China Respons Positif Pengambilalihan Utang Whoosh oleh Kemenkeu
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal III 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,04 persen year-on-year, sementara Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa pada kisaran 150 miliar d...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal III 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,04 persen year-on-year, sementara Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa pada kisaran 150 miliar dolar AS. Di tengah fundamental makroekonomi tersebut, pemerintah memutuskan mengambil alih kewajiban utang proyek kereta cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh melalui Kementerian Keuangan, sebuah langkah yang kini menjadi perhatian pelaku pasar dan mitra internasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa konsorsium China memberikan respons positif atas keputusan tersebut. Kepastian penyelesaian kewajiban utang dinilai memperkuat kepercayaan mitra strategis terhadap tata kelola proyek infrastruktur di Indonesia, sekaligus menjaga relasi ekonomi bilateral yang selama ini menjadi salah satu motor investasi langsung atau foreign direct investment ke Tanah Air.
Skema dan Nilai Utang yang Dialihkan
Proyek Whoosh yang dioperasikan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) tercatat mengalami pembengkakan biaya atau cost overrun dari proyeksi awal sekitar 6,07 miliar dolar AS menjadi kurang lebih 7,3 miliar dolar AS. Dari total nilai tersebut, sekitar 75 persen atau setara 5,5 miliar dolar AS dibiayai melalui pinjaman China Development Bank dengan tenor panjang. Struktur kepemilikan KCIC terdiri atas konsorsium BUMN Indonesia melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia sebesar 60 persen dan China Railway International sebesar 40 persen. Dengan pengambilalihan ini, beban cicilan pokok dan bunga yang sebelumnya menekan neraca konsorsium BUMN berpindah ke dalam pengelolaan fiskal negara.
Di Satu Sisi Legakan BUMN, di Sisi Lain Beban Fiskal
Di satu sisi, langkah ini memberikan ruang bernapas bagi BUMN karya yang selama ini menanggung porsi terbesar kewajiban. Rasio utang atau debt to equity ratio, yakni perbandingan utang terhadap modal, berpotensi membaik sehingga kapasitas pendanaan proyek baru tidak lagi tergerus kewajiban lama. Sentimen pasar terhadap saham BUMN karya juga cenderung merespons positif karena ketidakpastian terkait risiko gagal bayar berkurang, yang tercermin dari tren penguatan indeks saham sektor konstruksi dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.
Di sisi lain, pengambilalihan ini berarti liabilitas kontingen, yaitu kewajiban yang sebelumnya hanya berpotensi menjadi beban negara, kini berubah menjadi liabilitas riil dalam neraca pemerintah. Dengan asumsi kurs Rp16.200 per dolar AS, nilai utang yang dialihkan setara lebih dari Rp89 triliun, angka yang tidak kecil bagi postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sejumlah ekonom mengingatkan risiko moral hazard, yakni preseden bahwa proyek BUMN yang bermasalah akan selalu diselamatkan anggaran negara, yang berpotensi melemahkan disiplin valuasi proyek di masa mendatang.
Pasar akan membaca langkah ini dari dua kacamata: positif karena risiko kredit BUMN menurun, tetapi negatif jika defisit fiskal melebar melampaui proyeksi. Kuncinya ada pada transparansi skema pembayaran dan sumber dananya, ujar seorang ekonom senior dari lembaga riset keuangan di Jakarta.
Kinerja Operasional dan Proyeksi Whoosh
Dari sisi operasional, Whoosh mencatat tren kenaikan penumpang sejak beroperasi komersial pada Oktober 2023. Volume penumpang harian dilaporkan menembus 20 ribu hingga 30 ribu orang pada periode liburan, dengan total penumpang kumulatif menembus jutaan orang. Meski demikian, pendapatan tiket diperkirakan belum mampu menutup biaya operasional dan beban bunga secara keseluruhan, sehingga valuasi proyek masih bergantung pada pengembangan kawasan berorientasi transit atau transit-oriented development di sekitar stasiun.
Ke depan, proyeksi pasar terhadap langkah pengambilalihan ini akan dipengaruhi dua variabel utama: stabilitas nilai tukar rupiah dan arah kebijakan suku bunga global. Jika likuiditas global melonggar dan capital outflow dari pasar negara berkembang mereda, ruang fiskal pemerintah untuk mencicil kewajiban Whoosh akan lebih leluasa. Sebaliknya, pelemahan rupiah akan memperbesar nilai cicilan dalam mata uang lokal. Bagi investor, transparansi skema restrukturisasi menjadi indikator utama kredibilitas pengelolaan utang infrastruktur Indonesia di mata mitra internasional, sekaligus penentu portofolio investasi mereka di sektor transportasi Tanah Air.
Comments (0)