Sep 02, 2026
Bisnis

BRI Salurkan Rp11,1 Triliun KUR Perumahan, Optimis Capai Target 2026

Berdasarkan data Bank Indonesia per Agustus 2026, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sektor perumahan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencapai Rp11,1 triliun, atau sekitar 79% dari aloka...

BRI Salurkan Rp11,1 Triliun KUR Perumahan, Optimis Capai Target 2026

Berdasarkan data Bank Indonesia per Agustus 2026, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sektor perumahan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencapai Rp11,1 triliun, atau sekitar 79% dari alokasi kuota tahunan sebesar Rp14 triliun. Angka ini menunjukan akselerasi yang signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, di mana realisasi baru mencapai Rp8,7 triliun. Pertumbuhan year-on-year (yoy) sebesar 27,6% ini didorong oleh peningkatan permintaan dari segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta kebijakan suku bunga yang relative kompetitif.

Optimisme di Tengah Tekanan Likuiditas

Direktur Utama BRI menyatakan optimisme bahwa kuota KUR Perumahan sebesar Rp14 triliun akan tercapai penuh hingga akhir 2026. "Kami melihat fundamental permintaan masih kuat, terutama dari nasabah UMKM yang membutuhkan pembiayaan properti untuk usaha atau tempat tinggal," ujarnya dalam konferensi pers pekan lalu. Di satu sisi, sentimen pasar perumahan menunjukan perbaikan berkat stimulus pemerintah berupa relaksasi Loan to Value (LTV) dan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) ditanggung pemerintah. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) untuk portofolio KUR Perumahan juga terjaga di bawah 2%, menunjukan kualitas aset yang baik.

Di sisi lain, tantangan likuiditas perbankan mulai terasa. Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) perbankan nasional tercatat 28,3% pada Juli 2026, turun dari 29,1% pada awal tahun. Tekanan ini berasal dari penarikan dana pemerintah untuk belanja infrastruktur dan capital outflow akibat kenaikan suku bunga acuan The Fed. "Optimisme BRI harus diimbangi dengan pengelolaan likuiditas yang hati-hati, karena tekanan suku bunga dan potensi kenaikan biaya dana bisa mempengaruhi margin," analisis Ekonom Senior Beritadua, Andi Pratama.

Proyeksi Valuasi dan Dampak ke Sektor Properti

Proyeksi penyaluran KUR Perumahan hingga akhir tahun diperkirakan mencapai Rp14,2–14,5 triliun, melampaui target awal. Angka ini setara dengan 12% dari total KUR nasional yang diproyeksikan Rp118 triliun pada 2026. Dengan realisasi saat ini, kontribusi KUR Perumahan terhadap pertumbuhan kredit properti secara keseluruhan diperkirakan mencapai 18%, mendorong indeks harga properti residensial (IHPR) Bank Indonesia naik 1,5% (yoy) pada triwulan III-2026.

Namun, valuasi properti di segmen bawah—yang menjadi target utama KUR—masih menghadapi tantangan. Survei BI menunjukan bahwa harga rumah tapak ukuran 21-36 m2 di kota besar mengalami kenaikan 3,2% (yoy) pada semester I-2026, lebih rendah dari inflasi umum yang 4,1%. "Artinya, daya beli masyarakat kelas menengah bawah masih lemah meskipun suku bunga KUR rendah. Stimulus fiskal dan peningkatan pendapatan menjadi kunci agar target penyaluran tidak sekadar tercapai, tetapi juga berkontribusi pada pemerataan akses hunian," kata Pengamat Properti dari Universitas Indonesia, Dewi Sartika.

Strategi BRI dan Risiko ke Depan

BRI mengandalkan dua strategi utama untuk menggenjot penyaluran sisanya yang sekitar Rp2,9 triliun dalam empat bulan ke depan: pertama, perluasan kerja sama dengan pengembang properti di daerah tier-2 dan tier-3; kedua, digitalisasi proses aplikasi melalui platform BRImo untuk mempercepat persetujuan. Hingga Agustus, jumlah debitur KUR Perumahan BRI mencapai 215.000, naik 18% dari tahun lalu, dengan rata-rata plafon Rp51,6 juta per debitur.

Risiko utama yang dihadapi adalah potensi kenaikan suku bunga acuan domestik jika inflasi inti terus meningkat. Bank Indonesia memproyeksikan suku bunga BI 7-Day Reverse Repo Rate tetap di 6,25% hingga akhir tahun, namun tekanan dari global bisa memicu penyesuaian. Jika suku bunga naik 25 basis poin, beban bunga debitur KUR yang saat ini 6% per tahun efektif bisa naik menjadi 6,25%, berpotensi menurunkan minat pengajuan baru. "Namun, fundamental ekonomi Indonesia masih solid dengan pertumbuhan PDB 5,3% (yoy) di triwulan II-2026, dan penyerapan tenaga kerja di sektor konstruksi meningkat 4,2% year-on-year," tutup Andi Pratama.

Dengan optimisme yang didukung data makro dan strategi agresif, BRI tampaknya berada di jalur tepat untuk mencapai target KUR Perumahan Rp14 triliun. Namun, kewaspadaan terhadap dinamika suku bunga dan likuiditas tetap diperlukan agar pertumbuhan kredit tidak mengorbankan kualitas aset jangka panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User