38 ribu hingga Rp42 ribu per kg. Lonjakan tersebut berlangsung dalam waktu yang relatif singkat dan langsung berdampak pada belanja harian rumah tangga, terutama bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah yang menjadikan ayam sebagai sumber protein utama.

Pakan Ternak: Faktor Utama di Balik Meroketnya Harga

Para pelaku usaha di sektor perunggasan menilai bahwa akar persoalan kenaikan harga daging ayam bersumber dari membengkaknya biaya pakan ternak. Jagung, yang menjadi bahan baku utama pakan konsentrat, mengalami kenaikan harga secara year-on-year seiring menipisnya pasokan domestik dan meningkatnya permintaan dari industri pakan. Padahal, komponen pakan dapat menyumbang sekitar 60 hingga 70 persen dari total biaya pokok produksi peternakan ayam broiler. Ketika harga pakan naik, peternak tidak punya banyak ruang untuk menekan biaya, sehingga harga jual di tingkat konsumen ikut terdorong naik.

Untuk pembaca awam, istilah biaya pokok produksi merujuk pada seluruh pengeluaran yang harus ditanggung peternak untuk menghasilkan satu kilogram daging ayam, mulai dari pembelian bibit, pakan, obat-obatan, hingga biaya operasional kandang. Sementara itu, rasio konversi pakan, yakni perbandingan antara jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu kilogram bobot ayam, juga ikut menentukan efisiensi usaha. Semakin mahal pakan, semakin tinggi pula tekanan terhadap profitabilitas peternak skala kecil dan menengah.

Dua Sisi: Beban Peternak dan Daya Beli Konsumen

Di satu sisi, lonjakan harga ini menjadi penyeimbang bagi peternak yang selama berbulan-bulan menanggung margin tipis akibat biaya produksi yang terus meningkat. Kenaikan harga jual membantu memulihkan arus kas dan menjaga keberlangsungan usaha peternakan mandiri yang jumlahnya cukup besar di Sumut. Tanpa penyesuaian harga, banyak peternak terancam mengalami kerugian berkelanjutan dan berpotensi mengurangi populasi ayam, yang justru akan memperparah kelangkaan pasokan di kemudian hari.

Di sisi lain, kenaikan harga daging ayam menjadi beban tambahan bagi konsumen di tengah tekanan inflasi pangan yang belum sepenuhnya mereda. Harga Rp55 ribu per kg berarti kenaikan sekitar 30 persen dibandingkan harga normal, dan dampaknya langsung terasa pada pengeluaran bulanan keluarga. Pada titik ini muncul kekhawatiran bahwa sebagian masyarakat akan mengurangi konsumsi protein hewani dan beralih ke sumber protein lain yang lebih murah, sebuah respons yang lazim terjadi ketika harga pangan inti mengalami gejolak.

"Kenaikan harga pakan bukan persoalan satu daerah, melainkan tekanan struktural yang dialami seluruh rantai pasok perunggasan nasional. Jika biaya input tidak terkendali, penyesuaian harga di tingkat konsumen adalah konsekuensi yang sulit dihindari," ujar seorang pengamat industri perunggasan yang enggan disebutkan namanya.

Proyeksi: Sentimen Pasar dan Jalan Menuju Normalisasi

Ke depan, arah pergerakan harga daging ayam di Sumut sangat bergantung pada beberapa variabel. Pertama, ketersediaan jagung domestik pada musim panen berikutnya akan menentukan apakah biaya pakan dapat ditekan kembali. Kedua, sentimen pasar terhadap nilai tukar rupiah turut berperan, sebab sebagian bahan baku pakan dan vitamin impor dibeli dalam denominasi dolar Amerika Serikat. Pelemahan rupiah berpotensi memicu capital outflow dari pasar obligasi dan saham domestik, menekan likuiditas, dan pada akhirnya memperbesar biaya impor bahan penunjang peternakan.

Proyeksi jangka pendek menunjukkan harga masih berpotensi bertahan di level tinggi selama pasokan pakan belum normal. Namun, ada pula pandangan optimistis bahwa pemerintah daerah bersama Kementerian Pertanian dapat mengintervensi melalui stabilisasi pasokan jagung dan percepatan distribusi ayam dari daerah sentra produksi. Intervensi semacam itu, jika berjalan efektif, bisa menahan laju kenaikan dan membawa harga kembali mendekati level fundamentalnya dalam beberapa pekan ke depan.

Terlepas dari skenario mana yang terwujud, pelajaran utama dari lonjakan harga kali ini adalah betapa rentannya rantai pasok pangan terhadap gejolak harga input. Ketergantungan yang tinggi pada pakan impor dan fluktuasi harga jagung membuat sektor perunggasan sangat sensitif terhadap perubahan eksternal. Untuk jangka panjang, diversifikasi sumber bahan baku pakan dan penguatan cadangan pasokan nasional menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa ditunda, baik oleh pemerintah maupun pelaku industri. Selama persoalan struktural itu belum terselesaikan, gejolak harga daging ayam berpotensi kembali terulang pada musim-musim berikutnya, dan konsumenlah yang pada akhirnya menanggung dampaknya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User