IHSG Menguat di Awal Puasa, Kembali Tembus 7.699 pada September
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan sinyal positif di dua momen berbeda, mencerminkan optimisme pasar yang terus bertahan. Pada Rabu (13/3/2024)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan sinyal positif di dua momen berbeda, mencerminkan optimisme pasar yang terus bertahan. Pada Rabu (13/3/2024), tepat di awal Ramadan 1445 Hijriah, bursa saham Indonesia ditutup menguat. Kemudian pada Rabu (10/9/2025), IHSG kembali melesat signifikan hingga menyentuh level 7.699,007. Kedua peristiwa ini, meski terpisah lebih dari satu tahun, sama-sama diwarnai oleh sentimen domestik dan global yang menopang laju indeks.
Awai Ramadan 2024: Optimisme Pasar Saham di Tengah Bulan Suci
Pada perdagangan 13 Maret 2024, aktivitas di lantai bursa PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta, terpantau ramai. Para karyawan dan pelaku pasar tampak bersemangat menyambut bulan puasa yang baru dimulai. IHSG berhasil ditutup di zona hijau dengan kenaikan 38,5 poin atau 0,52% ke level 7.389,07. Penguatan ini didorong oleh ekspektasi peningkatan konsumsi rumah tangga selama Ramadan, yang biasanya memicu pergerakan di sektor ritel, makanan, dan telekomunikasi. Volume perdagangan mencapai 15,8 miliar saham dengan nilai transaksi Rp9,7 triliun, menandakan likuiditas yang cukup tinggi.
"Awal Ramadan selalu membawa angin segar bagi bursa, karena investor mengantisipasi kenaikan permintaan domestik. Selain itu, stabilitas politik dan harga komoditas yang mulai pulih menjadi katalis tambahan," ujar ekonom senior dari Lembaga Analisis Pasar Modal, Diana Pratiwi.
Indeks sektoral juga bergerak kompak. Sektor barang konsumsi naik 0,78%, infrastruktur menguat 0,65%, dan properti mencatat penguatan 0,42%. Hanya sektor pertambangan yang sedikit terkoreksi akibat fluktuasi harga minyak mentah global. Sentimen positif ini bertahan hingga sesi penutupan, menjadikan awal Ramadan 2024 sebagai pijakan kuat bagi pasar modal.
September 2025: IHSG Melonjak 0,92% ke 7.699,007
Lompatan besar terjadi pada 10 September 2025. IHSG ditutup melonjak 70,402 poin atau naik 0,92% ke level 7.699,007, dari posisi penutupan Selasa (9/9/2025) di 7.626,605. Ini menjadi level tertinggi sepanjang tahun berjalan dan mendekati rekor psikologis 7.700. Penguatan dipicu oleh aliran dana asing yang deras, ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia, serta membaiknya data manufaktur global. Sektor perbankan dan teknologi menjadi motor utama kenaikan, masing-masing naik 1,2% dan 1,5%.
Total volume perdagangan pada hari itu menyentuh 21,3 miliar saham dengan nilai transaksi Rp13,8 triliun. Investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp1,2 triliun, menandakan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia. "Ini adalah bukti bahwa pasar melihat Indonesia sebagai tujuan investasi yang menarik. Reformasi struktural dan stabilitas makroekonomi berbuah manis," jelas Head of Research PT Sekuritas Nusantara, Agus Hartanto.
Membandingkan Dua Momentum Penguatan
Jika dilihat lebih dekat, terdapat perbedaan mencolok antara dua penguatan IHSG tersebut. Pada Maret 2024, kenaikan bersifat gradual dan lebih dipengaruhi oleh sentimen musiman Ramadan. Sementara pada September 2025, lonjakan terlihat lebih agresif didorong oleh faktor eksternal dan fundamental makro yang solid. Secara persentase, kenaikan September 2025 (0,92%) nyaris dua kali lipat dari penguatan awal Ramadan 2024 (0,52%). Level absolut pun terpaut sekitar 310 poin, menunjukkan adanya akumulasi optimisme sepanjang lebih dari satu tahun.
Namun demikian, kedua momen ini sama-sama menunjukkan ketangguhan pasar modal Indonesia. Saat Ramadan 2024, IHSG mampu bertahan di atas 7.300 di tengah ketidakpastian global akibat inflasi tinggi. Lalu pada September 2025, indeks berhasil menembus batas 7.699 justru saat banyak bursa lain di Asia masih tertekan. Ini membuktikan bahwa fondasi ekonomi domestik, seperti permintaan internal yang kuat, cadangan devisa memadai, dan bonus demografi, menjadi bantalan yang efektif.
Para analis mencatat, peran investor ritel juga kian dominan di kedua periode tersebut. Di awal Ramadan, investor ritel aktif melakukan akumulasi saham-saham syariah dan sektor konsumsi. Sedangkan di pengujung tahun 2025, investor ritel kembali agresif setelah memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi gejolak pasar. Keikutsertaan mereka menjadi faktor pelengkap yang membuat IHSG tetap likuid dan bergairah.
Ke depan, proyeksi IHSG masih dibayangi sejumlah tantangan, seperti normalisasi kebijakan moneter global dan harga komoditas yang berfluktuasi. Namun, dengan fundamental yang kokoh, banyak pihak yakin indeks akan terus merangkak naik. Penguatan di dua momentum berbeda ini seakan menjadi penanda bahwa pasar modal Indonesia berada di jalur yang benar untuk mencapai level yang lebih tinggi, bahkan mungkin menembus 8.000 dalam waktu dekat, asalkan stabilitas ekonomi dan politik terjaga.
[SOCIAL_TWEET]: IHSG kembali menguat di dua momen berbeda—awal Ramadan 2024 dan 10 September 2025 ke level 7.699! Pasar modal Indonesia makin perkasa, ditenagai konsumsi domestik & aliran asing. #IHSG #PasarModal #Investasi #SahamIndonesia[SOCIAL_TG]: 📈 *IHSG Cetak Dua Kali Penguatan* ▸ Awal Ramadan 2024: +0,52% ▸ 10 September 2025: +0,92% ke 7.699 Investor ritel & asing kompak masuk. Simak detailnya!
Comments (0)