Dony Ahmad Munir: Profil dan Kinerja Bupati Sumedang
<h2>Dony Ahmad Munir: Profil dan Kinerja Bupati Sumedang</h2> <p>Dr. H. Dony Ahmad Munir, S.T., M.M. adalah Bupati Sumedang yang dilantik pada 20 September 2018 untuk periode 2018-2023, dan kembali te
Dony Ahmad Munir: Profil dan Kinerja Bupati Sumedang
Dr. H. Dony Ahmad Munir, S.T., M.M. adalah Bupati Sumedang yang dilantik pada 20 September 2018 untuk periode 2018-2023, dan kembali terpilih untuk periode kedua 2024-2029. Politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini mencatat sejarah sebagai bupati pertama dari partai berbasis Islam yang memimpin Sumedang. Di bawah kepemimpinannya, Sumedang mencatat pertumbuhan ekonomi 5,2% pada 2023, melampaui rata-rata Jawa Barat, sekaligus meraih predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK selama empat tahun berturut-turut.
Profil Singkat
Dony Ahmad Munir lahir di Sumedang, 9 Februari 1978. Ia menempuh pendidikan S1 Teknik Planologi di Institut Teknologi Bandung (ITB), kemudian melanjutkan S2 Magister Manajemen di STIE Pasundan, Bandung. Gelar doktor ia peroleh dari Universitas Padjadjaran dengan disertasi tentang pengelolaan potensi lokal berbasis kearifan budaya.
Sebelum memimpin Sumedang, Dony mengawali karier politik sebagai anggota DPRD Jawa Barat periode 2009-2014, lalu terpilih menjadi Wakil Bupati Sumedang mendampingi Eka Setiawan pada 2013-2018. Di tingkat nasional, ia sempat menjadi Ketua DPP PPP Bidang Pemenangan Pemilu Jawa Bagian Barat, menandai kapasitasnya sebagai organisator politik berpengalaman.
Karier dan Riwayat Jabatan
Karier politik Dony dimulai sebagai kader PPP. Ia terpilih sebagai anggota DPRD Jawa Barat periode 2009-2014, di mana ia aktif di Komisi B yang membidangi ekonomi dan keuangan daerah. Debutnya di eksekutif dimulai ketika menjadi Wakil Bupati Sumedang periode 2013-2018; posisi yang membawanya memahami peta persoalan daerah secara mendalam.
Pada Pilkada 2018, Dony maju sebagai calon bupati berpasangan dengan Erwan Setiawan dan memenangkan kontestasi. Periode pertama kepemimpinannya ditandai berbagai reformasi birokrasi dan digitalisasi pelayanan publik. Keberhasilan ini mengantarkannya terpilih kembali pada Pilkada 2024 dengan dukungan koalisi besar partai.
Kinerja dan Program Unggulan
Revolusi Digital SUMEDANG SMART. Program ini mentransformasi 82 layanan publik ke platform digital, termasuk sistem perizinan online yang memangkas waktu penerbitan izin dari 14 hari menjadi rata-rata 3 jam. Pada 2023, aplikasi e-Office Sumedang memangkas anggaran kertas dan alat tulis kantor sebesar Rp 14 miliar per tahun, sekaligus meraih penghargaan Top 45 Inovasi Pelayanan Publik dari KemenPAN-RB.
Program SERIBU PONDOK PESANTREN. Sebagai bupati berlatar belakang PPP, Dony mengalokasikan Rp 45 miliar dari APBD 2022-2023 untuk pengembangan pesantren sebagai pusat ekonomi dan pendidikan vokasi. Program ini menjangkau 237 pesantren, memberikan pelatihan agribisnis dan manufaktur ringan kepada santri, dan menciptakan 1.850 lapangan kerja baru di sektor UMKM halal.
Infrastruktur Pariwisata Cisumdawu. Memanfaatkan momentum selesainya Tol Cisumdawu pada 2023, Dony menggenjot pembangunan infrastruktur penunjang wisata seperti rest area terpadu di Pamulihan dan revitalisasi destinasi Puncak Damar. Kunjungan wisatawan ke Sumedang meningkat 64% dari 1,2 juta (2021) menjadi 1,97 juta kunjungan (2023), mendorong pendapatan sektor perhotelan dan kuliner naik 32%.
Tantangan dan Harapan
Meski mencatatkan pertumbuhan positif, Sumedang masih menghadapi tingkat kemiskinan yang stagnan di 9,8% (2023)—hanya turun tipis dari 10,1% pada 2019. Ketimpangan antara kawasan utara yang maju pasca-tol dan wilayah selatan yang agraris menjadi pekerjaan rumah serius. Janji pembangunan pabrik pengolahan singkong di Cimanggung belum terealisasi sejak diumumkan pada 2021. Masyarakat berharap periode kedua Dony mampu menyelesaikan proyek strategis ini sekaligus memperkuat ketahanan pangan melalui hilirisasi pertanian lokal yang belum optimal.
Comments (0)