Brantas Abipraya Perkuat Ketahanan Air-Pangan Nasional Lewat Bendungan Sidan dan Keureuto
Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini meresmikan lima bendungan strategis yang tersebar dari Aceh hingga Nusa Tenggara. Momentum ini menegaskan langkah konkret pemerintah dalam memperkokoh fondasi k...
Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini meresmikan lima bendungan strategis yang tersebar dari Aceh hingga Nusa Tenggara. Momentum ini menegaskan langkah konkret pemerintah dalam memperkokoh fondasi ketahanan pangan dan air di tengah ketidakpastian iklim global. Dua dari lima bendungan vital tersebut, yakni Bendungan Sidan di Bali dan Bendungan Keureuto di Aceh, merupakan hasil kerja PT Brantas Abipraya (Persero). Perusahaan konstruksi milik negara ini menunjukkan perannya sebagai motor penggerak infrastruktur berkelanjutan yang langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Komitmen Infrastruktur Berkelanjutan
Brantas Abipraya menegaskan bahwa setiap proyek yang dikerjakannya tidak semata-mata mengejar target fisik, melainkan mengintegrasikan prinsip pembangunan berkelanjutan. “Kami memahami bahwa bendungan bukan sekadar struktur beton. Ia adalah jantung bagi sistem pertanian, sumber air baku, dan benteng pengendali banjir. Karena itu, sejak tahap perencanaan kami sudah mengedepankan konservasi daerah tangkapan air, efisiensi material, dan keterlibatan komunitas lokal,” ujar Direktur Utama Brantas Abipraya, Sugeng Rochadi, dalam keterangan tertulis. Untuk kedua bendungan tersebut, perusahaan menerapkan teknologi ramah lingkungan seperti pemrosesan limbah konstruksi secara terkendali dan reboisasi di sekitar daerah genangan.
Profil dan Dampak Bendungan Sidan dan Keureuto
Bendungan Sidan yang terletak di Kabupaten Bangli, Bali, memiliki kapasitas tampung sebesar 1,7 juta meter kubik. Dengan volume itu, bendungan ini mampu mengairi lahan irigasi seluas 1.230 hektar yang selama ini sangat bergantung pada pola tanam tadah hujan. Selain memasok air bagi sawah-sawah di Bangli, Bendungan Sidan juga mendukung sektor pariwisata melalui penyediaan air baku untuk kawasan Kintamani yang terus berkembang. Proyek yang menelan investasi sekitar Rp350 miliar ini rampung dalam waktu kurang dari tiga tahun, menjadi bukti efisiensi Brantas Abipraya dalam mengelola proyek skala menengah dengan medan berbukit.
Sementara itu, Bendungan Keureuto di Kabupaten Aceh Utara berdiri sebagai salah satu bendungan terbesar di Pulau Sumatera. Kapasitas tampungnya mencapai 215 juta meter kubik—lebih dari seratus kali lipat kapasitas Sidan—dengan jaringan irigasi primer yang mengairi 8.600 hektar lahan pertanian. Bendungan ini juga didesain multifungsi: meredam banjir musiman yang kerap menggenangi pemukiman di Lhokseumawe, menyediakan air baku bagi kawasan industri Arun, serta berpotensi menjadi pembangkit listrik tenaga air berkapasitas kecil. Total anggaran pembangunannya menembus Rp1,6 triliun, menjadikannya salah satu proyek infrastruktur air paling strategis di koridor barat Indonesia. Kehadiran Keureuto langsung memangkas ketergantungan petani pada musim hujan dan membuka peluang peningkatan indeks pertanaman hingga dua kali dalam setahun.
Sinergi dengan Program Ketahanan Pangan Nasional
Peresmian lima bendungan oleh Presiden Prabowo merupakan bagian dari peta jalan besar menuju swasembada pangan dan kedaulatan air. Selain Sidan dan Keureuto, bendungan lain yang ikut diresmikan adalah Tiro di Aceh, Cibeet di Jawa Barat, dan Mbay di Nusa Tenggara Timur. Kelimanya dirancang untuk memperluas cakupan irigasi teknis nasional sekaligus menambah kapasitas tampung air baku yang kian mendesak di tengah pertumbuhan penduduk dan perubahan iklim. Brantas Abipraya, sebagai BUMN konstruksi dengan rekam jejak puluhan bendungan di seluruh Indonesia, menempati posisi kunci dalam rantai pasok pembangunan ini. “Kami bangga bisa menjadi bagian dari solusi jangka panjang yang tidak hanya mendukung produksi pangan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan menekan inflasi harga pangan akibat gagal panen,” tambah Sugeng.
Data Kementerian Pekerjaan Umum menunjukkan bahwa penambahan lima bendungan mampu meningkatkan luas tanam nasional sekitar 25.000 hektar per tahun dan menyediakan air baku bagi lebih dari 1,2 juta jiwa. Secara ekonomi, proyek-proyek ini menghasilkan efek pengganda melalui penyerapan tenaga kerja langsung hingga belasan ribu orang selama masa konstruksi serta terbukanya akses pasar bagi hasil pertanian yang sebelumnya terisolasi.
Teknologi Modern dan Pemberdayaan Lokal
Branta Abipraya tidak hanya mengandalkan pengalaman puluhan tahun, tetapi juga mengadopsi teknologi terkini. Dalam proses konstruksi Bendungan Sidan dan Keureuto, perusahaan menerapkan Building Information Modeling (BIM) yang memungkinkan visualisasi tiga dimensi, simulasi aliran air, dan deteksi dini risiko kegagalan struktur. Pendekatan ini mampu menghemat waktu pengerjaan hingga 15 persen dan mengurangi pemborosan material. Di sisi sosial, porsi tenaga kerja lokal pada proyek Keureuto mencapai lebih dari 70 persen, dengan program magang dan sertifikasi keterampilan yang diselenggarakan bersama balai latihan kerja setempat. Langkah ini sejalan dengan komitmen Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) Brantas Abipraya yang berfokus pada pemberdayaan ekonomi masyarakat pascakonstruksi.
Antisipasi Perubahan Iklim dan Proyeksi ke Depan
Meski peresmian lima bendungan menjadi capaian signifikan, tantangan iklim yang memicu anomali musim kemarau dan hujan ekstrem menuntut kesiapan lebih lanjut. Brantas Abipraya mengungkapkan tengah mengembangkan konsep bendungan pintar yang dilengkapi sensor pemantauan debit, kualitas air, dan pergerakan tanah secara real-time. Data tersebut akan terhubung dengan pusat kendali daerah untuk mendukung sistem peringatan dini banjir dan manajemen irigasi adaptif. “Kami terus bertransformasi. Infrastruktur air masa depan harus cerdas, tangguh, dan inklusif,” pungkas Sugeng. Ke depan, BUMN ini akan terlibat dalam sejumlah proyek bendungan baru di Kalimantan Selatan dan Sulawesi Tengah, memperluas mandatnya untuk mendorong pemerataan pembangunan berbasis sumber daya air serta memperkuat ketahanan pangan nasional di seluruh pelosok Nusantara.
Baca juga:
Comments (0)