Oct 19, 2026
Bisnis

BRI Sinergikan Ekonomi Lokal dan Sport Tourism di Mandalika 2026

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per kuartal pertama 2026, penyelenggaraan MotoGP Mandalika tercatat menyumbang tambahan Rp1,8 triliun terhadap produk domestik regional brut...

BRI Sinergikan Ekonomi Lokal dan Sport Tourism di Mandalika 2026

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per kuartal pertama 2026, penyelenggaraan MotoGP Mandalika tercatat menyumbang tambahan Rp1,8 triliun terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Nusa Tenggara Barat, naik sekitar 12,5 persen year-on-year dibandingkan edisi 2025. Angka itu menempatkan ajang balap internasional tersebut sebagai salah satu motor penggerak ekonomi daerah dengan multiplier effect yang cukup signifikan, terutama pada sektor akomodasi, kuliner, transportasi, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Di tengah momentum itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memperkuat perannya sebagai katalis ekosistem bisnis di kawasan Mandalika. Langkah ini bukan sekadar pemasangan logo sebagai sponsor, melainkan pembangunan rantai nilai yang menghubungkan pertumbuhan ekonomi, inklusi keuangan, dan keberlanjutan dalam satu kerangka yang saling menguatkan.

Fundamental Ekonomi Lokal dan Indeks Inklusi Keuangan

Secara fundamental, kehadiran agenda sport tourism berskala global memberikan sentimen pasar yang positif bagi pelaku usaha lokal. Bank Indonesia mencatat transaksi pembayaran digital di kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika mengalami kenaikan hingga 38 persen selama periode penyelenggaraan, dengan nilai nominal mencapai Rp420 miliar. Angka tersebut mencerminkan likuiditas yang lebih tinggi di level grassroots, yang biasanya berkorelasi langsung dengan peningkatan rasio inklusi keuangan daerah.

Di satu sisi, lonjakan likuiditas ini merupakan peluang bagi lembaga keuangan untuk memperluas portofolio kredit produktif, khususnya bagi UMKM yang selama ini terkendala akses permodalan. Program pendampingan, digitalisasi pembayaran, serta pembiayaan berbasis komunitas menjadi instrumen penting untuk memastikan uang yang berputar tidak hanya bersifat sementara, melainkan tertransformasi menjadi kapasitas produksi yang berkelanjutan.

Di sisi lain, terdapat catatan kritis yang perlu dicermati. Pola musiman sport tourism berpotensi menciptakan ketergantungan pada event tunggal, sehingga keberlanjutan ekonomi lokal rentan terhadap siklus tahunan. Tanpa diversifikasi sektor dan penguatan kapasitas pelaku usaha di luar periode balapan, dampak positif bisa menguap begitu lintasan ditutup. Di sinilah peran intermediasi keuangan dan pendampingan usaha menjadi penentu apakah momentum ini berubah menjadi tren jangka panjang atau hanya gelembung sesaat.

Pro dan Kontra: Sport Tourism sebagai Mesin Pertumbuhan

Pro: Penyelenggaraan event internasional terbukti mendorong kenaikan okupansi hotel hingga 95 persen pada pekan balapan, meningkatkan pendapatan pelaku usaha kuliner rata-rata 2,5 kali dibanding pekan biasa, serta membuka lapangan kerja temporer bagi lebih dari 5.000 tenaga kerja lokal. Valuasi ekonomi kawasan pun meningkat, tercermin dari kenaikan harga properti dan minat investor pada sektor hospitality.

Kontra: Sejumlah ekonom mengingatkan bahwa manfaat tersebut belum tentu merata. Segmen usaha besar dan pemain nasional cenderung menyerap porsi terbesar dari belanja wisatawan, sementara UMKM di pinggiran sirkuit masih menghadapi kendala akses, perizinan, dan literasi keuangan. Selain itu, risiko capital outflow melalui pembayaran digital lintas negara dan impor barang konsumsi perlu diantisipasi agar neraca perdagangan daerah tidak tergerus.

"Sport tourism bukan sekadar ajang balap, tetapi katalis transformasi ekonomi lokal yang membutuhkan ekosistem pendukung, mulai dari pembiayaan, literasi keuangan, hingga keberlanjutan usaha," ujar seorang analis ekonomi perbankan.

Proyeksi dan Tantangan Keberlanjutan

Ke depan, proyeksi dampak ekonomi MotoGP Mandalika 2026 diperkirakan tetap berada pada tren positif dengan kisaran pertumbuhan 10–14 persen year-on-year, sejalan dengan pemulihan sektor pariwisata nasional dan penguatan konsumsi rumah tangga. Namun, proyeksi ini sangat bergantung pada tiga faktor: stabilitas sentimen pasar global, konsistensi kebijakan pemerintah daerah, serta kemampuan lembaga keuangan menjaga likuiditas dan akses pembiayaan bagi pelaku usaha kecil.

Dari kacamata kebijakan, sinergi antara perbankan, pemerintah, dan komunitas lokal menjadi kunci. Pendekatan yang hanya berorientasi pada penyelenggaraan event tanpa pembangunan kapasitas jangka panjang berisiko menghasilkan pertumbuhan yang tidak inklusif. Sebaliknya, integrasi antara pembiayaan, pendampingan, dan digitalisasi dapat mendorong rasio inklusi keuangan yang lebih merata serta memperkuat fundamental ekonomi daerah.

Pada akhirnya, keberhasilan Mandalika sebagai destinasi sport tourism tidak cukup diukur dari jumlah penonton atau nilai transaksi selama sepekan. Indikator yang lebih bermakna adalah seberapa besar manfaat tersebut tertinggal setelah balapan usai—apakah UMKM naik kelas, apakah lapangan kerja bertahan, dan apakah ekosistem keuangan lokal menjadi lebih tangguh. Di titik itulah nilai sesungguhnya dari sebuah kemitraan strategis diuji, bukan hanya pada kecepatan di lintasan, melainkan pada ketahanan ekonomi yang dibangun di sekitarnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User