Afif Nurhidayat: Profil dan Kinerja Bupati Wonosobo
Afif Nurhidayat: Profil dan Kinerja Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat adalah Bupati Wonosobo yang mulai menjabat sejak 26 Februari 2021. Ia terpilih melalui Pilkada 2020 berpasangan dengan Wakil Bupati Muhammad Albar, diusung oleh koalisi Partai Demokr
Afif Nurhidayat: Profil dan Kinerja Bupati Wonosobo
Afif Nurhidayat adalah Bupati Wonosobo yang mulai menjabat sejak 26 Februari 2021. Ia terpilih melalui Pilkada 2020 berpasangan dengan Wakil Bupati Muhammad Albar, diusung oleh koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Pasangan ini memenangkan kontestasi dengan perolehan 289.234 suara atau 59,72 persen dari total suara sah, mengalahkan petahana Eko Purnomo. Kemenangan ini menandai kembalinya Afif ke tampuk kekuasaan setelah sebelumnya menjabat sebagai Wakil Bupati Wonosobo periode 2010–2015.
Profil dan Latar Belakang
Afif Nurhidayat lahir di Wonosobo pada 7 Maret 1975. Ia menempuh pendidikan dasar dan menengah di kota kelahirannya, lalu melanjutkan studi S1 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, dan meraih gelar Magister Ilmu Pemerintahan dari Universitas Diponegoro, Semarang, pada tahun 2017. Perjalanan politiknya dimulai dari akar rumput sebagai kader PDI-P. Ia pernah menjabat sebagai Ketua DPC PDI-P Kabupaten Wonosobo, posisi yang masih dipegangnya hingga saat ini. Karir legislatifnya dimulai sebagai anggota DPRD Kabupaten Wonosobo periode 2009–2010, sebelum akhirnya dipercaya menjadi Wakil Bupati Wonosobo mendampingi Bupati Abdul Kholiq Arif selama lima tahun. Usai menjabat wakil bupati, Afif melanjutkan kiprah di tingkat provinsi sebagai anggota DPRD Jawa Tengah periode 2014–2019 dari daerah pemilihan Jawa Tengah XI yang meliputi Wonosobo, Temanggung, dan Magelang.
Program Unggulan dan Kinerja
Sejak memimpin Wonosobo, Afif Nurhidayat mencanangkan sejumlah program prioritas. Program pertama adalah “Wonosobo Sehat”, yang bertujuan meningkatkan akses layanan kesehatan bagi masyarakat, terutama di daerah terpencil. Pada tahun 2024, cakupan Universal Health Coverage (UHC) Kabupaten Wonosobo mencapai 97,8 persen, meningkat signifikan dari 83,2 persen pada tahun 2021. Pemerintah kabupaten juga membangun dua puskesmas baru di Kecamatan Kertek dan Kecamatan Sapuran, serta menyediakan ambulans desa di 15 desa percontohan. Anggaran kesehatan pada APBD 2025 dialokasikan sebesar Rp 187 miliar, naik 14,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Program kedua adalah “Satu Desa Satu Produk Unggulan” yang mendorong hilirisasi komoditas lokal. Hingga akhir 2025, sebanyak 209 dari total 265 desa dan kelurahan di Wonosobo telah memiliki produk unggulan terdaftar, seperti keripik jamur tiram dari Desa Campursari, kopi arabika Sindoro dari Desa Tambi, dan gula semut kelapa dari Desa Tlogomulyo. Program ini diklaim berkontribusi menekan angka kemiskinan dari 13,07 persen pada Maret 2021 menjadi 10,68 persen pada Maret 2025, serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Wonosobo dari sektor retribusi pariwisata dan pertanian sebesar 23 persen.
Tantangan dan Kontroversi
Kepemimpinan Afif Nurhidayat tidak lepas dari tantangan dan sorotan. Topografi Wonosobo yang bergunung-gunung dengan 72 persen wilayah berada pada kemiringan di atas 30 derajat menyulitkan pembangunan infrastruktur dasar. Jalan rusak dan akses air bersih masih menjadi keluhan utama warga di desa-desa lereng Sumbing dan Sindoro. Kritik juga muncul terkait penanganan kawasan wisata Dieng—tata kelola parkir berbayar yang dinilai tumpang tindih antara pemerintah kabupaten dan masyarakat lokal memicu protes pada pertengahan 2024. Di sisi lain, kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pada tahun 2025, termasuk pemangkasan perjalanan dinas dan dana bantuan sosial, menuai beragam reaksi di internal birokrasi. Meskipun demikian, Badan Pusat Statistik mencatat kinerja ekonomi Wonosobo tetap stabil dengan pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar 5,12 persen pada tahun 2024. Afif sendiri mengklaim bahwa strategi tata kelola keuangan yang ketat bertujuan untuk memprioritaskan belanja modal produktif, seperti perbaikan 64 jalan kabupaten sepanjang total 138 kilometer sepanjang masa jabatannya.
Comments (0)