Chairul Tanjung Soroti Pentingnya Literasi Teknologi bagi Pebisnis Masa Kini
Yogyakarta – Perkembangan dunia usaha saat ini menuntut lebih dari sekadar insting bisnis dan modal yang kuat. Kemampuan memahami serta mengadopsi teknologi menjadi fondasi utama yang membedakan pel...
Yogyakarta – Perkembangan dunia usaha saat ini menuntut lebih dari sekadar insting bisnis dan modal yang kuat. Kemampuan memahami serta mengadopsi teknologi menjadi fondasi utama yang membedakan pelaku usaha yang bertahan dari yang tergilas zaman. Hal tersebut menjadi sorotan Chairul Tanjung, pendiri CT Corp, dalam gelaran Jogja Financial Festival yang berlangsung di Kota Pelajar. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa era digital telah menciptakan medan kompetisi yang sama sekali baru, di mana penguasaan terhadap perangkat digital dan platform daring bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Transformasi Lanskap Bisnis di Era Digital
Chairul Tanjung menguraikan bahwa dalam satu dekade terakhir, lanskap bisnis Indonesia mengalami pergeseran yang sangat signifikan. Jika dahulu skala perusahaan ditentukan oleh luasnya jaringan distribusi fisik dan jumlah aset yang dimiliki, kini variabel tersebut semakin kehilangan relevansinya. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat bahwa penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 79,5 persen pada tahun 2025, menciptakan pasar digital dengan lebih dari 220 juta pengguna. Kondisi ini membuka peluang sekaligus ancaman: pelaku UMKM yang piawai memanfaatkan lokapasar dapat menjangkau konsumen di seluruh Nusantara tanpa harus membuka gerai fisik, namun di saat bersamaan mereka harus bersaing dengan pemain global yang lebih dahulu matang secara digital.
E-commerce: Pilar Pertumbuhan atau Sumber Ketergantungan?
Di satu sisi, keberadaan e-commerce telah menjadi kunci sukses bagi banyak pengusaha modern. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa nilai transaksi perdagangan elektronik di dalam negeri pada tahun 2025 menembus angka Rp612 triliun, tumbuh sekitar 17,8 persen secara tahunan. Platform seperti Tokopedia, Shopee, dan Lazada menjadi mesin pertumbuhan bagi jutaan pelaku UMKM yang berhasil mencatatkan omzet hingga berkali-kali lipat dari sebelumnya. Dengan modal yang relatif kecil, seorang pengusaha kini dapat membangun merek, mengelola inventori, dan menjalankan pemasaran melalui satu genggaman ponsel cerdas.
Di sisi lain, ketergantungan yang tinggi terhadap platform pihak ketiga juga memunculkan risiko tersendiri. Algoritma penentuan peringkat produk, perubahan biaya layanan, hingga persaingan harga yang agresif dapat menggerus margin keuntungan. Chairul Tanjung mengingatkan bahwa pebisnis tidak boleh sekadar menjadi ‘penumpang’ di platform digital, melainkan harus memiliki strategi yang matang, termasuk membangun kanal penjualan mandiri seperti situs web toko atau aplikasi sendiri, serta memanfaatkan media sosial untuk memperkuat kedekatan dengan pelanggan. “Teknologi harus dipahami secara holistik, bukan hanya sebagai alat transaksi, tapi sebagai ekosistem yang mempengaruhi seluruh rantai nilai,” demikian ia menekankan, merujuk pada pentingnya integrasi teknologi mulai dari produksi, pemasaran, hingga layanan purnajual.
Literasi Teknologi: Modal Dasar Pengusaha Masa Depan
Lebih jauh, Chairul Tanjung menyoroti bahwa pemahaman terhadap teknologi tidak hanya terbatas pada kemampuan menjual di marketplace. Ia mencakup kemampuan membaca data, menggunakan kecerdasan buatan untuk personalisasi layanan, hingga menerapkan sistem pembayaran digital yang efisien. Menurutnya, pengusaha yang gagap teknologi akan semakin tertinggal seiring dengan munculnya model bisnis baru seperti social commerce dan live shopping. Data internal CT Corp menunjukkan bahwa segmen konsumen yang melakukan pembelian melalui siaran langsung di media sosial meningkat lebih dari 200 persen dalam dua tahun terakhir, menandakan pergeseran preferensi yang harus direspons dengan cepat oleh pelaku bisnis.
Namun, membangun literasi digital di kalangan pengusaha tidaklah mudah. Kesenjangan infrastruktur di luar Pulau Jawa, biaya investasi awal untuk pelatihan dan perangkat, serta rendahnya kesadaran akan keamanan siber masih menjadi hambatan yang nyata. Survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2025 mengungkap bahwa hanya 42 persen pelaku UMKM yang telah mengadopsi teknologi digital secara menyeluruh, sementara sisanya masih bergulat dengan keterbatasan keterampilan dan akses.
Menavigasi Disrupsi: Langkah Strategis yang Harus Diambil
Menanggapi tantangan tersebut, Chairul Tanjung menyarankan agar para pengusaha menerapkan pendekatan bertahap namun konsisten dalam transformasi digital. Langkah pertama adalah memetakan kebutuhan dan kesiapan internal, kemudian memilih teknologi yang paling relevan dengan skala dan jenis usaha. Tidak semua bisnis harus memiliki aplikasi canggih; warung kelontong, misalnya, bisa memanfaatkan fitur katalog WhatsApp Business dan QRIS untuk meningkatkan efisiensi transaksi. Selanjutnya, pelaku usaha perlu terus meningkatkan kapasitas melalui pelatihan dan kolaborasi, baik dengan sesama pengusaha maupun dengan penyedia teknologi. Pemerintah, melalui program UMKM Go Digital, juga memberikan insentif dan pendampingan yang dapat dimanfaatkan secara optimal.
Di penghujung sesinya, ia menggarisbawahi bahwa masa depan bisnis akan ditentukan oleh kemampuan berinovasi dan beradaptasi. Teknologi akan terus bergerak, dan pengusaha harus mampu menjadi agen perubahan, bukan korban perubahan. Dengan memahami secara mendalam potensi dan risiko teknologi, mereka tidak hanya dapat mempertahankan bisnisnya, tetapi juga menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Baca juga:
Comments (0)