BRI Peduli Perkuat Kualitas dan Pemasaran Peternak Sapi Perah Malang
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per triwulan IV 2024, produksi susu segar dalam negeri nasional tercatat di kisaran 837 ribu ton per tahun, sementara kebutuhan konsumsi susu nasional dipe...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per triwulan IV 2024, produksi susu segar dalam negeri nasional tercatat di kisaran 837 ribu ton per tahun, sementara kebutuhan konsumsi susu nasional diperkirakan menembus 4,3 juta ton setara susu segar. Kesenjangan antara produksi dan permintaan tersebut membuat Indonesia masih bergantung pada impor dengan rasio ketergantungan mencapai hampir 80 persen. Di tengah tantangan struktural itu, program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) dari sektor perbankan mulai menyasar penguatan kapasitas peternak rakyat. Salah satu inisiatif terbaru datang dari BRI Peduli yang menyalurkan dukungan bagi Kelompok Ternak Sumber Karanglo di Kabupaten Malang, Jawa Timur, dengan fokus pada peningkatan kualitas produk dan perluasan akses pemasaran.
Konteks Industri Persusuan Nasional
Jawa Timur merupakan sentra produksi susu segar terbesar di Indonesia dengan kontribusi sekitar 50 persen dari total produksi nasional. Kabupaten Malang, bersama Pasuruan dan Kota Batu, menjadi kantong produksi utama berkat topografi dataran tinggi yang sesuai untuk pemeliharaan sapi perah. Namun, produktivitas sapi perah rakyat Indonesia masih relatif rendah, yakni rata-rata 10 hingga 12 liter per ekor per hari, jauh di bawah standar negara maju yang mampu mencapai 30 liter per hari. Rendahnya produktivitas ini menjadi akar persoalan mengapa pasokan domestik sulit mengejar pertumbuhan permintaan.
Dari sisi konsumsi, data Kementerian Pertanian menunjukkan konsumsi susu per kapita masyarakat Indonesia hanya sekitar 16,4 liter per tahun, tertinggal jauh dari Malaysia yang mencapai sekitar 50 liter dan Thailand di kisaran 35 liter per tahun. Di satu sisi, angka ini mencerminkan ketertinggalan konsumsi protein hewani. Di sisi lain, rendahnya basis konsumsi justru membuka ruang pertumbuhan pasar yang sangat luas, terlebih dengan adanya rencana program makan bergizi yang berpotensi menambah kebutuhan susu nasional secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Dua Sisi Dukungan CSR bagi Peternak Rakyat
Di satu sisi, intervensi seperti yang dilakukan BRI Peduli menyentuh dua persoalan mendasar yang selama ini membelenggu peternak rakyat, yaitu kualitas produk dan akses pemasaran. Peningkatan kualitas susu segar, yang diukur antara lain dari total plate count (TPC) atau jumlah bakteri, kadar lemak, dan kandungan protein, sangat menentukan harga jual di tingkat koperasi maupun industri pengolahan susu. Susu dengan mutu lebih baik otomatis dihargai lebih tinggi, sehingga pendapatan peternak berpotensi mengalami kenaikan. Sementara itu, dukungan pemasaran membantu kelompok ternak memperluas kanal distribusi, termasuk pengembangan produk olahan bernilai tambah lebih tinggi seperti susu pasteurisasi kemasan, yogurt, dan keju.
Di sisi lain, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa program CSR pada dasarnya bersifat temporer dan terbatas cakupannya. Tanpa keberlanjutan pendampingan, risiko ketergantungan kelompok terhadap bantuan eksternal tetap ada. Persoalan struktural seperti harga pakan konsentrat yang fluktuatif, keterbatasan bibit unggul, biaya obat dan vitamin, serta lemahnya rantai dingin atau cold chain dari kandang menuju pasar tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu program filantropi. Dibutuhkan sinergi berkelanjutan antara korporasi, pemerintah daerah, dan kelembagaan koperasi agar dampaknya tidak berhenti di tahap seremoni.
"Pemberdayaan peternak sapi perah rakyat memerlukan kombinasi antara dukungan korporasi, kebijakan pemerintah yang konsisten, dan penguatan kelembagaan koperasi agar dampaknya berkelanjutan, bukan sekadar bantuan satu kali," demikian pandangan yang kerap disampaikan kalangan pengamat agribisnis.
Proyeksi dan Sentimen Pasar ke Depan
Dari perspektif makroekonomi, penguatan sektor persusuan sejalan dengan agenda swasembada pangan dan upaya menekan defisit neraca perdagangan produk susu yang nilainya mencapai miliaran dolar AS per tahun. Setiap kenaikan produksi domestik berpotensi mengurangi capital outflow, yakni aliran dana keluar negeri untuk membayar impor bahan baku industri susu olahan. Fundamental pasar domestik juga terbilang kuat, ditopang pertumbuhan kelas menengah, tren kesadaran gizi masyarakat, serta proyeksi permintaan institusional dari program pemerintah.
Meski demikian, terdapat sisi kontra yang perlu dicermati. Daya saing peternak rakyat masih terbebani biaya produksi yang tinggi, sehingga harga pokok susu segar lokal sulit bersaing dengan susu bubuk impor yang lebih murah. Tanpa perbaikan efisiensi menyeluruh, peningkatan kapasitas berisiko tidak diterjemahkan menjadi keuntungan ekonomis. Ke depan, keberhasilan inisiatif seperti yang berjalan di Malang akan diukur dari kemampuannya menaikkan produktivitas, memperbaiki rasio kualitas, dan membuka akses pasar yang berkelanjutan. Sentimen pasar terhadap sektor ini tetap positif, namun realisasinya sangat bergantung pada konsistensi pendampingan dan kebijakan pendukung dari berbagai pihak.
Comments (0)