Aug 29, 2026
Bisnis

Kabut Asap Ubah Sekolah ke Daring, Ini Nasib Makan Bergizi Gratis

Berdasarkan keterangan resmi yang disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono per akhir pekan ini, sejumlah sekolah di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terpaksa berali...

Kabut Asap Ubah Sekolah ke Daring, Ini Nasib Makan Bergizi Gratis

Berdasarkan keterangan resmi yang disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono per akhir pekan ini, sejumlah sekolah di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terpaksa beralih ke pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring. Keputusan itu diambil sebagai langkah antisipatif untuk melindungi kesehatan peserta didik dari paparan kabut asap yang pekat. Namun, peralihan moda belajar tersebut memunculkan pertanyaan besar: bagaimana kelanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini disalurkan melalui satuan pendidikan?

Nasib Distribusi MBG di Tengah Peralihan Daring

Sudaryono menegaskan bahwa program MBG tidak serta-merta dihentikan ketika sekolah beralih ke sistem daring. Pemerintah menyadari bahwa MBG bukan sekadar program pemberian makanan, melainkan bagian dari intervensi gizi yang menyasar pertumbuhan dan konsentrasi belajar anak. Di satu sisi, penghentian penyaluran akan memutus rantai pemenuhan gizi bagi siswa yang justru paling membutuhkan asupan di tengah kondisi udara yang tidak sehat. Di sisi lain, mendistribusikan makanan ke rumah-rumah siswa secara langsung membutuhkan penyesuaian logistik, penambahan armada, dan koordinasi yang lebih rumit dibanding skema penyaluran di sekolah.

Secara fundamental, program MBG dirancang dengan basis layanan di titik sekolah agar pengawasan kualitas dan porsi dapat dilakukan secara terpusat. Ketika titik layanan berpindah ke rumah, efektivitas pengawasan berpotensi mengalami penurunan. Namun, pemerintah menilai bahwa kepentingan kesehatan anak tetap menjadi prioritas utama, sehingga skema penyaluran alternatif tengah disiapkan agar tidak ada siswa yang kehilangan akses gizi selama masa darurat kabut asap berlangsung.

Dinamika Logistik dan Likuiditas Penyaluran

Peralihan ke daring memaksa BGN dan para penyedia jasa boga (katering) menyesuaikan rute distribusi. Jika sebelumnya satu titik sekolah dapat melayani ratusan siswa sekaligus, kini distribusi harus menjangkau alamat rumah masing-masing yang tersebar di berbagai wilayah. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya operasional dan memperpanjang waktu tempuh, yang pada akhirnya memengaruhi efisiensi anggaran program. Dari sisi likuiditas, para mitra katering juga menghadapi ketidakpastian jadwal pembayaran ketika volume dan pola penyaluran berubah dari kebiasaan sebelumnya.

"Kami sedang memetakan opsi penyaluran yang paling aman dan efisien, termasuk kemungkinan penundaan jadwal hingga kondisi udara membaik, namun tetap berkomitmen menjaga kontinuitas gizi anak," demikian inti pernyataan yang disampaikan pihak BGN dalam keterangannya.

Pro dan Kontra Penyesuaian Jadwal

Pro dari penyesuaian jadwal adalah terjaminnya kualitas makanan yang disajikan, karena proses memasak dan pengemasan tidak harus dipaksakan dalam kondisi logistik yang terganggu. Kontra-nya, penundaan berisiko menciptakan kesenjangan asupan gizi pada anak dalam periode yang tidak singkat, mengingat dampak kabut asap seringkali berlangsung berhari-hari hingga berminggu-minggu tergantung arah angin dan upaya pemadaman.

Secara historis, Indonesia telah menghadapi siklus karhutla yang berulang, dan setiap kali terjadi, sektor pendidikan menjadi salah satu yang paling terdampak. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, intensitas kabut asap tahun ini memaksa pemerintah mengaktifkan protokol darurat lebih awal, yang menunjukkan bahwa kesiapsiagaan sistem penyaluran program sosial perlu terus diperkuat. Proyeksi ke depan, pemerintah akan mengevaluasi apakah perlu ada skema penyaluran darurat permanen yang dapat diaktifkan kapan pun terjadi bencana udara, sehingga program gizi tidak lagi bergantung penuh pada kondisi sekolah tatap muka.

Dengan demikian, nasib MBG di tengah kabut asap tidak berujung pada penghentian total, melainkan pada penyesuaian mekanisme yang tetap berpijak pada dua pertimbangan berimbang: keselamatan kesehatan anak dan keberlanjutan pemenuhan gizi. Kebijakan ini menjadi ujian nyata bagi ketangguhan sistem distribusi bantuan sosial pemerintah dalam menghadapi guncangan lingkungan yang semakin sering terjadi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User