Aug 25, 2026
Bisnis

Chairul Tanjung: Pengusaha Harus Melek Teknologi di Era Digital

Di tengah arus disrupsi yang kian deras, pemahaman mendalam terhadap teknologi bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan syarat fundamental bagi setiap pelaku usaha. Hal tersebut ditekankan oleh pend...

Chairul Tanjung: Pengusaha Harus Melek Teknologi di Era Digital

Di tengah arus disrupsi yang kian deras, pemahaman mendalam terhadap teknologi bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan syarat fundamental bagi setiap pelaku usaha. Hal tersebut ditekankan oleh pendiri CT Corp, Chairul Tanjung, dalam sebuah forum bisnis bertema keuangan yang berlangsung di Yogyakarta. Ia menggarisbawahi bahwa model bisnis konvensional kian tergerus dan hanya mereka yang adaptif terhadap perubahan digital yang akan mampu bertahan, bahkan unggul dalam persaingan.

Pernyataan Tanjung tersebut menjadi sorotan penting di tengah transformasi ekonomi Indonesia yang kian bergerak ke arah digital. Berdasarkan data e-Conomy SEA 2024, nilai transaksi ekonomi digital Indonesia mencapai 110 miliar dolar AS, dengan pertumbuhan year-on-year sebesar 15 persen. Angka ini mengonfirmasi bahwa konsumen kini semakin mengandalkan platform digital dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Maka, pengusaha yang abai terhadap perkembangan ini berisiko kehilangan pangsa pasar secara signifikan.

Evolusi Perilaku Konsumen dan Peran Krusial E-Commerce

Di satu sisi, pergeseran preferensi konsumen menuju belanja daring telah membuka akses pasar yang jauh lebih luas bagi para pelaku UMKM. Toko fisik tak lagi menjadi satu-satunya etalase; kini, sebuah butik kecil di pinggiran kota bisa menjangkau pelanggan di seluruh pelosok negeri melalui platform e-commerce. Model ini menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan efisiensi rantai pasok. Chairul Tanjung melihat fenomena ini sebagai peluang emas yang harus dimanfaatkan oleh pengusaha masa kini. "E-commerce bukan hanya kanal penjualan tambahan, melainkan tulang punggung bisnis modern," ujarnya merangkum esensi transformasi tersebut.

Di sisi lain, migrasi besar-besaran ke ekosistem digital juga menuntut pemahaman yang lebih kompleks dari sekadar membuka toko daring. Pengusaha perlu mendalami analitika data untuk membaca perilaku konsumen, mengelola rantai pasok berbasis sistem, hingga menerapkan strategi pemasaran digital yang tepat sasaran. Tanpa literasi teknologi yang memadai, pelaku bisnis justru akan tenggelam di antara jutaan pedagang lain yang juga berebut perhatian di dunia maya. Inilah dilema yang sering diabaikan: teknologi menawarkan kemudahan, namun juga memperlebar jurang antara mereka yang paham dengan yang tidak.

Dari Fundamen Finansial ke Fundamen Teknologi

Tanjung juga menyoroti bahwa definisi "fundamental bisnis" telah bergeser. Jika dahulu yang utama adalah permodalan, lokasi strategis, dan jaringan personal, kini fondasi itu wajib diperkuat dengan infrastruktur teknologi. Konsep ini sejalan dengan tren valuasi perusahaan rintisan dan korporasi besar di bursa. Rata-rata rasio price-to-earning perusahaan teknologi global berada di kisaran 28 kali pada kuartal pertama 2026, jauh di atas sektor manufaktur tradisional yang hanya 12 kali. Pasar memberikan premium tinggi kepada entitas bisnis yang mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan efisiensi dan skalabilitas.

Namun, penerapan teknologi bukan berarti mengesampingkan prinsip kehati-hatian finansial. Chairul Tanjung mengingatkan bahwa pengeluaran untuk digitalisasi harus dihitung secara cermat dalam kerangka pengembalian investasi. Ia mencontohkan, banyak bisnis yang terburu-buru mengadopsi beragam perangkat lunak mahal tanpa terlebih dahulu memetakan kebutuhan riil dan kemampuan sumber daya manusia internal. Akibatnya, investasi teknologi justru menjadi beban baru alih-alih solusi. Pendekatan yang ia tawarkan adalah bertahap namun konsisten: memulai dari sistem paling dasar seperti pencatatan keuangan digital, lalu perlahan merambah ke integrasi multi-kanal dan otomatisasi.

Tantangan Likuiditas dan Strategi Bertahan di Tengah Capital Outflow

Sorotan lainnya adalah tantangan makro yang membayangi sektor digital. Bank Indonesia mencatat adanya tekanan capital outflow dari pasar obligasi dan saham domestik sepanjang semester pertama 2026 senilai Rp45 triliun, yang turut memengaruhi likuiditas di sektor riil. Kondisi ini berimbas pada semakin selektifnya sumber pendanaan bagi perusahaan rintisan maupun pengusaha yang ingin melakukan ekspansi digital.

Pro dan kontra pun mengemuka. Pro: kondisi pengetatan likuiditas justru menjadi momentum bagi pengusaha untuk membangun bisnis yang lebih efisien dan tidak sekadar mengandalkan "bakar uang" untuk menarik konsumen. Bisnis dengan fundamental kuat akan bertahan, dan teknologi dapat menjadi alat untuk menekan biaya akuisisi pelanggan secara signifikan. Kontra: banyak usaha kecil yang masih bergantung pada pinjaman untuk modal kerja digital akan menghadapi biaya pendanaan yang lebih tinggi, yang dapat menggerus margin keuntungan yang sudah tipis. Chairul Tanjung berpendapat bahwa dalam situasi seperti ini, kolaborasi antarpengusaha melalui ekosistem digital terintegrasi—semacam koperasi modern berbasis aplikasi—dapat menjadi strategi untuk berbagi beban biaya teknologi.

Di penghujung paparannya, ia menekankan bahwa pendidikan berkelanjutan menjadi kunci. Pengusaha tidak bisa berhenti pada satu tingkat pemahaman teknologi, karena pembaruan terjadi setiap saat. Forum-forum diskusi, pelatihan, dan mentoring antarsejawat perlu diperbanyak agar literasi digital tidak menjadi monopoli segelintir orang. Dengan demikian, transformasi digital bukan lagi ancaman, melainkan jalan tol menuju pertumbuhan usaha yang inklusif dan berkelanjutan. Proyeksi Bank Dunia menunjukkan bahwa digitalisasi dapat menambah 1,5 persen terhadap pertumbuhan produk domestik bruto Indonesia per tahun, asalkan diiringi dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang merata.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User